Opportunity Cost

sekolah

Secara sederhana, opportunity cost diartikan dengan “biaya kesempatan” atau biaya yang dikeluarkan ketika kita membuat sebuah pilihan.

Akhir-akhir ini, saya sering ditanya “kapan sekolah lagi?” “Ga pengen sekolah lagi tha?”.”Pertanyaan ini sesering saya mendengar pertanyaan “kapan kawin”, hehehe. Beneran, ini serius. Dan, ini adalah masalah “serius” juga. Sekolah. Dan kawin. Hahahaha. Terkait sekolah, beberapa teman memberikan “solusi” enaknya sekolah dimana, sekalian berbagi link-link beasiswa. Hayo, kurang apa…

I really cleared my mind to finally come to the “answers.”

Kalau ditanya kapan kawin, jawabannya gampang, “Coba tanya Tuhan kapan saya akan kawin. Rahasia Ilahi boooo…” Hihihihi. Kalau ditanya “pengen ga sekolah lagi?” Jawabannya adalah, “ya pengen lah….” Tapi jawaban untuk “kapan?” saya bisa jawab kapan-kapan. Pengen berbeda dengan “kapan.” Jawaban “kapan” mengandung banyak konsekuensi. Pertama adalah, siapa yang akan bayarin saya. Kedua, apakah saya (secara intelektual, komitmen, dan passion) masih mampu untuk itu. Bagi saya, sekolah lagi itu tidak hanya persoalan “ingin”, tetapi juga sudah melibatkan “komitmen” dan passion. Intelektual bisa diciptakan, asalkan kita rajin dan telaten. Komitmen, itu bisa “dipaksakan karena berkaitan dengan endurance kita. Sekolah lagi, saya yakin akan butuh endurance yang luar biasa. Baik secara untuk waktu ataupun banyaknya “cobaan” mulai dari menyusun teori, turun ke lapangan, atau mengolah data.” Nah, baru kemudian ke passion. Ini yang sulit untuk dimanipulasi. Alasan orang untuk sekolah (lagi) itu adalah antara passion dan kewajiban karir (misalnya saja, seorang dosen, wajib sekolah lagi). Kalau tidak sekolah lagi, karir tidak akan naik atau dianggap kurang layak dan update untuk mengajar. Orang yang di posisi “wajib” ini mau tidak mau harus melakukannya. Nah, orang yang memang “passion”, tidak usah ditanya lagi. Pasti akan melakukan dengan segala daya upaya.

umsl-1

Pilihan sekolah bagi saya adalah sebuah opportunity cost. Ketika (mungkin) saya memutuskan untuk sekolah lagi, lebih banyak opportunity cost yang harus saya bayar. Mungkin, saya akan kehilangan lebih banyak jam tidur, jam bersenang-senang, jam untuk melakukan apa-apa yang aku, doing nothing, bertemu dengan baik, atau sekedar menulis di blog. Mungkin, banyak hal yang akan saya korbankan. Saya masih ingat, ketika menyelesaikan grad study, sepertinya saya menyelesaikannya dengan “merangkak” sembari bertanya, “when will I get out from this dark tunnel.” Pengalaman sekolah (lagi) kemarin itu memang luar biasa “painstaking” tapi cukup worthed di banyak aspek– tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Bagi orang yang “been there” tahu sendirilah artinya. Tapi opportunity cost yang harus saya tanggung adalah sleepless nights, insomnia parah, stress, never ending fatigue, etc, which really affected to my health. These eventually cost me another years to fix and lots of tiredless efforts till my life is back to normal again.

Personally, saya sangat kagum dengan orang-orang yang kemudian memutuskan untuk sekolah lagi dengan banyaknya opportunity cost yang harus dibayar. Tiap orang berbeda-beda, tetapi, saya yakin opportunity cost yang dibayar cukup berat.

perpus

Nah, kembali ke saya… Pengen sekolah? Yes. Passion? Hahaha… Well, I always love to learn new things (my curiosity to many different things is one of the reasons why I named my blog kepo projects), do I need it to gain it through formal education like going back to school? I always love being at school; but I’m not ready the painstaking deadlines, sleepless nights, and library visits for (at least) 4 years??? hahahaha. Then, I began to questioning if going back to school is really my thing, my passion.

Saya, tentu saja punya banyak passion. PASSION SAYA BANYAK SEKALI. UNCOUNTABLE. Tentunya, passion jalan-jalanlah yang paling besar. Mendengarkan cerita juga masih menjadi passion. Keinginan terbesar saya yang masih sangat besar sampai dengan saat ini adalah “berjalan” dan mendengarkan orang bercerita dan menceritakan kembali cerita-cerita itu. Saya ingin melihat banyak tempat sebanyak-banyaknya. Melihat dan menyaksikan how amazing life is.

Leave a Reply