secukupnya

Kemarin siang, bau durian menyeruak di lobby lantai 5. Usut punya usut ada yang menerima paketan durian satu karung. Kemudian saya ngobrol dengan mbak-mbak di lift yang membawa kita ke basemen, imaginasi tentang durian yang dicampur es dan alpukat… “Uenaaaakkk…” kami membayangkan durian yang dicampur es dan alpukat. “Mau makan seberap banyak?” “Secukupnya…” kata Mbak itu.

Ada yang tahu secukupnya itu seberapa?

Ya, secukupnya. Sesuai kebutuhan.

Iya, tahu. Tapi seberapa?

Disini kembali berlaku yang namanya relativitas. Pakai gula, secukupnya. Pakai garam, secukupnya.

Saya mengenal satu orang yang benci banget dengan kata “secukupnya.” Teman saya sendiri, seorang biologist. Ada cerita yang lucu tentang “secukupnya” itu antara dia dan saya. Ketika kami sama-sama tinggal di Saint Louis, kami sesekali bertemu, makan-makan, masak-masak, dan juga ngebir. Teman saya ini kurang bisa masak. Jadi, suatu hari, saya sengaja datang ke rumah dia dan memasak nasi kuning dengan menggunakan rice cooker. Tapi, kan tetap harus pakai bumbu juga. Seperti biasanya saya, kan tidak pernah mengukur berapa banyak bumbu yang saya gunakan. Asal saya masukkan saja A, B, C, D, sesuai dengan keinginan hati saya. Teman ini, rupanya tidak di tempat ketika saya memasukkan bumbu-bumbu itu. Ketika nasi itu mateng, ya tentu saja enak — lha wong ada garam sama santennya, ya enak saja tho… Dan dia kemudian tanya kepada saya berapa banyak bumbu yang saya gunakan… Saya jawab “secukupnya….” Dia langsung ngamuk, “Iya, secukupnya… tapi seberapa?!” Dalam dunia dia sebagai seorang exact scientist, semua hal harus pasti ukurannya… garam xx sendok teh… gula xx sendok, etc etc. Sedangkan dalam dunia saya yang ada adalah “how I feel to put it…” Kadang naruh sedikit, tapi sudah terasa. Kadang naruh banyak, belum terasa. Dalam dunia saya, semuanya tergantung pada mood of the day… (euyyyy… jadi ingat film si Yoo Yeon-seok bareng Moon Chae-won, “Mood of the Day” 🙂

 

Leave a Reply