What Matching Colors Really Are

 

dc-71

Sering kita mendengarkan orang berbicara tentang “matching colors” atau warna yang cocok. Warna yang cocok atau serasi ada dimana-mana. Ketika kita memilih baju. Ketika kita memilih perabotan rumah tangga. Ketika kita memilih warna cat rumah. Ketika kita memilih sepatu. Ketika kita berdandan. Dan, masih banyak lagi.

Ketika seorang ingin melakukan decluttering dan memutuskan untuk memiliki minimalist (capsule) wardrobe, pasti sarannya, “Miliki baju-baju yang warnanya cocok….”

Errrr.. Jadilah saya tiba-tiba kemudian berpikir. Ah, benarkah ada sesuatu yang disebut dengan “matched colors.” Ya, kalau orang secara simple pasti bilang, “Hitam warna netral. Bagus dipakai sama warna saja….” Bicara tentang warna, saya mengalami banyak “evolusi.” Sekitar 10 tahun yang lalu, saya hanya mengenal tiga warna dalam hidup saya “hitam, putih, dan pastel.” Sampai satu rekan dari Jakarta yang ketika itu menjadi tim dalam sebuah proyek bertanya, “Kamu buta warna ya?” Hah? Maksudnya? “Karena aku hanya tahu kamu pakai warna hitam, putih, dan pastel…” hahahaha. Memang, di tahun itu, semua warna baju di almari saya adalah ketiga warna itu. Hitam. Putih. Pastel (krim). Entah mengapa kemudian saya tiba-tiba menjadi tergila-gila dengan warna hijau (khususnya tosca). Koleksi warna saya tiba-tiba bertambah satu: hijau. Jadi, banyak barang-barang saya juga berubah warna: tas, baju, casing HP, dan sebagainya. Dalam sekejap, saya tidak lagi buta warna. Kata teman yang sama, “Wah, kamu ada perkembangan menarik ya. Hidupmu lebih “colorful” sekarang!”

Ketika saya tinggal di US, satu perubahan terjadi disana. Saya melihat warna-warna baju yang colorful dan lucu. Ah, tiba-tiba saya suka dengan bright colors: pink, shocking pink, biru turquoise ngejreng, orange ngejreng, dan sebagainya. Pokoknya yang serba ngejreng, saya tiba-tiba saja suka. Di saat yang sama, tiba-tiba saya mulai meninggalkan hitam, putih, dan hijau. Saya menjadi “terkenal” karena pilihan-pilihan warna ngejreng saya yang warna-warni. Karena kecintaan saya pada pink ini, saya sampai-sampai memiliki kacamata berwarna pink yang kemudian menjadi semacam “khas” saya. Kacamata yang “ngehit” itu lhooooo….

Lalu, kemudian, ketika saya memutuskan untuk menyederhanakan warna di almari saya, tiba-tiba saya kembali mencintai warna hitam dan putih. Kemudian berpikir juga, “Sudahlah, kayaknya saatnya kembali ke classic black and white. Tapi ah tidak bisa begitu… Lalu bagaimana dengan warna-warna ngejreng koleksi saya. Saya kan masih suka….”

Lalu, gimana kalau warnanya tidak cocok???? Tabrakan dong jadinya?

Eitsssss.. Tiba-tiba saja terpikir, bukankah semua warna itu bagus? Bukankah semua warna ditemukan itu cocok? Hanya tinggal bagaimana kitanya saja? Pilihan warna hanya masalah preferensi saja. Kamu lebih pilih yang mana? Kalau saya tiba-tiba pakai baju warna orange dan biru ngejreng, tidak masalah kan? Semua warna bagus. Saya suka warna-warna itu kok? Mengapa harus menggandengkan biru dengan biru, orange dengan kuning, atau dengan warna-warna yang senada. Tidak ada yang salah kan ketika kita memadukan ungu dengan biru, atau pink dengan biru? Hanya pada masalah kita percaya diri atau tidak.

Kemudian, mulailah pada percobaan saya memakai baju atau apapun lah sesuai dengan keinginan dan mood saya kala itu. Tidak pernah ada keluhan masalah warna itu. Tapi memang benar sih, kalau warna yang paling dominan dalam barang-barang milik saya adalah putih, merah/pink, dan orange. Saya punya hitam, tetapi saya kurang sreg dengan warna-warna gelap lainnya seperti biru donker atau ungu gelap. Saya sebenarnya suka hitam. Hanya saja kelemahan warna ini satu: panas sekali kalau suhu sedang tinggi-tingginya. Makanya, selama September-November ini, warna hitam (terutama atasan), ditaruh di almari dulu. Nanti kalau sudah cooling down, bisa dipakai lagi.

 

Leave a Reply