Washington DC’s Epic

look at those happy faces!

look at those happy faces!

Ah, selalu saja ada epic. Karena kali ini jalanya dengan banyak orang, maka epiknya lebih banyak. Yes, kita traveling ber-20 orang. Jadi keingat ke Washington DC 2008 yang lalu barengan dengan tim RIA.

Berjalan dengan 20 orang yang berbeda-beda baik umur, latar belakang, dan tentu saja isi kepala yang berbeda, ngeri-ngeri sedap. Maunya tidak ada yang sama. Tapi, dibanding ngerinya, lebih banyak sedapnya.

  • The one and only Asian Café: café ini terletak di seberang Melrose Hotel di Pennsylvania Avenue. Ceritanya, kita sampai hotel sudah malam sekali. Dan, sebagian besar dari kita kelaparan. Termasuk aku juga sih. Tapi karena sudah terlalu malam, aku memutuskan tidak usah makan, bikin tidak bisa tidur. Nah, karena sampai sudah mala mini, banyak café dan restoran sudah tutup. Hanya Asian Café ini saja yang masih buka. Jadilah Asian café ini savior buat orang-orang yang kelaparan. Singkat kata, Asian Café kemudian menjadi trending topik diantara kita semua. Mulai dari semua masakan rasanya ‘sama’ dengan menu apapun yang kamu pesan. Eh, gossip punya gossip, ada kecurigaan café ini memakai MSG untuk semua masakannya. Sehingga, masakan apapun rasanya sama, hehehehe. Padahal lho…. Di café itu, ditulis tempelen, “TANPA MSG.” J. Nah, selain gossip MSG, warung ini juga terkenal dengan porsi kulinya. Satu piring nasi goreng bisa buat dimakan tiga orang! Tiga orang dewasa Indonesia lhoooo… Coba bayangkan betapa banyak nasinya. Selama di DC, saya merasakan nasi goreng dari tempat legendaries di malam terakhir saya. Yah, rasanya memang begitulah. Kayaknya memang ada sedikit MSGnya, hehehe.
nasi goreng Asian Cafe is among other menu

nasi goreng Asian Cafe is among other menu

  • Judge B, Jogging, & Sepatu Elvis. Judge sangat demen jogging. Bahkan, dari saat ketika transit di Hongkong 5 jam, dia tidak mau duduk dan diam. Sebaliknya, dia jalan keliling bandara. Hebatnya, dia jalan sambil membawa tas ransel. Hahahah. Kalau saya mah ogah.. Sesuka-sukanya saya jalan, tetapi ya ogah kalau jalan sambil bawa tas ransel yang ada laptopnya. J. Anyway, diantara kami, Jugde memang rajin jogging diantara kami. Suatu ketika, dia sampai mengusulkan acara jogging sama Pak D yang jadi “ketua rombongan” agar jogging dijadikan program bersama-sama di pagi hari. Selain Judge, ada Busan juga yang demen jogging. Sayangnya, tidak pernah ketemu kalau lagi sama-sama jogging. Selama jogging disana, malah ketemu sama si Judge. Waktu itu, aku lagi jogging sama Dio. Judge sangat semangat sekali jogging, meski hanya pakai sandal. J Memang, satu keunggulan Georgetown yang sangat saya sukai adalah banyaknya tempat jogging. Ada C & O Canal, Capital Cresent, Rock Creek, atau Washington Harbour. Inilah yang paling saya suka dari Georgetown, greenways yang melingkarinya.
C & O Canal

C & O Canal

  • Pak Madjid, Sagu, dan Pesta di Bandara. Pak Madjid adalah teman yang kami yang sangat unik. Bapak yang asli dari Maluku Utara ini makanan sehari-harinya adalah sagu. Di pre-departure orientation – konon – si bapak bertanya apakah boleh bawa sagu. Karena custom yang kadang hanya Tuhan yang tahu, tidak disarankan membawa. Tapi, kalau mau membawa ya tidak apa-apa. Kalau diminta oleh custom buang, ya harap dibuang. Akhirnya, si bapak mencoba untuk membawa sagu. Syukurlah lolos!!! Nah, di hari kita kembali ke Indonesia, si bapak membawa sagunya ke dalam kabin. Kita penasaran sekali sama rasa “sagu Pak Madjid.” Jadilah, kita berpesta sagu yang dicelupkan di hot chocolate punya Starbucks di bandara Reagan. Sampai, ada ibu-ibu petugas yang tersenyum-senyum melihat ulah kita. Eh, selain membawa sagu, Pak Madjid juga membawa abon ikan. Berpestalah kita dengan abon ikan juga. Ibu-ibu petugas di bandara akhirnya mau mencicipi abon ikan juga. J Dan, sagu Pak Madjid memang enak dan mengenyangkan. Eh, abon ikannya juga enak lho, gurih. Masih terasa kalau abon itu dibuat ketika ikannya masih segar. Kata Pak Madjid, abon tuna itu bikinan istrinya. Pantesan, enak.. dimasak dengan cinta kasih. 🙂
pesta sabu eh sagu di bandara

