the ugly truth about food waste

the range of Padang food which potentially contributes to food waste from the restaurant table

the range of Padang food which potentially contributes to food waste from the restaurant table

Kemarin, saya bertemu dengan teman di sebuah coffee shop di dekat kantor. Teman saya ini hanya transit beberapa jam di Surabaya. Dengan seorang teman lainnya, kami sepakat bertemu di coffee shop ini – sebelum kita memutuskan untuk pergi ke tempat makan lainnya.

Ketika kami meninggalkan café, teman saya meninggalkan panini yang setengahnya dia makan. Panini ini terpotong rapi di piring. Dan, tidak dihabiskan.

“Tidak kamu habiskan?”

“Enggak….”

“Lho… Sayang lho.. Food waste. Tidak semua orang di dunia ini bisa makan.. Ini dibuang-buang…” Mungkin karena dia males mendengarkan omelan saya seterusnya, akhirnya dia bungkus sisa panini itu di brown bag minta sama si mas-nya di coffee shop itu.

Saya dulu tidak terlalu peduli atau cuek saja dengan food waste atau makanan yang terbuang dengan sia-sia. Prinsipnya, saya sudah bayar. Kalau tidak habis, itu urusan saya. Bukan urusan barang yang saya buang atau warung tempat dimana saya makan. Saya tidak pernah memikirkan selanjutnya kemana sampah-sampah itu akan pergi. Ya urusan restorannya lah…

Saya mulai sedikit “peduli” dengan makanan yang tidak habis saya ketika di US. Ketika itu, saya banyak melihat orang-orang disana ketika makan di restoran dan tidak habis, mereka minta doggy bag untuk membawa makanan mereka pulang. Lama-lama, saya ngikut juga. Leftover dari restoran ini lumayan bisa buat saya makan keesokan harinya, atau ketika malam-malam pulang dari kampus dan lagi malas masak. Alasan jaman di US dulu kenapa sering tidak habis ketika makan di restoran, ya karena porsi makannya gedhe banget. Satu porsi bisa buat dua orang dewasa (Indonesia) dan sudah sangat kenyang. Di US dulu, saya juga pernah dimarahin si brondong karena saya tidak menghabiskan burger yang saya pesan. Eh, saya tidak menghabiskan bukan karena saya tidak doyan, tetapi karena lagi ga nafsu makan, hehehe. Ya akhirnya, saya bungkus juga kelesss.

party of the Burmense table

party of the Burmense table

Kemudian, sering baca iseng artikel tentang makanan, lingkungan, dan minimalis, saya kemudian mulai sedikit mengerti dampak dari buang-buang makanan ini. Selain karena alasan “eman” karena banyak orang di dunia lainnya tidak makan, juga karena food waste ini bisa mengakibatkan sumber pencemaran karena gas methane yang dihasilkan dari proses pembusukan sisa-sisa makanan. Konon, gas methane ini berkontribusi sangat tinggi terhadap pemanasan global. Pernah suatu ketika saya ke sebuah TPA di Kota Malang, Jawa Timur. Saya melihat bagaimana gas methane yang telah berubah seperti asap membumbung tinggi di langit. Tidak jarang, gas methane ini menyebabkan kebakaran lokal di TPA.

Di negara-negara maju, food waste tidak saja berasal dari restoran, tetapi dari rumah tangga, grocery stores, toko roti, dan sebagainya. Food waste tidak saja berasal dari “sampah” tetapi makanan yang sebenarnya masih bisa dimakan, meskipun tidak dalam kondisi “paling segar.” Seperti misalnya pisang yang sudah mulai berubah warnanya menjadi coklat, sayuran-sayuran yang sudah sedikit layu. Atauuu… food waste juga bisa berasal dari ketika masih di petani itu sendiri. Mengapa ini terjadi? Karena barang yang dihasilkan oleh petani tidak “sesuai” dengan standar supermarket. Selain itu, “koleksi” di dumpster juga ditambah dengan makanan-makanan kaleng yang mendekati atau sudah expired (sebenarnya, baru diketahui bahwa “expire date” tidak ada hubungannya dengan food safety. Dia hanya “tanggal kira-kira” makanan itu sangat baik/segar ketika dikonsumsi). Makanan-makanan dalam kategori ini, sebenarnya masih bisa sangat dimakan. Bukan tidak bisa. Hanya karena dianggap “tidak layak”, makanan ini kemudian harus berakhir di dumpster. Di Amerika Serikat, per tahunnya food waste bisa mencapai 133 milyar pounds!!! Gila ya jumlahnya sebanyak itu.

a range of Chinese dimpsum. there are only two choice: overeating or food waste

a range of Chinese dimpsum. there are only two choice: overeating or food waste

Di Indonesia, sepertinya belum ada data tentang hal ini. Hanya, saya pernah dengar, kalau contributor food waste yang besar di Indonesia adalah nasi. Ya, NASI!!! Bisa nasi dari rumah, restoran, atau darimana saja. Ini sungguh masuk akal sebenarnya. Nasi adalah makanan pokok di Indonesia. Kalau saya kebetulan jalan ke restoran Indonesia yang menyajikan makanan prasmanan, seringkali nasi hadir dalam bakul-bakul. Dan, karena orang Indonesia (sebagai efek emerging economic nation), sukanya pesan makanan kan banyaaaakkkk sekali, jadinya seringkali banyak makanan yang tersisa. Ohya, sisa makanan di meja di Indonesia mungkin juga ada kontribusi “kearifan lokal” lebih baik sisa daripada kurang. Orang juga kadangkala sering kalap mata. Ketika memesan makanan dalam kondisi sangat lapar. Semua ingin dimakan. Nah, baru ketika makan, makan sedikit saja sudah kenyang. Kadang-kadang, orang kita gengsi untuk membungkus makanan yang tidak habis untuk dibawa pulang ke rumah. Fenomena makanan tidak habis ini sekarang sering banget saya dapati di Indonesia.

