yang bikin saya iri dengan washington dc

Yang bikin saya iri tingkat dewa terhadap Washington DC tidak hanya trotoar yang nyaman buat jalan ataupun mass-transport yang tersedia, tetapi juga mungkin bagi orang untuk mengendarai sepeda disana. Mungkin Washington DC belum seperti Portland atau Belanda yang menjadikan sepeda “mainstream”, tetapi upaya ini sudah dimulai. Tidak saja dengan disediakannya capital bike-share yang ada sejak 2010 tetapi juga ketersediaan jalan-jalan alternatif (greenways) seperti Rock Creek ataupun C & O Canal.  Dengan greenways ini, memungkinkan para pengendara sepeda untuk mencari rute yang jarang ada mobil. Bahkan, tidak ada sama sekali kalau itu di greenways. Sebab, greenways biasanya hanya dikhususkan untuk para pejalan kaki ataupun para joggers. Banyak greenways di DC, menghubungkan dengan wilayah-wilayah sub-urban lainnya seperti Maryland dan Virginia.

dc bike-share

dc bike-share

Sebenarnya, tren untuk “menyepedakan” masyarakat ini telah menjadi bagian dari urban planning di banyak kota di Amerika Serikat. Misalnya di Madison, Wisconsin yang juga telah memiliki bike-share seperti di Washington DC ataupun di St. Louis Missouri.

Di St. Louis, saya pernah melakukan wawancara dengan Todd Antoine direktur perencanaan Great River Greenways (GRG) tentang effort yang dilakukan ini. Tidak mudah ini dilakukan karena di St. Louis banyak sekali entitas-entitas yang disatukan. Seperti diketahui, St. Louis adalah sebuah kota yang paling terfragmentasi di Amerika Serikat – dengan wilayah yang terbagi-bagi menjadi wilayah lebih kecil lagi. Ketika saya balik dari St. Louis, telah banyak greenways yang dibangun, sedang, dan akan dibangun lagi. Dua diantara greenways itu, ada di dekat tempat tinggal saya.

Targetnya, seluruh wilayah di greater St. Louis akan terhubung dengan greenways. Secara implisit, ada keinginan untuk pelan-pelan mengubah St. Louis dari “kota nyetir” menjadi kota sepeda. Entah itu kapan baru bisa terwujud.

st. vincent greenway, st. louis

st. vincent greenway, st. louis

Yang seperti ini, saya ngiri sekali. Saya selalu membayangkan, kalau pemerintah daerah kita sudah mulai berpikir jauh ke depannya. Bagaimana menciptakan sebuah kota yang liveable – in term of lebih ramah bagi pengendara sepeda, pejalan kaki, atau ketersediaan alat transportasi publik yang layak. Karena ketidakjelasan dalam meregulasi dan merencanakan sebuah kota yang liveable ini, banyak sekali alasan yang dipakai orang untuk menjustifikasi untuk penggunaan kendaraan-kendaraan pribadi. Orang-orang di kota besar yang jumlah kendaraan sama dengan jumlah orang atau lebih di dalam rumah itu. Beberapa hari pernah sedikit berdebat dengan teman tentang tidak maunya dia untuk sekedar jalan atau naik angkot misalnya. Alasannya, akan bau. Apa yang dia sampaikan mungkin mewakili banyak kalangan Indonesia. Tetapi, semakin mereka tidak mau naik angkot dan memilih naik kendaraan pribadi, akan membuat polusi semakin parah. Tetapi, tetap saja ada dalih karena ketidakcukupan sarana yang memadai.

Ini akan seperti debat ayam atau telur.