pesta sabu eh sagu di bandara

  • Kabul dan Celana Kotak-Kotak. Kita serombongan (mungkin karena jumlahnya banyak), dibagi menjadi dua gedung – meskipun menginap di hotel yang sama. Satu di main building Georgetown Suite, satunya di Harbour Building. Nah, mereka yang ada di Harbour ini selalu saja penuh dengan cerita aneh-aneh. Salah satunya, cerita tentang Kabul alias Kakek Bugil. Ceritanya, ada bapak-bapak bugil yang tertidur di hallway. Bugil boooo…. Mungkin orang yang sedang mabuk. Tidak lama setelah “ditemukan” si Kabul ini, alarm tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Kontan, semua penghuni di gedung sebelah pada berhamburan keluar. Ehhhh… ternyata, salah seorang teman kami meninggalkan pintu kamarnya terbuka. Dengan mudahnya si Kabul masuk ke dalam kamar dan mengambil celana si teman dan dikenakan olehnya. Eh, kinda weird story, isn’t it?
our great accomodation, Georgetown Suite!!!

our great accomodation, Georgetown Suite!!!

  • Makanan di Pesawat. Eh, siapa yang tidak setuju kalau makanan di pesawat memang tidak enak? Terutama untuk maskapai-maskapai punya Amerika Serikat. Kalau punya Asia masih “lumayan” bisa dimakan. Untuk mencapai dan cabut dari AS, kami menggunakan Delta Air. Karenanya, saya sering mensiasati dengan membawa makana kering naik ke pesawat. Buat jaga-jaga makanan yang disajikan tidak bisa dimakan. Ketika pesawat ke Seattle berangkat dari Hongkong, masakan masih “agak lumayan” sih. Mungkin karena cateringnya ada di Hongkong. Tetapi, yang baliknya dari AS (berangkat dari Detroit), tidak enaknya minta ampun. Palingan saya makan saladnya doang. Untuk makanannya meh sekali, hehehe. Selain itu, ketika kami transit di Detroit, we did not have much choice buat makan siang. Akhirnya, sebagian besar dari kami makan di Popeye. Saya pesan ikan, tapi gay akin itu memang “benar-benar” ikan atau bahan yang lain, hihihi. Ngomong-ngomong tentang makanan di pesawat, ada sedikit cerita lucu. Saya sebenarnya sudah pede kalau ketika pesan tiket, menu sudah request (biasanya begitu untuk rombongan Indonesia), moslem meal. Ternyata, tidak ada request. Ya sudahlah , tidak apa-apa. Di salah satu menu yang ditawarkan dalam penerbangan ke Seattle, memang ada menu B2. Hanya saja, kadang saya tidak akan tahu kapan itu diberikan. Suatu ketika, saya tergagap bangun karena dijawil teman yang kebetulan duduk di sebelah saya. Di depan saya sudah ada nampan berisi makanan. Saya buka menunya. Ada sayuran, nasi, dan daging. Saya tanya teman, “Ini daging apaan?” Ayam, jawab dia. Daging ayam kok kayak gini ya modelnya, piker saya dalam hati. Lalu, saya tanya brondong Hongkong yang duduk di sebelah saya. “Ini daging apaan?” Ayam, kata dia. Tapi, saya masih ragu. Daging ayaam kok begini. Saya lihat teman saya dengan lahapnya memakan menu yang disediakan. “Sudah, makan saja.. ini ayam kok.. ayam kok ini!!!” katanya untuk menyakinkan saya. Sedikit “terintimidasi” saya cicipin “ayam” itu. Lha, kok seratnya begini ya. Karena ragu, saya berhenti memakan menu yang ada di hadapan saya. Ih, kok sepertinya itu B2, hihihihi. Setelah selesai makan, teman saya melihat buku menu di depan saya, “Ih gila.. beneran nih… “ Dia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Ya sudahlah, tahu sendiri kan jawabannya. 🙂
our serious chefs!!!

our serious chefs!!!

 

Leave a Reply