Pamrih

delicious hot cocoa

delicious hot cocoa

Barusan ngobrol iseng sama seorang teman. Dia adalah ketua salah satu organisasi keagamaan yang tentunya adalah voluntary-based. Orang-orang yang tergabung dalam organisasi seperti ini, tidak menerima benefit secara finansial (baca: bayaran). Tidak sering mereka juga harus merogoh duit dari kocek mereka sendiri (untuk memelihara umat). “Ya, di dunia tidak ada bayaran (duit). Bayarannya ada di akhirat…”katanya dengan yakin.

Sejenak saya terhenyak.

Seringkali kita – Anda dan saya, kalau melakukan sesuatu, pasti ada pamrih yang kita harapkan. Kalau tidak bisa keuntungan secara finansial, paling tidak kita berharap adanya recognition yang akan terima dari masyarakat. Atauuu… janji pahala yang akan kita dapatkan di akhirat, atau sekedar ungkapan “kita harus menolong orang lain, biar jalan kita dipermudah…” Hal-hal semacam itu sangat awam di telinga kita. Bahkan, kita juga bagian dari orang yang melakukan itu. Kita menuai apa yang kita lakukan. Sebagian dari kita masih percaya akan adanya karma (I do believe in it too!).

Saya kemudian sejenak bertanya kepada diri saya sendiri. Rupanya, kebanyakan dari kita ketika memberikan pertolongan akan mengharapkan something in return. Motivasi kita menolong adalah agar kita juga ditolong orang lain. Salahkan itu? Well, tentu saja tidak salah. Kita berhak untuk mengharapkan “sesuatu” atas hal-hal (baik) yang sudah kita lakukan. Hanya saja yang menjadi pertanyaan saya adalah, ketika kita mengharapkan sesuatu atas (hal baik) yang kita lakukan, berarti kita tidak sepenuhnya ikhlas melakukan apa yang kita lakukan? Mungkin, kita ikhlas menolong seseorang, tetapi ya itu lagi masalahnya, kita berharap sesuatu juga.

Kenapa kita bisa begitu? Kalau boleh saya curiga dengan baik, itu tidak terlepas dari nilai-nilai yang ditanamkan ketika kita growing up. Kita dianjurkan untuk menolong bukan karena kita sepenuhnya sadar kalau seseorang sedang membutuhkan pertolongan atau menolong adalah perbuatan yang baik, tetapi juga karena “what if we’re on their shoes…” Paling tidak, kita mengharapkan akan mendapatkan pahala. Sebagian hal-hal yang kita lakukan –termasuk juga sholat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an bagi yang Muslim, adalah adanya pahala yang akan dicapai di akhirat nanti.

Saya tidak menyalahkan hal-hal seperti itu. Karena hal-hal seperti ini memang ‘dijanjikan.’ Hanya saja, sejujurnya, saya merindukan kalau orang membantu ya sekedar membantu. Tidak usah berkoar-koar kalau mau membantu. Tidak pula mengharapkan something in return. Saya bertanya, apakah bisa ya kalau ketika kita menolong orang atau memberikan sesuatu kepada orang lain (baik tenaga atau pikiran) itu seperti kita kentut. Tidak mengharapkan apa-apa. Ikhlas. Akan dibutuhkan upaya yang cukup keras untuk merubah frame of reference kita tentang menolong, keikhlasan, dan pamrih.

But well, it’s just a thought. Tidak usah dianggap terlalu serius. 😀

 

Leave a Reply