Pembalut dan Diapers

Excuse me for this post. Catatan ini agak “kemproh” sedikit. I’ve been thinking about this issue for quite a while.

Ceritanya, sekitar seminggu yang lalu, saya naik angkot bersama dengan beberapa orang ibu-ibu-ibu. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Sampai ada seorang perempuan setengah baya yang habis terapi ceragem naik. Bla bla bla para perempuan ini mulai berbincang tentang penyakit degeneratif yang sekarang ini mendominasi keluhan orang jaman sekarang: karena sedentary living, hidup yang penuh dengan tekanan, perubahan pola makan, olahraga yang kurang, dan sebagainya. Seorang ibu, tiba-tiba brought up an issue tentang lingkungan dan sungai yang sudah sangat heavily tercemar. “Orang sekarang, anak-anak mereka dipakaikan pampers (baca: diapers), lalu dibuangnya diapers yang penuh dengan kotoran ini ke sungai. Jadinya, sungai sekarang airnya gatal…. “ Ibu lainnya menimpali, “Iya, orang tua sekarang gayanya minta ampun. Jaman dulu, semua anak kecil pakai popok. Bahkan popok-popok itu adalah bekas sarung bapaknya… “

Timbunan sampah di sungai.

Timbunan sampah di sungai.

Di waktu yang lainnya, saya bertanya kepada seorang tetangga yang kebetulan punya anak berumur 10 bulan. Bayinya dipakaikan diapers setiap hari. Mungkin sehari ganti sebanyak tiga kali. Saya tanya, kenapa tidak pakai clodi (cloth diapers) saja. Jawabnya, “Malas, harus mencuci. Bau. Pampers lebih praktis. Penuh, tinggal buang.”

Masalah lainnya selain diapers adalah pembalut. Di dalam bahasa Inggris, beberapa istilah digunakan. Ada tampon, ada sanitary pad, menstrual pad, dan feminine hygiene  Kalau di Indonesia, menspad atau pembalut. Beberapa tahun yang lalu membaca “Norwegian Wood.” Si tokoh novel itu sedang berpikir tentang berapa banyaknya tampon yang dibuang di satu sekolah perempuan setiap harinya kalau di sekolah tersebut ada sejumlah xxxxx siswa perempuan.

Dang! serasa tiba-tiba tertampar di muka sendiri. Misalkan saja kita perempuan sedang “dapat.” Dalam sehari, pas deras-derasnya (biasanya dua hari), bisa ganti sampai empat kali, kalau pas biasa habis dua biji selama tiga hari, dan satu biji selama dua hari, paling tidak, setiap bulannya habis 16 buah pembalut ke tempat sampah! Coba dikalikan dengan 12. Dalam satu tahun, kita melempar bekas pembalut sebanyak 192 biji ke dalam tong sampah! Sebuah jumlah yang “wow” ya?

We dream about a clean river. -photo was taken in Lubuk Alai, West Sumatra

We dream about a clean river. -photo was taken in Lubuk Alai, West Sumatra

Mungkin kita tidak memikirkan dampaknya. Saya juga awalnya tidak berpikir akan hal ini. Bagi saya, yang penting adalah praktis. Tidak perlu repot-repot mencuci bekas pembalut. Kalau sudah penuh, ya tinggal ganti saja. Ohya, saya sebenarnya mulai menggunakan pembalut buatan pabrik ketika saya berada di SMP. Ketika awal-awal dapat mestruasi, ya pakai kain yang dijahit kiri dan kanan. Man, membeli pembalut bisa jadi sangat mahal ketika itu, sebijinya Rp. 200,-. Coba dikalikan saja kalau habis 16 sekali dalam sebulan, paling tidak Rp. 3.200,-. Sebuah jumlah yang amat besar bagi kami orang yang tinggal di desa. Namun lama-lama tidak tahan juga memakai pembalut yang terbuat dari kain katun yang dijahit karena kurang praktis. Kalau mau praktis, ya beli buatan pabrik. Tidak peduli kalau akhirnya ya harus mengeluarkan sejumlah Rp. Xxx hanya untuk membeli barang sekali pakai. Tidak pernah memikirklan berapa harganya, karena kita memang butuh. Kita juga belum terpikirkan dampaknya karena kita tidak mau ribet mencuci dan menjemur pembalut kain katun.

Demi alasan ini, kita tidak sadar kalau kita setiap bulannya paling tidak mengeluarkan uang (untuk kemudian menjadi sampah) paling tidak Rp. 20 ribu. Kita juga kadang tidak mengindahkan dampak negatif pakai mens pad berupa iritasi karena kita belum mengetahui adanya solusi alternatif. Kenapa iritasi? Yah, karena kita tidak tahu bahannya apa, hehehe. Bisa jadi, bahan-bahannya berbahaya dan penuh dengan toxic sehingga membuat kita iritasi.

We don’t realize how much trash we’ve collected over the years because of the mens pad?

Leave a Reply