Tidak Ada Warung Nasi di Blawan Buka di Siang Hari

seperti tidak makan selama seminggu...

seperti tidak makan selama seminggu…

Kami tidak menyangka, kejadian di Tegalalang terulang kembali. Apalagi kalau bukan seputaran makan. Masih ingat siang-siang jalan di Br. Patas karena kelaparan. Tidak ada warung. Warung makanan terdekat sekitar 5 KM dari tempat kami menginap. Yang kami dapatkan hanya toko kelontong kecil yang jualan snack dan kerupuk. Even orang jualan gorengan juga tidak ada.

Ternyata, Kampung Blawan sebelas dua belas dengan di Br. Patas.

Ketika kami di Sempol, Tita -teman Jemb- bilang, kalau kita butuh apa-apa harus beli disini. Soalnya di atas tidak ada apa-apa. Blaik.. Dang, tahu gitu tadi mampir di kios buah waktu kami masih di Jember. Sebelumnya, saya sempat kepikiran buat beli buah. Tapi saya malas. “Ntar saja di atas. Masak tidak ada orang jualan pisang….” Sekarang, saya juga sudah jarang bawa-bawa makanan banyak waktu traveling. Pas berangkat, saya bawa secukupnya. Sebutir jeruk dari lounge dan sisa roti yang aku beli di Uncle Q dua hari sebelumnya.

Lalu, kami berhenti di Indomaret yang kami nemu di jalan. Disana, kami membeli beberapa makanan yang sekiranya kami perlukan. Tidak mikir lebih jauh lagi. Palingan kami juga butuh cemilan. Setelah muterin hampir seisi Indomaret, saya grab air mineral, biskuit, dan wafer. Ada juga buah disana, tapi penampakan mereka sudah layu-layu gitu. Biasalah, buah import yang sudah jelas tidak segar lagi setelah berminggu-minggu di kapal dan di rak supermarket.

our precious gorengan... hahaha. Diet lewat sudah :))

our precious gorengan… hahaha. Diet lewat sudah :))

Tapi ternyata, kenyataan di atas lebih buruk, hehehe. Ini baru kerasa besoknya. Malamnya, kami masih OK dengan memesan menu paketan dari hotel. Satu paket seharga Rp. 60 ribu itu isinya nasi satu mangkok kecil, mie goreng satu piring kecil, dua potong ayam, dua potong telur, dua buah perkedel, dan satu iris semangka. Kami share menu itu buat bertiga. OK, kami cukup happy dengan itu.

Keesokan harinya, kami mendapatkan sarapan dari hotel. Roti tawar putih yang sudah dioles dengna selai dan telur rebus. Sudah cukup. Kami membayangkan, makan nasi pecel alangkah enaknya. Tapi ya sudahlah, kami terima sarapan yang kami dapat. Kamipun kemudian memutuskan untuk hiking ringan di sekitaran Catimor dan Blawan. Setelah naik sekitaran satu jam ke arah kebun, kami memutuskan untuk kembali buat ke air terjun di Cagar Ceding.

Puas jalan-jalan dan berendam air anget di dekat air terjun Ceding, kami memutuskan untuk kembali ke arah guest house. Ketika dalam perjalanan ke arah hotel, kami melihat warung yang tadinya tutup, sekarang sudah buka. Kami memutuskan untuk mampir kesana. Wima sama Jemb sudah pesan pop mie. Karena saya tidak makan mie, saya coba tanya si ibu apakah punya nasi dan telur. Si ibu bilang ada, karena dia jualan nasi goreng. Ya sudahlah saya pesan nasi dan telur ceplok. Saya dengar ibu ceplokan telurnya. Tapi kok nasi saya lama sekali keluarnya. Jemb ingatkan, orang-orang di Bondowoso yang umumnya orang Madura biasanya bicara dengan istilahnya Inggris Timor aka bahasa Madura dan kadang-kadang suka salah tangkap bahasa Indonesia, saya diminta cek lagi. Eh, ternyata beneran, si ibu menggoreng nasinya.. Hahaha. Gilingan dehhh.. Saya coba luruskan ke si ibu, kalau saya beli nasi putih saja sama telur ceplok. Eh, sama juga kejadiannya dengan ketika saya minta teh panas gulanya sedikit, yang keluar adalah teh manis… hahaha.

sambalnya si ibu enak sekali :)

sambalnya si ibu enak sekali 🙂

Lumayanlah saya makan nasi putih dan telur ceplok. Tapi ya siang harinya kami mulai terasa lapar. Wima dan Jemb tanya pada ibu-ibu yang kerja di hotel apakah ada makan siang. Jawabnya, yang ada hanya mie instan.. hahah. Mereka juga tanya kepada satpam ada warung dimana di desa. Dijawab satpam, tidak ada warung di desa… Biasanya ada satu dua, tetapi karena libur, mereka tutup. Warung terdekat ada di Sempol.. Hahaha. Sore ada yang buka. Tapi orang jualan gorengan. Tidak percaya, kami memutuskan untuk keliling desa. Benar juga, tidak ada warung makanan di desa. Yang ada toko kelontong yang jualan mie instan dan snack-snack kecil. Sudah hopeless, kami makan snack yang kami beli di Sempol dan berharap cepat malam sehingga kami bisa pesan menu paketan lagi dari hotel.

Eh jam 4 sore, iseng kami melongok keluar. Kami melihat si ibu mulai bukak lapaknya. Kami mendekati lapak itu. Iseng saja. Dia mulai memproses gorengannya. Dia bawa juga dua kresek tahu mateng (tahu yang sudah digoreng). Kelaparan, kami langsung menyerbu tahu itu sembari si ibu memproses gorengan yang lainnya. Iseng kami tanya si ibu jualan nasi apa tidak. Iya, nasi goreng. Eh, ternyata si ibu juga bisa buatkan nasi lalapan meski tidak banyak. Wima dan aku pesan nasi lalapan, dan Jemb pesen nasi goreng. Kami ditanya, kapan makanannya disiapkan. Kami bilang SEKARANG!!! hahaha. Kami sudah kelaparan, Bu. Ujar kami dengan memelas.

Segera si ibu melayani kami. Dan, kami sangat bahagian akhirnya kami makan juga.

tiap rumah ada kebun sayurnya....

tiap rumah ada kebun sayurnya….

Di tempat seperti Blawan ini, orang-orang bergantung sekali dengan orang jualan sayuran yang lewat karena mereka jauh dari mana-mana. Bagi mereka, mungkin sayuran tidak masalah, karena tiap orang memiliki sayuran di kebun depan rumah mereka. Tetapi kebutuhan yang lainnya? Mereka butuh juga kan… dan mereka menggantungkan pada kiriman dari Bondowoso atau mereka turun sendiri ke bawah. “Makanya, apa-apa mahal disini, Mbak…. “

Kami menggangguk paham. Tetapi, kami puas dan bahagia juga dengan makan malam awal kami.  Memang, perut kenyang bisa bikin orang bahagia.

Next trip, mungkin saya butuh pack makanan lagi sepertinya. Sudah dua kejadian, tidak mungkin tidak akan terulang lagi. 🙂

Leave a Reply