“Yang Lainnya juga Begini….”

mountain view from Ijen

mountain view from Ijen

Kata ini diucapkan oleh cowok-cowok dodol yang aku temui waktu naik ke Ijen kemarin. Jadi ceritanya, ketika saya naik, saya melihat cowok ini sedang makan wafer sama ceweknya di rute ke arah Ijen. Ehhhhhh… dengan enaknya, dia membuang bungkus wafer di sembarang tempat.

Intriguing, saya langsung tegur si cowok itu. “Eh Mas… Ya mbok dibuang ke tempat sampah….” Di sepanjang jalan menuju ke puncak dari basecamp, banyak sekali diletakkan tempat sampah. Boro-boro membuang sampah ke tempatnya atau at least menyimpannya sampai menemukan tempat sampah, si cowok itu bilang, “Ya yang lainnya juga begini (buang sampah di sembarang tempat….” Seketika, si cowok itu ingin saya lempar dengan dua sepatu yang saya pakai.

Eh enaknya dia ngomong seperti itu. Si Wi yang waktu itu jalan di dekatku bilang, “Kok bisa ya jawab kayak gitu….” Saya juga geleng-geleng saja mendengar jawaban si cowok itu. Ya si Wi bener, kok bisa ya dia jawab seperti itu.

Saya lagi males menanggapi. Kalau saya menanggapi jawaban menyebalkan ini, bisa-bisa saya tidak jadi naik karena ended up kelahi sama si cowok itu. Ohya, ketika di puncak, saya juga ketemu dengan cowok yang mau meninggalkan sampah botol air mineralnya di atas. Mulut saya seperti biasa, langsung bilang, “Eh, bawa turun dong. Jangan ditinggal disini…..”

ijen-3

Saya seringkali ngelus dada melihat hal seperti itu. OK, kita beramai-ramai memadati objek wisata dengan pemandangan alam yang indah. Tetapi kemudian orang-orang ini meninggalkan sampah sembarang tempat. Kita mungkin pernah membaca banyak cerita orang-orang yang membersihkan gunung sampah di tempat pendakian seperti Rinjani atau Semeru karena para pendaki yang tidak bertanggung jawab (membawa sampah-sampah mereka turun). Baik itu botol air mineral, bungkus mie instan, dan sebagainya. OK, kalau yang mereka tinggalkan adalah sampah-sampah organik, mereka akan bisa mengurai sendiri. Tapiiiiii… yang mereka tinggalkan adalah sampah-sampah plastik yang sampai 100 tahunpun juga tidak akan terurai.

Saya juga suka gemes kalau melihat penumpang angkot yang membuang sampah dari balik jendela angkot ke jalanan. Atau, dengan seenaknya meninggalkan sampah di dalam angkot. Tidak jarang saya menegur orang yang melakukan itu. Saya tahu saya sering dipandang aneh. Tapi eh… memangnya saya pikirin. Dan, jangan salah pernah saya menegur seorang mahasiswi yang dengan seenaknya membuang sampah sisa dia makan cilok di dalam angkot.

Saya tegur si mbak.. Jawabnya gampang, “Ah, ga apa-apa kali mbak buang disini. Nanti saya sopirnya juga dibersihkan…..” Saya agak paksa cewek itu untuk mengambil sampahnya. “Eh, jangan hanya bisa makan doang dong… tanggung jawab lah.. Anda ini mahasiswa lho….” Dia diam saja pada akhirnya.

ijen-1

Sebenarnya, tidak hanya perilaku membuang sampah yang bisa membuat saya geleng-geleng hebat. Tetapi juga menyetir sepeda motor di trotoar dan berlawanan arah. Pernah suatu pagi saya sedang menunggu angkot di depan sebuah universitas swasta berbasis agama di dekat rumah saya. Dengan enaknya para mahasiswa naik ke trotoar untuk masuk ke dalam lokasi kampus. Letak pintu masuk kampus itu ada di sebelah selatan. Sedangkan mereka yang melawan arus itu umumnya berasal dari arah utara. Ada puter balik sebenarnya, tetapi letaknya agak jauh. Khas orang Indonesia, malas mencari “jalan yang semestinya”, mereka memakai jalan pintas. Melawan Arus. Karena arus di jalan itu cukup ramai, orang biasanya naik ke trotoar.

Iseng saya sedang tinggi saat itu. Saya suruh beberapa mahasiswa untuk turun dari trotoar. Ada yang manut (dan langsung turun). Tetapi ada yang super ngeyel. Nah, yang super ngeyel ini lucu banget. Dia memakai masker ketka itu. Ketika melihat saya tetap diam terpekur di tengah trotoar dia turun dari sepeda motornya. Dia mencopot maskernya. Cewek. Berjilbab. Tidak terima dengan apa yang saya lakukan. Ngomel-ngomel. Saya ditanya, “Mbak ini siapa?” Saya jawab dengan lempengdotcom “Saya pemilik trotoar ini….”

Terus saya tanya balik ke dia, “Anda mahasiswi disini?” “Iya.” jawabnya. Lalu, mulailah saya berceramah. “Tahukah Anda mbak… Kalau ini trotoar dibangun bukan untuk kapasitas sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Tetapi untuk para pejalan kaki. Tahukah ANDA MBAK… Kalau apa yang ANDA lakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, usia hidup trotoar akan berkurang. Yang harusnya bisa lima tahun jadi tiga tahun…. DAN, TAHUKAH ANDA, kalau ini terjadi, pemerintah kabupaten harus menganggarkan apa yang sebenarnya BISA DICEGAH,” Dia diam. Kemudian, sebagai kalimat penutup sekaligus meluapkan kejengkelan saya, saya bilang, “Anda ini mahasiswa, otak itu letaknya di kepala, bukan di dengkul….” Dia tambah diam. “Sudah, saya turun dari trotoar dan gunakan jalan aspal….”

Si Mbak langsung turun dari trotoar. Menuntun sepeda motornya ke arah EXIT kampus. Dan, meminta satpam untuk memperbolehkan dia masuk lewat pintu keluar. Sama satpam diperbolehkan. Dari kejauhan saya melihat satpam mengacungkan dua jempol tangannya sambil tersenyum ke arah saya.

Grrrrr….

 

PS: masalah trotoar nyaman inilah yang bikin saya pengen pindah ke negara Skandinavia, wkwkwk. 🙂

Leave a Reply