Sekarang ini di negara-negara maju mulai timbul gerakan-gerakan sosial untuk mengurangi food waste. Seperti misalnya yang dilakukan oleh presenter dan blogger Australia Sarah Wilson. Juga, dua orang sineas Kanada yang membuat film dokumenter tentang bagaimana mereka “mengolah” makanan yang mereka ambil dari dumpster di film “Just Eat it: Food Waste Story.” Dari hasil digging mereka di dumpster, mereka menemukan makanan-makanan yang dibuang dengan nilai hampir $20.000. Atau di Jerman sudah ada makcomblang untuk makanan-makanan yang Foodhsaring.de.

Sadar akan dampak yang ditimbulkan dan ingat susahnya “cari sesuap nasi”, saya sekarang ini suka sewot tiba-tiba ketika melihat orang tidak menghabiskan makanan seenaknya. Begini-begini makanan lhoooooo. Kamu susah payah mencarinya. Dan kemudian karena kamu sudah merasa “kenyang” lalu dengan mudahnya kita akan meninggalkannya. Fine, kita sudah membayarnya. Tetapi, kita mungkin tidak memikirkan dampak selanjutnya. Seperti saya dulu. Ya kalau tidak bisa menghabiskan, bawalah pulang. Dibungkus. Kalau makanan belum tersentuh, bisa kok diberikan ke orang lain. Kita tidak pernah tahu, kalau hal yang kita anggap “waste” itu bisa menjadi “anugerah” buat orang lain. Ketika ada acara di hotel, seringkali kue atau makanan utama tidak habis. Hotel akan dengan baik hati membungkusnya. Biasanya, penyelenggara yang dari luar kota tidak mau “mengurus” makanan yang tidak habis itu dan dimandatkan pada orang lokal seperti saya. Karena saya juga tidak mau repot-repot bawa pulang karena rumah saya jauh, saya tinggal jalan dari depan hotel sejauh satu blok, disana akan banyak orang yang dengan gembira menerima makanan-makanan itu. Ya, makanan itu memang leftover, tetapi bukan berarti tidak bisa dimakan kan?

Hal yang simple bisa kita lakukan sebenarnya. Misalnya saja, ketika naik pesawat domestik, saya selalu mendapatkan in-flight snack. Dulu, saya demen banget sama snack mereka. Eh, lama-lama bosen juga kan kalau sudah terlalu sering. Saya ambil saja snack yang menjadi jatah saya. Kalau saya tidak diambil, saya akan tahu dimana snack-snack itu akan berakhir. Rubbish bin. Saya selalu bawa snack saya turun dari pesawat. Saya biasanya tawarkan kepada petugas cleaning service di bandara dimana saya mendarat. Saya biasanya tanya dulu, apakah mereka mau. Biasanya mereka tidak pernah menolak. Kalau tidak petugas cleaning service, saya biasanya memberikan kepada sopir taksi. Mungkin hal ini juga bukan hal berarti, tetapi, paling tidak saya bisa mengurangi food waste dari dua buah snack per saya naik pesawat. Tinggal saja mengalikan berapa kali saya naik pesawat dalam satu bulan. Saya sih kadang masih “membuang” makanan. Seperti misalnya cake yang ternyata terlalu manis dan saya tidak bisa memakannya. Kue yang ternyata sangat asin. Kerupuk, atau makanan-makanan yang saya pesan ketika sangat ingin (kalap), tetapi kemudian tidak seindah bayangan karena membuat saya merasa “sakit.”

Karena keinginan saya untuk mengurangi food waste, saya juga menjadi lebih aware dengan bahan makanan yang saya beli. Masih sering kalap sih, tetapi tidak terlalu parah seperti dulu lagi. Kalau saya sedang kalap dan ternyata membeli sangat banyak ya mau tidak mau saya harus mengolahkan. “Membuang” makanan segar yang baru diolah gampang kok, kita bisa sharing kepada orang lain. Atau, kalau memesan makanan jangan pas sangat lapar. Jadi, kita akan memesan “apa yang sangat kita inginkan dan secukup apa yang kita makan. Ketika ke rumah makan Padang, saya biasanya langsung minta, “di piring saja Da.. lauknya ini dan ini… “ Jadi si uda tidak usah menyediakan satu centong nasi putih di depan meja saya. :). Eh, ini ada juga tips-tips menarik untuk mengurangi food waste kalau mau dari thinkeatsave.org meskipun banyak tips ini dibuat dalam konteks negara maju. Tetapi, tidak ada salahnya kan kalau kita juga aware.

Sederhana kan kalau mau?

Leave a Reply