Savouring Paris: To Paris to Eat

Paris, sebenarnya bukan kota ada dalam daftar yang ingin saya kunjungi. But it happened, it’s been in my itinerary. Jadi, ya pergilah saya ke Paris. Dari Praha, saya naik Air France yang dapat dengan harga super murah. Kalau dit-rupiahkan, tiket harga tiketnya kurang dari Rp. 1 juta! Karena bagasi mahal, saya memutuskan tidak membelinya. Akan saya bawa ke kabin barang bawaan saya. Toh, saya hanya membawa duffel bag kecil dan ransel kecil. Tapi, yang namanya sedang untung. Waktu check in, ternyata saya dapat gratisan dua buah bagasi! Usut punya usut, karena Air France satu aliansi dengan GA, saya bisa gunakan mileage card saya. Rasanya, sangat ingin joget-joget di bandara. Bagi seorang traveler sederhana seperti saya, dapat gratisan itu rasanya seperti kejatuhan emas satu kilogram.

Karena saya tidak ingin belanja di Paris (ya karena tidak ada duit) dan saya malas ke tujuan wisata yang “wajib” macam Eiffel, saya memutuskan untuk “I’ll eat in Paris and being a flaneur….” So, I didn’t have things in minds. Jadi mengalir saja di Paris. Yang penting: KULINER. Saya ingin makan keju, roti keras, madeleine cookies, crepes, dan makanan Prancis lainnya. Membayangkan itu semua, liur sudah naik turun di tenggorokan saya. Lagian, Paris adalah kota terakhir saya sebelum balik Indonesia via Amsterdam. Jadi saya bisa splurging sepuasnya… HAHAHAHA. #evillaugh.

Begitu check in di hotel yang diterima dengan sangat ramah oleh mas-mas yang ternyata doyan ngobrol, saya langsung tanya dimana ada pasar rakyat. Si mas yang aku lupa namanya, langsung menunjukkan pasar yang letaknya ada di seberang hotel. Wohoooo…. untung banget. “Cuman, ga tau masih buka atau tidak….” ujar si mas-mas berambut gondrong ini. “Merci merci merci…” balas saya dengan satu-satunya bahasa Prancis yang saya bisa ucapkan, entah dengan benar, entah tidak.

Saya langsung ke pasar. Di depan pintu masuk pasar, saya melihat kios keju. Yang jual kakek-kakek, tapi masih cakep. Si kakek tersenyum ramah, dan mulai mengajak saya bicara dengan Bahasa Prancis. Saya mulai geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum geje. Barulah si kakek ngeh kalau saya tidak bisa berbahas Prancis. Ajaib, dia langsung switched ke Bahasa Inggris. BINGO! Eh siapa bilang orang Prancis tidak mau ngomong pakai Bahasa Inggris. Sejak saya di trem, sudah banyak orang yang mengajak saya ngomong pakai Bahasa Inggris. Saya akhirnya “tergedam” dengan membeli keju lembut, Camembert. Saya balik ke hotel dengan senyum-senyum, disapa mas-nya apa jadi beli keju. Saya jawab iya… Dan out of the blue dia bilang begini… “Keju kan ga tahan lama. Dan di kamarmu tidak ada kulkasnya. Kalau kamu mau, kamu bisa taruh di kulkas di ruang makan….” Wohoooo…. ada apa si mas ini bisa baik banget begitu. Saya bilang sama si mas kalau keju itu mau saya makan. Jadilah, sore itu, saya menghabiskan keju Camembert segedhe telapak tangan saya. Sendirian.

Malam itu di Paris, saya tertidur dengan sangat nyenyak. Ohya, saya juga sempatkan juga nonton “W: Two Worlds” yang tengah airing ketika itu dan saya sedang kecanduan.

Besoknya, Paris gerimis dari pagi. Eh, apa-apaan ini. Di tiap kota yang saya kunjungi selalu jadi gerimis. Padahal, hari-hari sebelumnya terang bendarang. Sama ini di Paris. Pas saya tiba kemarinnya, suhu mencapai 29C. Lha hari ini? Beuh… 20C rasanya.

