Slowing Down.. Slowing Down… and I’m Still Struggling (to Slow Down)

Saya ditanya teman, bagaimana saya bisa menjadi “less stress” itu? Resep sebenarnya adalah sederhana, slowing down. Slowing down. Slowing down. 

Sejak kecil, saya paham sekali tentang diri saya. Kalau dirunut-runut memang saya termasuk orang dengan Type A personality. Jadi segala hal yang mesti begini dan begitu dan mesti sempurna. Semua direncanakan dengan baik dan ditata dengan teratur. Kalau Anda ingin mendapatkan Z, maka Anda harus melakukan A,B,C,D, dan seterusnya. Kalau hasil yang saya dapat tidak sesuai dengan yang saya harapkan, jadilah saya kecewa dan sedih. Kadang-kadang justru jadi semakin frustasi dan stress. Karena memang agak type-type A personality – high achiever – itu, saya ingin semua orang melakukan apa yang saya mau. Harus begini dan begitu juga. Saya susah banget mempertimbangkan situasi dan kondisi orang. Kalau saya bisa, mengapa orang lain tidak bisa?

Saya jadi ingat, ketika jaman sekolah dulu dan bantu adik saya belajar, saya keras banget sama dia. Sampai yang bersangkutan malas lagi belajar sama saya. Tidak jarang berakhir dengan dia nangis dan ngamuk-ngamuk juga akhirnya. Ih, saya kakak yang mengerikan ya… Di kampus dulu, saya juga terkenal keras sama adik kelas kalau mereka konsultasi makalah. Kalau orang tidak melakukan seperti yang saya mau, maunya ngomel saja. Kalau orang janjian telat banget dan saya harus menunggu lumayan lama, ngamuklah saya saudara-saudara, berpikiran kalau orang itu telah membuang waktu saya yang sangat berharga. Duh, jadi merasa seperti bad person beneran.

Saya juga seorang yang sangat ambisius, seperti seluruh dunia ingin aku rengkuh di bawah ketiakku. Apalagi, hidup di jaman seperti ini yang penuh dengan tantangan dan perubahan yang serba cepat. Saya jadi tertantang untuk menaklukkan hidup. Well, kalau orang bilang saya ini orang yang super cuek dan santai, tidak sepenuhnya benar. Orang yang mengenal saya dengan benar-benar tahu kalau saya orang yang sangat serius dalam arti sebenarnya. Mengerikan ya? Hehehe.

slowing down life

slowing down life

Nah, ketika jaman mulai bekerja, selalu berpikir, kalau selalu sibuk berlebihan dan sok sibuk itu bagus. Dan, kalau bersantai itu feeling guilty banget. Merasa tidak produktif. Padahal, dua hal ini tidak ada kaitannya lho…. Kalau diajak teman keluar dan having fun, maunya pengen cepat-cepat pulang dan buka latop. Satu-satunya tempat yang bikin saya agak lupa pekerjaan kalau sudah di gym. Tetapi, kalau workload sedang banyak juga tidak bisa menikmati olahraga di gym. Maunya kembali ke laptop saja terus.

Belum lagi dengan harapan hidup ideal – like the Joneses. 🙂 Hasil hidup seperti ini adalah insomnia yang berlebihan, kurang tidur, stress, dan capek berlebihan. Fatigue tidak kelar-kelar.

Hidup serasa dikejar-kejar banyak ketakutan. Saya takut gagal. Saya takut mengecewakan orang lain. Saya takut kehilangan pekerjaan. Saya takut menjadi perawan tua. Saya takut tidak cukup baik.

Serius, benar-benar enak hidup seperti itu :).

Lain dulu lain sekarang. Saya sekarang memilih untuk menikmati hidup.

Caranya dengan slowing down tadi. Saya memperlambat di hidup yang sudah serba cepat ini.

Saya tidak lagi memakai arloji. Sehingga waktu saya tidak habis untuk melongok ke arloji yang saya pakai.

Saya membuang ketakutan-ketakutan saya. Saya tidak lagi takut gagal, dan takut-takut lainnya.

Sebisa mungkin saya mencoba hidup “saat ini” (living the moment).

Pekerjaan hari ini ya hari ini, besok ada jatahnya sendiri.

living and enjoying the moment

living and enjoying the moment

Hidup saya lebih santai sekarang. Saya juga lebih bahagia hidup tanpa ketakutan yang berlebihan ketika saya lebih memperlakukan hidup saya dengan adil. Bagaimana kalau saya gagal atau tidak cukup bagus buat orang lain? Tidak apa-apa. Gagal itu hal yang biasa. Dan, tidak masalah juga tidak cukup baik buat orang lain. Saya juga tidak lagi ngomel-ngomel kalau janjian sama teman dan teman saya terlambat. Paling saya tinggal pergi saja kalau dia molornya parah. Sekarang, saya lebih cuek dengan hidup saya. And, I no longer care with the Joneses. 🙂

 

2 comments

Leave a Reply