Toxic Brain

Saya seorang foodie. Membicarakan satu makanan bisa membuat otak saya berputar-putar untuk membayangkan makanan itu.

Makanan adalah cobaan yang sangat berat bagi saya. Untung, saya sudah insyaf makan sembarangan. Jadi, tidak seganas jaman dulu kalau makan. Sekarang sudah lebih mengerti tata krama.. :). Dulu apa yang nampak di depan mata bisa dimakan. Ngemil tiada pernah henti. Saat ini, makanan saya sudah sering lebih terpuji.

Hari ini, saya membicarakan satu toko bakery yang kami baru saja pergi beberapa hari yang lalu. Namanya Sugarbites. Cake dan bakery mereka homemade. Lezat-lezat. Hot chocolate mereka superb. Mungkin yang paling enak yang pernah aku temui di Surabaya. Creamy and frothy to the last sip. Saya mencoba beberapa cake mereka. Sedap. Ada yang memakai rose water. A real rose water. Mereka juga membuat roti Prancis, French baquette. Untuk raginya, mereka bikin sendiri. Sordough. Rasa rotinya, two thumbs up! Harganya juga murah, Rp. 10 ribu per biji. Karena besar, aku minta dibagi dua sama temanku, Lina. I ate it plain the next day.

 

tomat bread

eggs & tomatoes on red rice sandwich. My favourite breakie.

Bagiku, toxic food ku adalah baked goods. Well, I’m not that addicted to it. I know, baked good is not good. Karenanya, saya agak milih-milih juga. Tidak semua produk roti saya juga mau. Kalau kebetulan salah makan roti yang raginya kurang bagus, perut bisa kembung tidak karuan. Keinginan saya akan baked good bisa tiba-tiba saja muncul. Terlebih lagi kalau di rumah sedang tidak ada stock roti. Terakhir kali membeli roti (sandwich bread) di toko organik langganan. Eh, ternyata saya dikasih produksi hari sebelumnya. Jadi ketika saya makan rasanya agak berubah. Karena saya tidak tiap hari makan roti, biasanya roti akan saya potong-potong dan taruh di freezer. Bisa tahan cukup lama. Asal ada persediaan di rumah kalau tiba-tiba saya ingin makan roti.

Saya ingin di Saint Louis, saya paling suka pergi ke Saint Louis Bread & Co, memesan bagel with cream cheese, dan cappucinno. Kemudian menikmati mereka dengan lezat. Ah…. toxic baked goods.

Plain toast with a little bit cheese in Padaria Brasao, Dili, East Timor

Plain toast with a little bit cheese in Padaria Brasao, Dili, East Timor

Karena ingin sordough dari Sugarbites ini, I kept talking about this bread with my friend. Talking the whole time. The more we talked about it, the more we wanted it. Itu karena otak kita terus-menerus mengirimkan signal kepada syaraf nafsu kita untuk terus menginginkannya dan bagaimana bisa mendapatkannya. Semakin kita sakaw untuk mendapatkannya. Semakin saya membayangkan bagaimana cara menikmati soudough bread ini. Ah, saya bisa menikmatinya hanya dengan seperti itu saja (plain), mengolesinya dengan unsalted butter, atau dengan mengolesinya dengan pesto horenzo yang saya buat kemarin pagi. Pasti sangat enak… Kemudian, saya bisa memakannya dengan salsa… atau memakannya dengan guacamole karena kebetulan lagi punya stock alpukat. Ahhhh.. atau cuman dibakar begitu saja dan diolesi madu.. atau dibakar dan dimasukkan ke dalam soup kacang azuki yang ada di kulkas… ahhhhh…

who does not want it? :P

who does not want it? 😛

Karena Sugarbites terlalu jauh, saya memutuskan untuk membeli saja pumpker nickle punya Komugi saja – yang paling dekat dari kantor. Meskipun, setelah tahu punya Sugarbites, punya Komugi lewaaaatttttt.

Benar kan… semakin kita memikirkannya, semakin otak meracuni kita. Ah, mungkin itu sebenarnya yang dinamakan dengan pengendalian diri. Tarik nafas panjang. Kuasai diri.. Batalkan membeli rotinya.
Well, anyway, pada akhirnya, saya juga membatalkan pergi ke Komugi. Malahan, saya tiba-tiba ingin makan pecel… :). Ah, sudahlah… otak saya memang sering toxic dengan makanan. Mungkin, saya harus lebih sering puasa, untuk lebih belajar mengendalikan diri. 🙂

Ah, baked toxic goods/foods…

Leave a Reply