Seperti Menunggu Godot

bis antar kota di Timor Leste

bis antar kota di Timor Leste

Menunggu bis kota di Surabaya atau Sidoarjo kadang seperti menunggu Godot – tokoh lelaki yang ditunggu-tunggu oleh Vladimir dan Estragon dalam drama besutan Samuel Beckett. Sampai dengan cerita berakhir, Godot  tidak pernah muncul.

Menunggu bis kota, itu seperti menunggu ketidakpastian. Tidak ada jadwal yang membuat kita bisa “mengira-ngira” kapan si Mercy besar akan datang. Kadang sudah kita tunggu sangat lama, eh dianya tidak muncul-muncul. Kalau kita sudah tidak sabar dan kebaisan waktu dan memutuskan untuk naik angkot, tiba-tiba dia muncul dari kejauhan. Saya sudah kenyang mengalami kejadian menunggu bis kota dari Perak arah Bungur sampai dengan 2010, sejak sebelum saya berangkat ke US. Setelah saya kembali dari US, nampaknya, perubahan “jadwal” bis kota bukannya semakin membaik, tetapi semakin memburuk.

Kalau sekarang saya naik P1 jurusan Bungurasih ke Perak dan sebaliknya, semakin lama semakin lambat untuk irama nyetirnya. Dulu, yang namanya P1 Patas AC itu supercepat. Bis kota bomel (P1 tanpa AC), pasti kalah terseok-seok. At least, jaman segitu bis kota masih lebih reliable. Dan, jumlahnya masih lebih banyak dibandingkan dengan jaman sekarang.

Pagi ini, saya kembali merasakan “ketidakpastian” menunggu bis kota. Well, sudah saya alami beberapa kali ini. Sejak November tahun lalu, bis Trans Sidoarjo beroperasi dari Sidoarjo (Porong) ke Terminal Bungurasih. Bis ini hasil kerjasama antara PT Damri dengan Pemkab Sidoarjo. Karena operasional  bis (masih) belum tentu break even point (BEP) dan masih tahap “promosi”, pemda memberikan subsidinya. Dari pertama percobaan dulu diinformasikan, kalau bis akan lewat setiap 15 menit sekali. Ide operasional bis trans ini sangat bagus sebenarnya. Untuk memberikan solusi “susahnya” akses dari Porong ke Bungur yang susah direct dan memecah kemacetan, bis ini lahir.

DC Circulator - transportasi alternatif selain bis kota dan kereta

DC Circulator – transportasi alternatif selain bis kota dan kereta

Saya senang dengan ide ini. Memang, sudah selayaknya kota metropolitan mulai bergeser paradigma transportasinya. Publik perlu disediakan alat transportasi umum yang layak. Menggunakan kendaraan umum siapa tahu bisa menjadi budaya. Sehingga, pelan-pelan kemacetan dan keruwetan jalan raya yang bisa menjadi-jadi tidak semakin parah.

Di awal-awal beroperasi, memang waktu tunggu tidak terlalu lama. Lumayanlah. Memang, sepertinya setiap 15 menit. Meskipun di kala itu, saya pernah protes ke salah satu kondekturnya mengapa di halte-halte bis tidak ditempelin jadwal kedatangan bis kota. Well, kalaupun mereka tidak bisa mengasih exact time jam berapa sampai di halte itu, paling tidak bisa memberikan jadwal jam berapa berangkat dari Porong. Jadi, para calon penumpang bisa mengira-ngira bis akan sampai di halte mereka jam berapa. Kalau mereka memang punya banyak waktu lama, ya tidak apa-apa ditunggu. Yang paling kasihan adalah orang yang mengejar waktu atau meeting.

Karena kadang kurang bisa diandalkan, saya kembali naik angkot. Karena bagi saya sebenarnya lebih cepat naik angkot dibandingkan dengan bis. Memang, dari halte dekat rumah sampai dengan Bungurasih, rata-rata perjalanan lewat tol sekitar 30-45 menit. Tetapi, saya masih membutuhkan bis connecting dari Bungurasih sampai dengan kantor. Jarak antara kantor saya dengan Bungurasih sebenarnya tidak terlalu jauh. Dekat saja. Dalam kondisi normal mungkin sekitar 10-15 menit. Kalau saya naik bis kota, saya harus mengalokasikan waktu untuk menunggu bis penuh dan berangkat. Rata-rata bis berangkat tiap 20 menit sekali. Saya akan untung kalau begitu saya tiba di halte atau terminal bis akan segera berangkat. Waktu ke kantor dari rumah bisa kurang dari satu jam. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah waktu tunggu.

Hanya saja, semingguan ini saya sering naik trans lagi. Karena prediksi jalan sedikit macet berjamaah karena  habis libur panjang Natal dan Tahun Baru. Jadi, kalaupun agak macet di ruas Ahmad Yani (depan Carrefour dan Dolog), tidak terlalu terpanggang di dalam angkot karena ada AC-nya. Kapan hari pernah, sangking macet dan panas, perut rasanya bisa sangat mual. Makanya, selama seminggu ini, saya setia naik bis Trans Sidoarjo.

DC Metrobus

DC Metrobus

Ketika pagi ini saya kembali mengalami ketidakpastian, saya bilang ke mbak kondektur tentang uneg-uneg dan usulan saya seperti yang saya tulis diatas. Saya sampai tanya ke mbaknya, siapa yang in-charge dengan semuanya. Kalau perlu, saya ingin mendatangi General Managernya dan menyampaikan semua ide saya. Saya juga bilang ke mbak kondektur itu kalau saya tidak yakin ongkos bus yang hanya Rp. 5000,- itu bisa menutupi seluruh bis yang jumlahnya 10 orang. Pasalnya, penumpang jarang sekali penuh. Kalaupun penuh biasanya hanya hari-hari libur saja. Meskipun itu BUMN dan didukung dengan anggaran Pemda, sampai kapan bisa terus menerus memberikan subsidi? Meskipun BUMN, pastilah Damri tidak mau rugi. Kemungkinan terburuk, ya bis tidak akan operasional lagi. Untuk mengoperasikan bis Trans ini, dilakukan perekrutan karyawan (sopir dan kondektur) untuk bi situ. Lha, apa tidak biaya tetap per bulannya itu? Belum lagi ongkos operasional.

Si Mbak akhirnya buka kartu. Kalau sudah ada saran dan komplian dan disampaikan ke Koordinatornya. Tapi sepertinya, itu tidak pernah disampaikan ke yang lebih atasnya lagi. Biasalah lagi. Khas Indonesia. Asal sudah “jalan” saja puasnya minta ampun. Tidak ada passion untuk meningkatkan pelayanan yang sebaik-baiknya. Dan lagi, si Mbak juga bilang kalau bis ini kurang sosialisasi.

Lha, kapan mau BEP, Mbak kalau memang seperti ini? Akan sangat sayang, kalau transportasi alternatif ini suatu saat di masa yang akan datang (near future), akan ditutup hanya gara-gara kurang sosialisasi, kurang pelayanan, dan akhirnya tidak BEP. Persoalan-persoalan seperti ini sebenarnya bisa diatasi.

Sungguh, saya selalu memimpikan negeri saya ini suatu ketika akan memiliki angkutan umum yang sangat layak dan ramah terhadap sepeda. Sehingga, saya tidak perlu pindah ke Eropa, hehehe. Peace deh!

 

Leave a Reply