you’ll be fine

Ketika sekolah S2, kata-kata “you’ll be fine” itu seperti mantra ajaib yang sering kita ucapkan ketika kita sedang menghadapi tugas akhir atau ujian. Atau apapun-lah… Kalimat itu terdengar lebih sering diucapkan jaman final weeks dimana orang-orang yang saya temui adalah wajah-wajah sembab karena kurang tidur; atau wajah-wajah sembab karena kebanyakan melihat layar komputer. Kalau keingat jaman final weeks suka lucu juga. Banyak orang-orang yang datang ke kampus pagi hari masih pada pakai piyama; atau bawa neck pillows. Terus kemudian, kalau mau ke Perpus saja ngantrinya minta ampun J. Amit-amit ya…. Makanya, itulah saya kalau disuruh ambil S3 harus mikir 1000 kali. Selain belum tentu ada yang bayarin, juga karena inner force saya sudah lemah… J. Meskipun sesungguhnya, setelah lulus dari S2 saat itu, ingin sekali langsung sekolah lagi. Kalau sekarang? I can’t imagine myself spend another 5 years of my life just sitting in the library desk and reading some serious literatures. HAHAHA.

Kalimat ini sangatlah sederhana. Tapi jaman itu sangatlah sakti. I could hang in there because of those simple words. Maklumlah, ketika S2, saya termasuk troublemakers di batch saya. Ya karena cerita drama saya hampir di-DO karena nilai saya jelek. Dan saya yang kena culture shocked tapi telat tanggap. Saya juga bukan tergolong mahasiswa dengan kemampuan di atas rata-rata. Mediocre banget. Lulus saja saya sudah sangat bersyukur. Bahkan setelah lulus, ya drama masih berlanjut toh? Ya sudah lah, my life is more dramatic than Korean drama. J

Ketika sudah jaman mau wisuda, lines ditambahkan lagi “you’re almost by the end of the tunnel…” Yang artinya, “Ya lu sebentar lagi bakalan bebas….” Tapi ya bener lho, jaman bener-bener mau the end of the tunnel itu, rasanya saya seperti merangkak buat keluar dari lorong yang super gelap… Badan saya rasanya sudah sangat tidak karuan; campuran antara kurang tidur (read: saya kena insomnia parah selama 2 tahun), stress, dan kurang istirahat secara general. Cuma untungnya ya, tubuh saya tidak breakdown waktu itu. Ajaibnya, breaking down-nya nunggu ketika sudah kembali di Indonesia (well, I spent two years to fully recover, and another two years to get stronger).

Kalau ingat saat itu, saya suka senyum-senyum sendiri. Jadi, ketika drama terjadi lagi dalam hidup saya, saya bisa lebih cepat getting myself together. I’ve almost died. I’ve been in a worse situation. Saya tidak menyangka, bahwa drama-drama itu membuat saya orang yang having nothing to lose dan lebih simple dalam banyak hal. Mikir menjadi tidak terlalu complicated. Lebih hidup “untuk hari ini” dan banyak menghilangkan kekuatiran dalam hidup. I live for today. And tomorrow is another day. Jadi benar apa yang dibilang Sting “what doesn’t kill you, only makes you stronger…

Leave a Reply