Kalau menurut saya, jika pemerintah mau jelas membuat perencanaan maunya seperti ini, mau tidak mau, masyarakat akan nurut. Protes di awal wajar. Itu adalah sisi lain sebuah kebijakan. Tetapi, asalkan kebijakan itu mampu memberikan sebuah potensi benefits bagi masyarakat luas, pasti masyarakat akan mendukungnya. Yang penting pemerintah tegas, regulasi benar-benar ditegakkan, dan dikelola secara professional. Jangan asal bikin rencana dan regulasi terus kemudian dilanggar. Juga, masih dibutuhkan waktu untuk mengubah pola “mau nyaman” yang sudah tertanam pada bangsa ini sejak 20 tahun terakhir sejak tingkat pendapatan masyarakat mulai naik dan orang sudah tidak mau susah payah dan berpanas-panas ria. J

eva

Seperti yang saya alami hari ini. Pertama kali saya mencoba naik Trans Sidoarjo yang sudah beroperasi sejak semingguan ini. Ongkosnya cukup murah,  Rp. 5.000,- dari Porong sampai dengan Terminal Bungurasih. Bis ini menurut saya time-cost efficient. Eh, lebih ke time-efficient sebenarnya. Karena ongkos yang saya keluarkan untuk mencapai kantor sama saja, Rp. 11.000,- sekali jalan. Biasanya, saya naik angkot dari jalan besar sampai ke Pasar Larangan Rp. 4.000,- dan kemudian disambung dengan angkot kuning ke Surabaya Rp. 7.000,-. Kalau dengan bis ini, selain membayar Rp. 5.000,- sampai ke Bungurasih, saya juga harus membayar Rp. 6.000,- untuk bis kota dari Bungurasih sampai dengan kantor.

Time-efficient? Ya, tentu saja. Saya bisa melakukan penghematan waktu yang luar biasa banyaknya. Dari satu jam lebih (kadang bisa 1.5 jam kalau lagi macet parah) untuk sampai kantor menjadi sekitar 45 menit. Karena bis ini lewat tol, dia jalan dengan lancar dan cepet sebab tidak melewati titik-tiitk kemacetan di Buduran-Gedangan. Pun, bebas dari ngetem mencari penumpang karena bis ini mengambil penumpang dari titik-titik halte yang ada.

Bis ini juga nyaman. Ada AC dan lumayan bersih (semoga seterusnya bersih dan nyaman, hehehe). Selama perjalanan, saya bis membaca buku dengan nyaman. Hal yang susah saya lakukan kalau naik angkot. Panas dan macet akan mengurangi kenikmatan membaca buku, hehehe. Alasan. J

bike madison

bike madison

Tapi sekali lagi, seperti layaknya sebuah kebijakan, ini menerima kontra dari masyarakat, terutama sopir angkot. Kalau digabung, angkot kuning dan bison yang lewat di jalur Sidoarjo-Surabaya hampir mendekati angka seribu. Mereka merasa dirugikan karena bis melewati beberapa rute mereka (Porong sampai dengan Ramayana). Bis dianggap mengambil rute dan penumpang mereka. Terutama Bison yang dari Porong ke Bungurasih. Kalau angkot kuning, sebenarnya banyak yang tidak sampai di Porong. Well, kalau ditanya pendapat pribadi saya tentang angkot-angkot ini, angkot kuning masih sangat OK-lah. Tetapi kalau Bison, alamaakkk.. kalau tidak terpaksa saya malas naik. Banyak penumpang merokok. Suka menarik tarif seenaknya sendiri. Kadang menurunkan penumpang di tengah jalan. Tidak aman juga karena banyak copet disana. Saya malas sekali naik Bison.

Berkali para sopir angkot melakukan demonstrasi. Gosipnya, mereka juga akan melakukan demonstrasi lagi. Tidak bisa disalahkan karena “sumber pendapatan” berpotensi berkurang, dan mungkin juga mereka bisa kehilangan pekerjaan ketika penumpang sepi. Tapi dari sisi dampak panjang, ada potensi time-cost efficiency. Dan ini sebuah langkah maju untuk penyediaan transportasi massal yang terjangkau.

Sangking jengkelnya para sopir angkot, mereka menyalahkan bupati Sidoarjo Saiful Illah karena mengeluarkan kebijakan ini. Karena Abah Ipul – panggilan akrab Saiful Illah – ke Pilkada 9 Desember 2015, sopir angkot yang kapan hari saya temui, bersumpah tidak akan memilih Abah Ipul. “Coba, ada berapa ribu sopir angkot.. belum keluarga dan para tetangga.. Kami akan bergerak….” Saya bukan pendukung Abah Ipul, tapi terobosan bis ini paling tidak bisa memberikan alternatif bagi para konsumen untuk memilih sarana transportasi yang mereka mau.

 

Leave a Reply