tidur

kadang, ini ngemilnya. Pas lagi "beres."

kadang, ini ngemilnya. Pas lagi “beres.”

Waktu (lebih) muda, saya suka bangga kalau tidak tidur beberapa malam straight. Keren begitu mendengarkan. Begadang seperti menjadi simbol gaya hidup jaman sekarang. Saat itu, saya tidak begitu paham pentingnya tidur. Oh iya, jaman kerja juga sama. Begadang tetap saja keren. Tetap saja bangga. Pola tidur saya jelek sekali. Karena pola tidur jelek, jangan tanyakan bagaimana saya bangunnya keesokan harinya dan apa yang saya rasakan seharian di kantor. Ngantuk dan tentu saja produktivitas tidak maksimal. Ditambah lagi, dengan pola makanan saya yang sembarangan kala itu.

Ketika di graduate school, begadang sudah menjadi “satu kebutuhan”. Bukan lagi karena dia keren. Kalau mau jujur, saya sih maunya tidur saja sepulang dari kampus. Tapi, mana saya bisaaaaaa…. Entah saya mengerjakan tugas, atau online dengan orang-orang di Indonesia yang berkebalikan waktunya. Pokoknya, jam 2 pagi adalah jadwal tetap untuk tidur. Eh, jangan berpikiran tidur saya adalah tidur “cantik.” Tetap saja tidur yang kualitasnya sangat buruk. Bangun tidur tidak segar. Saya malah yang tidur dengan enak dan segar itu ketika napping di perpustakaan sore hari. Itu baru saya bilang tidur berkualitas. Sampai saya drooling, hehehe.

Saya baru tidur malam nyenyak ketika libur kuliah. Tapi, kalau masuk kuliah lagi.. Ya berantakan lagi, hehehe.

Balik dari sekolah, baru sadar benar apa artinya tidur itu. Dan, bagaimana tidak kerennya begadang itu. Dan, betapa saya sebenarnya tidak melakukan “abuse” terhadap tubuh saya. Saya juga telah merampas hak tubuh saya untuk beristirahat dan tidur.

ini kadang....

ini kadang….

Sekarang, sudah lumayan insyaf. Seringnya, tidur sebelum jam 10 malam. Teman-teman saya begadang dulu sekarang jadi sering sebel sama saya. Jam 9 malam sudah mulai menguap, hahahah. Padahal, bagi mereka, “the night is still young, baby…..” Kalau saya kurang tidur, saya menjadi sangat cranky. Badan merasa tidak enak dan kurang produktif begitu. Tapi, bedanya, sekarang saya sudah bisa tidur dimana saja ketika benar-benar ngantuk. Baik itu di angkot yang panas atapun di bis kota. Apalagi, di pesawat. Di lounge maskapai juga seringnya saya tidur. Malah, saya hampir ketinggalan pesawat ketika mengejar penerbangan paling pagi. Saya dengan enaknya tertidur di sofa ketika pesawat boarding, hehehe.

atau ini.????

atau ini.????

Sekarang, saya paham benar tidur adalah hak dari tubuh saya. Saya tidak boleh lagi melakukan abuse dan mengambil hak dia. Karena, saya benar-benar merasakan manfaat dari tidur yang cukup. Saya menjadi lebih segar, produktif, dan berpikir dengan lebih baik. Saya juga bisa mengontrol emosi dengan lebih bagus. Ohya, karena saya tidur cepat, saya juga tidak pernah lagi ngemil malam-malam. Dulu, jangan tanya lagi…. Begadang pastilah makan. Mulai dari yang “ringan” seperti kerupuk sampai dengan yang “berat” seperti tahu campur. Hahahaha. Serius, pernah saya terbangun tengah malam karena kelaparan. Saat itu, saya masih tinggal di Kedungtarukan. Terbangun, saya mendengar orang jualan tahu campur Lamongan. Jadilah, saya makan tahu campur malam-malam, hehehe.

enak nihhhh... serius!!! droolingggg

enak nihhhh… serius!!! droolingggg

Sekarang, kalau saya makan malam-malam, pasti habis itu susah tidur. Ohya, kalau saya ingin tidur nyenyak, jangan makan yang manis setelah jam 6 sore. Dijamin, saya akan menjadi hiperaktif. Bahkan, meditasi tidak akan menolong. Padahal, meditasi ini kalau dilakukan malam hari bisa membuat saya tidur seperti orang pingsan, hehehe.

Ah, sleeping beauty… 🙂

saya dulu kebanyakan ini....

saya dulu kebanyakan ini….

Leave a Reply