Quiet & Simple Walk at Kajeng Road

ubud-7

Agenda utama ke Ubud kali ini adalah trekking! Sudah lama sekali ingin melakukan ini tapi belum kesampaian juga. Setelah mencari-cari di internet, akhirnya nemu beberapa tempat. Salah duanya adalah Campuhan Ridge Walk dan Kajeng ini. Pada akhirnya, pilihan jatuh pada Kajeng ini. Sebabnya jelas, kami mencari-cari jalan masuk di Campuhan tidak ketemu. Malah sebaliknya, nemu Kajeng ini di samping Starbucks dekat Istana Ubud. Ya sudahlah, daripada mencari-cari lagi Campuhan, mendingan jalan di path yang sudah kita temukan.

Kita berangkat trekking sengaja pagi-pagi. Awalnya mau berangkat jam 6. Karena jam segitu masih sepi, kami memutuskan untuk mundur sejam lagi, jam 7 pagi. Untuk trekking ini, kamipun menyiapkan bekal ala kadarnya dari bahan makanan yang kami beli malam sebelumnya di Bali Budha store. Antisipasi saja, jalan bakal jauh dan tentunya tidak akan ada warung di sepanjang jalan.

ubud-6

Ketika kami keluar dari loft, Secret Garden, kami melihat jalanan masih sangat sepi. Kami hanya berpapasan dengan beberapa orang saja. Atau beberapa orang penduduk lokal yang sedang menaruh sajen di depan rumah. Kami dipersilahkan mampir ke rumah salah satu orang penduduk lokal. Ohya, hari itu pas 17 Agustus, hari Kemederkaan. Jadi, sepanjang jalan yang kami lewati penuh dengan bendera merah-putih ditambah lagi dengan hiasan Bali, penjor. Yang unik dari bendara-bendara yang dipasang di Ubud, adalah dimensi kelebaran bendera-bendera yang bisa mencapai 1 meter! Ukuran yang tidak mungkin saya temukan di Jawa.

Ternyata, kalau pagi hari, jalan utama di Ubud berubah menjadi pasar!!! Dan, seperti biasa, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak masuk pasar. Banyak barang-barang segar dijual di pasar itu. Bunga. Buah. Sayuran. Makanan. Jajanan pasar. Dan banyak lagi. Duh, bisa-bisa kalap kalau lama-lama di pasar. Kalau sudah kalap di pasar, pasti malas melanjutkan trekking karena bawaan yang sudah kayak orang mau naik haji. Karena “kesadaran” ini, berakhirlah hanya membeli jeruk 1/5 kg saja. Jeruk Kintamani yang masih sangat segar. Baru dipetik kemarin sore.

ubud-8

Ketika mulai memasuki Jl Kajeng, tiba-tiba ingin pipis. Duh. Melihat-lihat di Starbucks kali saja sudah buka. Ternyata dia tutup saudara-saudara. Mau balik ke penginapan ya kejauhan, lebih dari 1 KM. Solusinya, nunut di rumah penduduk atau hotel di sepanjang Kajeng. Dan, akhirnya itu yang aku lakukan.

kajeng-6

Jalan Kajeng ini sangat unik di Ubud. Trotoarnya penuh dengan tulisan-tulisan semacam “walk of fame” gitu. Ada memoir keluarga. Ada tulisan-tulisan dengan tiga bahasa: Bali-Indonesia-Inggris. Dari penduduk yang kami temui, dia bilang kalau orang-orang yang menuliskan namanya disana adalah orang-orang yang memberikan donasi kepada masyarakat di Kajeng.

kajeng-4

Saya tidak tahu dengan pasti berapa panjang jalur trekking ini. Jelas, ketika keluar dari kampung dan kompleks perumahan, kami mendapati lokasi persawahan dengan banyak pohon kelapa. Tidak lama setelahnya, jalan trotoar habis. Digantikan dengan jalan tanah. Jalanan juga tidak luas. Hanya cukup untuk satu orang. Di pinggir itu antara sedikit tebing dan sungai kecil. Jadi jalannya lumayan sempit. Dan, semakin ke dalam, semakin sepi juga jalannya. Tidak kami jumpai manusia satupun. Suara-suara binatang kami dengar lebih sering. Burung-burung bernyanyi. Indah lhohhhh… halah lebay-nya kumat. J. Almost at the end of the road, kami sudah mulai melihat persawahan lagi. Kami lihat beberapa orang turis jalan di pematang sawah. Eh, kami bernafas lega. Sedikit takut tersesat sebelumnya karena kami tidak melihat satupun manusia. Kami-pun akhirnya bertemu dengan jalan untuk akses ke sawah itu. by the end of the road, kami bertemu dengan jembatan. Dari jembatan itu, kami menyeberang. Dari sana kelihatan jalan untuk naik ke pematang sawah.

kajeng-5

Kamipun melihat hamparan hijau pematang sawah. Ahai… Kami-pun mulai berjalan menyusur pematang sawah. Di pematang itu, sempat bertemu dengan beberapa orang turis (lagi). Jalan santai-santai saja di pematang itu. Dan, kami-pun juga bertemu dengan beberapa ekor anjing liar… hahahah. Duh, inilah salah satu ujian jalan-jalan di Bali, ketemu anjing liar dimana-mana. Mesti gosipnya mereka sudah disuntik anti-rabies, tapi masih takut juga tiba-tiba mereka menggigit.

Kami berjalan di pematang sawah untuk beberapa saat. Kemudian kami mulai melihat lagi rumah-rumah penduduk. Tempat jualan souvenir. Studio yoga. Welcome back, kami sudah kembali lagi ke peradaban. Sekitar jam 10 kurang kami sudah “keluar” dari kawasan trekking ini. Eh, sebenarnya, kami sendiri juga kurang jelas, berapa jauh jaraknya dan berapa waktu tempuh kami. Yang jelas, kami tidak begitu capek. Tapi cukup lapar juga, hehehe.

kajeng path

Ya sudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk brunch di salah satu warung di Ubud central. Selesai makan, kami mampir Anomali Coffee untuk beli coklat panas, dan jalan kembali ke Secret Garden. Menuju ke penginapan, kami melihat Seniman Café yang super rame. Setengahnya nyesel kami beli di Anomali. Ah, ya sudahlah, kami harus segera meluncur ke Padang-Padang siang itu.

Leave a Reply