Saya keluar rumah dan sarapan di bakery belakang hotel. Saya sarapan roti gapit keras isi salmon. Alas, saya lupa bawa payung dan malas balik ke hotel. Ya sudah, saya jalan saja ke stasiun Gare du Nord. Disitu saya membeli pass yang disarankan oleh Edwin, Mobili. Pagi ini jelas saya ingin kemana, Sacre Coeur dan Montmartre. Dua lokasi ini cantik (menurut saya) dan saling berdekatan.

Saya kemudian baru sadar pada akhirnya terjebak di area selama empat jam, membeli payung sebesar 7 Euro karena hujan tiba-tiba jadi lebat. Payung yang Dallas beberapa jam ke depan sudah rusak terkena angin. :))). Disinilah saya kemudian memutuskan untuk makan siang: Crepes keju, ayam, dan telur. Duh, rasanya… apakah ini salah satu surga dunia. Entah karena saya doyan atau karena saya lapar, makan siang itu enak sekali. Saya duduk dengan hikmat di salah satu bangku di depan Sacre Coeur sambil melihat Paris dari atas. Ohya, sebelum saya naik ke katedral ini, di bawah, saya sempat beli madeleine cookies (sayang tidak dapat yang fresh), sneaking toko kue, dan minum coklat punya Flat White.

Turun dari Sacre Coeur, hari masih panjang. Saya memutuskan untuk ke Notre Dame. Disini, saya mendapati antrian mengular lagi. Angin semakin kenceng. Dan, disinilah payung tujuh euro saya harus mengalami nasib getirnya. Saya mencoba memutarin gereja. Ah, sedikit membosankan. Saya kemudian memutuskan untuk ambil river cruise saja. Sebelumnya, sempat dapat selebaran naik river cruise cuman 14 Euro. Saya mencoba mencari dock-nya. Tapi tidak ketemu. Akhirnya, saya melihat yang lainnya. Ternyata lebih mahal. Duapuluh tiga Euro jreng jreng. Pikir saya, kapan lagi tanpa mengkonversi dalam rupiah.

making crepes

Eh hujan ternyata. Sialan. Tapi ya sudahlah, sudah bayar segitu. Akhirnya saya masuk ke kabin yang dalam. Kapal mulai berlayar menyusuri Sungai Seine yang warnanya sedikit hijau. Well, ini adalah cara tercepat untuk melihat Paris bagi turis malas dan punya sedikit waktu seperti saya. Dan, ini menjadi pilihan yang tepat buat saya. Jujur, saya lagi malas ke tempat-tempat mainstream itu. Dari sungai ini, kelihatan Eiffel yang ternyata seperti tumpukan kerangka besi begitu. Notre Dame kelihatan lebih anggun dari sungai. Jembatan-jembatan yang kokoh dan indah. Dari sini, saya juga melihat taman-taman yang luas dan cantik sepanjang sungai. Duh, rasanya ingin turun dan duduk-duduk disana.

Selesai tur, saya kembali ke hotel sambil nunggu Teresa. Jam 7, Resa datang. Saya ditanya mau makan apa sambil dia underlining satu kalimat yang bikin saya ketawa, “Jangan bilang kamu ingin Chinese food ya, Mbak…” HAHAHAHAHAHA. “Aduh Sa… Ngapain saya jauh-jauh ke Paris kalau mau makanan Chinese…” OK berarti, makanan Paris kan? Ho oh… Akhirnya, kami memutuskan untuk jalan-jalan di Champ de Elysees. “Serius Mbak kamu tidak ingin ke Eiffel dan difoto di depannya….” dia masih tidak percaya kalau saya ke Paris dan tidak ingin ke Eiffel. “Iya, yakin kok Aku sudah terbius Montmartre, Sa… “ Setelah dipaksa-paksa, saya akhirnya mau foto di depan Louvre.. Di depannya saja, tidak masuk.

Kami memutuskan jalan sore disitu. Di trotoar Champ de Elysees nampak banyak orang menenteng belanjaan. Terdengar bahasa familiar diantara ratusan pengunjung. Mereka pada ribut mau foto diman dan posisi apa. Saya ngehek. Cuman, belum melihat dari mereka yang menenteng belanjaan di situ. Kami berjalan dan ngobrol sampai akhirnya memutuskan untuk makan malam di sepanjang jalan itu, memuaskan mulut saya dengan masakan Prancis. Malam itu, saya balik ke hotel dengan perut kenyang. PENUH dan PUAS!

Leave a Reply