what it is like being indonesian

tarian minang

I had not given in so much thought till I lived in the US for two years… When I lived overseas, everything was so much clearer and I had less bias to seeing it. And started to think what it is like being an Indonesian, and how can define myself as Indonesian – apart from that I’m having my beloved green Indonesian passport. 🙂 

Saat ini, saya merasa benar-benar harus berterima kasih kepada founding fathers kita yang berhasil menyatukan orang-orang yang berbeda-beda suku, budaya, dan agama dari Sabang sampai Merauke (meskipun tidak sedikit “penyatuan” ini sedikit berbau “paksaan”). Tapi well, itu sepertinya sangat lazim di dalam sebuah pembentukan nation-state. Kadang berpikir, kok bisa ya para jongen (Jong Ambon, Jong Celebes, etc), itu berkumpul dan berpikiran “Ya sudahlah, mulai saat ini kita bersatu..” ketika Sumpah Pemuda pada 1928. Padahal memang sebelumnya benar, bahwa tidak ada yang namanya Kerajaan Indonesia. Kerajaan Nusantara juga tidak ada. Yang ada hanyalah kerajaan-kerjaan kecil terpisah-pisah dan terpecah-pecah yang terbesar di tanah yang memiliki puluhan ribu pulau ini.

Tari Piring

Tari Piring

Flash forward… Akhirnya ya kita menjadi satu bangsa,bangsa Indonesia. Bicara dengan bahasa Indonesia. Meskipun pada akhirnya jarang ditemui orang yang menggunakan Bahasa Indonesia baku atau lebih dikenal dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) kecuali di surat kabar seperti Kompas atau para penyiar berita di TVRI. Lainnya, orang Indonesia umumnya berbicara dengan bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa lokal atau bahkan bahasa slang yang setiap saat pasti selalu saja ada yang baru.

Menjadi Indonesia itu seru dan asyik sebenarnya (terlepas beberapa hal yang super menyebalkan). But it’s asyik overall. Ah, mau tahu mengapa sangat asyik???

Food will always bring people together. Ah, inilah yang paling asyik dari orang Indonesia. Budaya makanannya. Bisa bayangin berapa ban yak makanan khas dari Sabang sampai Merauke. Kita sebutin masakan dari Sumatera (Aceh, Padang, Palembang, etc), mungkin satu halaman ini akan habis. Belum lagi Jawa dengan deretan menu nasinya: nasi pecel, nasi liwet, nasi gudeg, nasi campur, etc. Ditambah juga makanan Bali dengan ayam betutu dan lawarnya. Belum lagi babi panggangnya. Jangan lewatkan juga Lombok dengan ayam Taliwang dan segala jenis plecingannya. Juga masakan Manado dengan masakan pedas-pedasnya. Ini belum lagi masakan fusion dari generasi peranakan China.

Mie Razalie, Banda Aceh

Mie Razalie, Banda Aceh

Waduh, benar-benar satu lembar tidak akan cukup kalau membahas masakan Indonesia. Nah, ketika orang Indonesia berkumpul, pasti akan selalu ada banyak makanan dan tentu saja enak-enak. Sehat nomor sekian dulu lho ya.. Yang penting enak… :).

look how delicious they are!!!! :D

Padang food

The more the merrier. Orang Indonesia itu suka beramai-ramai. Kesana kemari lebih enak kalau banyak temannya. Kalau kemana-mana sendirian (seperti daku ini), sering dianggap sangat aneh. Kalau kemana-mana beramai-ramai itu, seringnya memang orang Indonesia. Dan, hebohnya minta ampun. Kalau cerita-cerita bisa benar-benar heboh begitu. Kalau dalam kasus saya sih, kalau bersama dengan geng, selalu saja ada cerita-cerita heboh yang tidak pernah habis. Meskipun ketemuan lima jam juga tidak habis-habis ceritanya. Karena terbiasa dengan heboh di Indonesia, ketika di Thailand dengan santainya tetap heboh which dipandang orang-orang disana agak “aneh”. Sampai kemudian temanku bilang, orang disana tidak terlalu heboh. Benar, orang disana lebih berbicara dengan low voice. Hihiihhi… Sejak saat itu, saya kalau tidak bersama dengan gang saya, belajar untuk tidak heboh. Karena prinsip the more the merrier ini, sangat jarang melihat orang Indonesia yang solo traveling. Selalu saja ada temannya. Tidak masalah sih. Asyik saja… :).

