Raja Arab Macetkan Georgetown

antrian bertemu Raja

Kamis sore (3/09/2015) bunyi sirene meraung-raung di M Street di Georgetown, Washington DC. Keramaian ini kemudian mengejutkan banyak pejalan kaki, termasuk saya yang sedang menikmati keriuhan di jalan protokol Georgetown ini. Daerah ini terkenal dengan deretan restoran-restoran ciamik dari berbagai negara di dunia dan butik-butik pakaian ternama. Jalanan menjadi macet tiba-tiba. Banyak mobil SUV mewah melintas di jalan raya dan orang-orang dengan baju dan kacamata hitam muncul mengendarai mobil-mobil tadi. Pada awalnya, saya mengira ada penangkapan yang dilakukan oleh polisi Amerika Serikat dan Federal Investigation Bureau (FBI) – persis seperti yang ada di film-film Hollywood itu. Arah “kekacaun” ini berasal dari Four Seasons Hotel.

Dugaan ini ternyata salah. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan malam itu, Georgetown kedatangan tamu Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz. Itu adalah kunjungan kenegaraan pertama Raja yang dilantik Januari tahun ini. Ternyata, Raja beserta rombongan menginap di Four Seasons Hotel yang letaknya dua blok dari tempat saya menginap. Konon, Raja mem-booking keseluruhan hotel yang tarif per malamnya sampai dengan $500 itu. Selain terkenal sebagai bagian dari jaringan hotel mahal, Four Seasons juga terletak di Georgetown yang terkenal sebagai neighbourhood atau daerah yang paling mahal di Washington DC ini.

Karena kunjungan Raja ini, satu blok jalan ditutup. Sudah bukan pemandangan aneh ketika di daerah ini banyak terlihat sekali polisi lokal dan secret service di area ini. Orang-orang dengan jas hitam dan wire di telinga menjadi pemandangan “biasa” dalam tiga hari terakhir di Georgetown. Mereka bercampur dengan ratusan turis di salah satu kota tertua di AS ini. Sesekali helikopter melintas di atas Georgetown. Tidak hanya terjadi “Arabisasi” di Georgetown, sesekali terdengar yel-yel yang dikumandangan oleh orang-orang yang ada disana. Berdasarkan keterangan beberapa orang disana, itu merupakan yel-yel dukungan terhadap raja berusia 79 tahun ini.

 

pemandangan depan Four Seasons

Dalam kunjungan kw Washington ini, Raja bertemu dengan Presiden Barrack Obama Jum’at siang (04/09/2015) di Gedung Putih. Dari pers release Kantor Oval, dalam pertemuan kenegaraan, pemimpin kedua negara itu banyak membahas masalah nuklir Iran dan kondisi di Timur Tengah terkait krisis di Syria dan Yaman. Sudah bukan barang rahasia lagi, kalau Arab Saudi merupakan “teman” AS di Timur Tengah.

Dua hari berikutnya,tiba-tiba Georgetown dipenuhi dengan orang-orang berkebangsaan Saudi Arabia. Di depan Four Seasons Hotel, ratusan orang berbaris dengan rapinya ke arah pintu masuk hotel. Mereka-mereka itu laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Mereka ingin bertemu dengan Raja mereka. Menurut Ahmad Nader salah satu liasion officer delegasi yang kebetulan saya temui di luar hotel. Pria asal Sudan ini menjelaskan, siapa saja boleh datang dan ikut antrian untuk bertemu dengan Raja. Raja akan mendengarkan dan memberikan solusi masalah-masalah yang dialami oleh warga negaranya, seperti misalnya bantuan pendidikan atau bantuan kesehatan.

Mereka-mereka yang berada di antrian ini tidak saja yang tinggal di Washington DC dan sekitarnya. Tetapi juga mereka rela terbang jauh untuk datang ke Washington DC, seperti San Diego, California dan kota lainnya di AS. Seperti yang dilakukan oleh Maram dan Sarah. Dua perempuan muda ini tinggal di Denver, Colorado sengaja datang untuk bertemu dengan Raja mereka. Umumnya, orang-orang ini tidak hanya ingin bertemu dengan Raja mereka saja, tetapi juga mengadukan masalah-masalah mereka alami di Amerika Serikat. Maram dan Sarah misalnya, mereka ingin mengadukan sulitnya administrasi di Kedutaan Arab Saudi di Washington DC. Lalu, adakah syarat untuk bertemu dengan Raja? “Kami cukup membawa dokumen-dokumen pendukung yang kami butuhkan.” jelas Sarah yang baru saja lulus S1. Tetapi, kedua gadis cantik ini juga tidak yakin kalau mereka nantinya akan benar-benar bertemu dengan Raja.

Hal yang sama juga diakui oleh beberapa orang lainnya di dalam antrian. Mereka sebenarnya tidak yakin bisa bertemu dengan Rajanya. Sampai dengan Sabtu malam, dari beberapa orang yang saya temui, mereka juga belum bisa bertemu dengan Raja mereka.

Sekitar 21.00 EST (Eastern Standard Time/waktu setempat), saya yang kebetulan sedang berada di Restauran Ethiopia DAS di seberang Four Seasons, tiba-tiba melihat ambulans meraung-raung, dan SUV yang tiba-tiba banyak yang berhenti di depan hotel itu. Para secret service bersiaga dengan segera. Tidak lama kemudian terdengar yel-yel mereka-mereka yang antri di depan hotel. Sayapun cepat-cepat membayar makanan dan meninggalkan restauran untuk melihat apa yang sedang terjadi dalam jarak dekat. Tidak boleh seorangpun mendekat ke tempat itu. Bersama dengan seorang teman, saya mencoba untuk menyeberang ke depan hotel. Tetapi dicegah oleh mas-mas secret service yang badannya sekitar 6 kaki atau 180 cm. Jadilah saya membatalkan niat itu. Tidak seorangpun boleh mendekati lokasi itu. Nampaknya, mobil Sang Raja dan rombongan akan lewat.

Pagi ini (06/09/2015), ketika saya melintas di depan hotel, sudah tidak tampak antrian untuk bertemu Raja. Namun, dari Chesapeake & Ohio Canal yang tepat berada di belakang hotel, saya melihat beberapa pria Arab sedang sarapan. Mungkin, mereka bagian dari rombongan Raja yang tertinggal. Hari ini, kondisi Georgetown sudah mulai normal. Para pejalan kaki sudah bisa leluasa berjalan seperti biasanya. Hanya tersisa tumpukan satu keranjang besar sampah berisi botol-botol minuman.

Leave a Reply