What I was Thinking while I was doing Chan-Chuang

Wedi Ireng6

Bagi saya, chan chuang adalah latihan yang super beraaaaaaatttt. Meskipun, setimpal sekali dengan besarnya manfaat yang diperoleh. Chan chuang juga sangat membosankan. Bagaimana tidak, dalam beberapa waktu (terserah mau berapa lama; 15menit, 30 menit, sejam, dua jam, dan seterusnya), yang kita lakukan adalah berdiri diam dengan posisi kuda-kuda dengan kedua belah tangan diletakkan di depan dada.

Selain membosankan juga sangat berat. Kita harus mempertahankan posisi kaki tetap kuda-kuda dan tangan tetap di depan dada. Semenit dua menit tidak apa-apa. Menahan tangan juga sangat berat. Ibaratnya, di atas tangan kita seperti diletakkan tempayan berat. Dan, posisi kita seakan-akan merangkul pohon yang super gedhe… hihihihi.

Chan-chuang 10 menit rasanya seperti 100 menit. J. Beneran, ini tidak bohong. Iman saya memang sering goyah kalau chan-chuang. Ada saja alasan untuk membatalkannya. Atau, pikiranku selalu melayang kemana-kemana. Saya benar-benar kagum sama kakak perguruan yang bisa melakukan posisi ini selama 3 jam!!! Iyes, tiga jam. Dan, itupun dia naik ke batu dengan ukuran batu setengah dari kakinya. Jadi, kakinya menggantung gitu. Gila, saya benar-benar tidak membayangkannya. Hahahaha.

Chan chuang tidak hanya memperkuat kuda-kuda (kaki), tetapi juga bisa menjadi terapi bagi tubuh kita. Konon, chan-chuang bisa “mencari” sendiri tubuh yang tidak beres dan kemudian “menyembuhkannya.” Ketika kita melakukan posisi ini, akan terasa bagian tubuh mana yang sakit. Biasanya disitulah masalahnya. Misalnya di dengkul, perut, dan sebagainya. Biasanya, ketika melakukan ini angina jahat akan keluar dari tubuh. Rasanya gila, melegakan.

Tidak enak badan dan flu ringan bisa disembuhkan dengan posisi ini. Saya sering membuktikannya. Pernah suatu ketika saya naik pesawat ke Medan. Entah mengapa sampai dengan turunpun telinga saya masih budheg. Sudah banyak hal saya lakukan, seperti menguap. Tetapi sama saja hasilnya. Bahkan sudah saya pakai tidur. Telinga saya masih budheg. Kebas, saya iseng saja chan-chuang. Tidak sampai tiga menit, kendang telinga sudah kebuka. Hiihhihi.

Nah, karena membosankan ini, pikiran saya sering melayang-melayang kesana-kemari kalau chan-chuang. Meditasi tidak separah ini booo. Ini beberapa hal yang sering saya pikirkan ketika pikiran saya melayang.

  1. Makan yang enak. Bisa tiba-tiba mikir. “Eh, tiba-tiba ingin makan di café itu…” “Kayaknya minum rocky roads enak….” “Eh, kayaknya asyik habis latihan ke Brothers Union lagi deh… “ “Atah depot Wijaya ya?” Atau mungkin Bon Ami ya? Pokoknya “pikiran-pikiran kotor” it uterus datang dan pergi mengganggu konsentrasi saya. Sesekali saya membetulkan kaki yang mulai gerak, atau tangan yang mulai terjatuh. Soalnya, habis chan-chuang pasti dilanjutkan dengan latihan-latihan lainnya yang lebih fisik yang bisa bikin keringat berderai-derai. Dan, aku pasti akan sangat kelaparan setelahnya. Makanya, yang ada di otak adalah makanan. Serius, renang itu bikin lapar. Tapi latihan sama susuk juga berujung dengan lapar. Sesekali berpikir, “Aduh, kenapa tadi ga mampir Toko Kue Bu Dien ya?” wkwkwk. Hadeuhhhhh… kelemahan saya terbesar: makanan. J)
  2. Menulis email buatmu. Iya, buatmu. Buat siapa lagi, hehehe. Sebuah email yang sangat panjang. Yeah, walaupun, kamu akan membalasnya bulan depan, hehehe. Tapi sumpah, aku berpikiran untuk menuliskan sebuah email untukmu. Kita lama tidak ngobrol, dan aku kangen ngobrol sama kamu. Sumpah. I know it’s nothing, but it means more than so many somethings to me. Tapi, sampai saat ini, belum juga aku ketik emailnya, wkwkw. Ya sudah, biarlah… Nanti, email panjangnya pasti aku ketik dan aku kirim padamu.

Tapi, kapoklah saya untuk chan-chuang? Ah, tentu tidak!

Leave a Reply