selfie bo

A Must Photo. Bulan yang lalu ketemu teman yang sedang visit ke Indonesia. Sebelum berangkat, dia sempat men-drill dua anaknya untuk siap selalu difoto. Karena di Indonesia, peristiwa apapun harus selalu diabadikan dalam foto. Bahkan sekarang, orang ziarah ke makan saja juga difoto. Jadi jangan heran, kalau selfie stick laku seperti kacang goreng. Biarpun tidak ada orang lain yang mau motokan, mereka tetap saja bisa berfoto… dengan bantuan selfi-stick. :).

– Friendly (Ah, sometimes too friendly sampai kepo). Iya benar.. Kita ini memang friendly kok. Kita orang Indonesia juga mudah hapal dengan orang. Baik jaman SMP, SMA, atau kuliah, kita tidak hanya kenal dengan teman-teman sekelas atau seangkatan kita saja, tetapi angkatan-angkatan di bawah dan di atas kita. Kita juga tahu mereka itu siapa dan gosip-gosip hangat. Ah, wasting time sih.. tapi itulah bagaimana kita besar. Di dalam lingkungan yang selalu mesam-mesem dan kepo. Kadang ada baik dan ada jeleknya. Jeleknya kalau keponya berlebihan deh. Kalau dalam batas wajar, sebenarnya juga tidak. Nah, jaman kuliah di US, kadang heran, kalau banyak teman-teman sekelas (para bule itu) yang tidak kenal sesama bule. Lhoh, piye toch iki? Nah, karena saya terbiasa dengan kebiasaan di Indonesia yang “ngapalin” teman, jadi tetap saja hapal teman-teman sekelas. Meskipun di tiap mata kuliah kadang-kadang temannya juga ganti-ganti. Terus kadang-kadang para bule itu suka heran sama saya kalau saya masih ingat detail-detail cerita yang pernah mereka ceritakan saya sama. Lhoh… Tambah dikira aneh jug kan.. eh enggak ding, malah mereka merasa diperhatikan karena saya ingat cerita mereka. Padahal, selain karena saya orang “Indonesia”, saya juga dikarunia “bakat” ingat cerita remeh-temeh tentang manusia. Kalau cerita-cerita soal kuliah umumnya sekedar lewat deh… :)).

papua-me

Shopping Goers dan Budaya Oleh-Oleh. Ini yang jadi sasaran banyak guide di berbagai tempat tujuan wisata terkenal di dunia seperti Shanghai atau Paris. Kalau turisnya kebanyakan orang Indonesia, pastilah diajaknya di tempat-tempat belanja. Kalaupun tidak menjadi tujuan utama, agenda belanja selalulah ada. Kalau di tempat oleh-oleh, mereka pasti kalap. Kadang, mereka tidak hanya membeli buat diri mereka sendiri, tetapi buat keluarga, tetangga, teman kantor, dan sebagainya. Pokoknya, semuanya dapat.

Where’s the Rice???. Bagi orang Indonesia, kalau tidal makan nasi itu belum makan. Well, meskipun sekarang mulai banyak orang Indonesia yang menghindari nasi (dan karbo), tetapi nasi masih menjadi bahan makanan utama. Harga beras naik, bisa heboh deh. Di luar negeripun, mereka pasti mencari nasi. Dan, kalau kemana-mana bersama dengan rombongan Indonesia, selalu saja mencari masakan Indonesia. Atau kalau tidak ada, ya masakan Malaysia atau Thailand-lah. Agak-agak sejenis.

crystal clear water of Kuta Beach, Lombok, NTB

crystal clear water of Kuta Beach, Lombok, NTB

Nah, itulah what’s like being an Indonesian. I might miss things. But I guess, I’ve mentioned the majority characters of Indonesian. But anyway, a part from a lame-duck government, I love being Indonesian. I love to live in a country where the most beautiful beaches, mountains, and other sceneries. Maybe, God had really a good and sentimental mood when he’s creating Indonesia. 🙂

 

2 comments

Leave a Reply