one beautiful day along the elbe river

Elbe River

Saya hanya memiliki waktu sekitar 4 jam untuk keliling pusat Kota Dresden. Kereta yang harus saya naiki ke Praha berangkat sekitar jam 4 sore. Barang bawaan yang tidak segitu banyak saya titipkan di locker yang ada di stasiun. Malas harus gotong dua tas kesana-kemari. Saya memutuskan untuk berjalan geje kesana-kemari. Sebab, beberapa hari di Eropa yang akan kita lihat adalah hal yang sama: museum, gereja, dan gedung-gedung kuno. Persis ketika kita pergi ke Thailand yang akan kita lihat adalah wat wat wat dan wat. Saya putuskan untuk berjalan saya tanpa arah. Kalau ada hal yang menarik, baru saya berhenti.

Dresden adalah kota yang cantik. Kota ini sesungguhnya hancur lebur dan porak poranda ketika Perang Dunia Kedua. Tidak ada yang tersisa di pusat kota ini. Jadi, sebenarnya yang saya saksikan sebenarnya adalah kota yang dibangun kembali di kota yang telah hancur. Amazingly, berjalan di kota ini, serasa berjalan di kota dengan peninggalan lama. Bangunan yang saya lihat disini, sama sekali tidak terlihat baru. Seperti bangunan peninggalan Jaman Renaisans atau Barok. Sebab, bangunan-bangunan yang ada disini tetap dibangun dengan batu warna hitam; persis jaman duluuu kala.

Siang itu, langat cerah dan lumayan hangat. Banyak turis dan orang lokal yang sedang berjalan-jalan di pusat kota. Semua orang bergembira ria. Yah, siapa yang tidak bahagia dengan langit yang biru cerah. Udara yang hangat. Dunia tanpa perang, dan perut yang kenyang?

Langkah kaki saya membawa sampai di pinggiran Sungai Elbe. Saya putuskan saja duduk-duduk di bangku yang ada di sepanjang sungai. Di sungai, ada kapal pesiar kecil, mirip yang sering saya lihat di pinggirian Sungai Mississippi di Saint Louis. Beberapa turis ada geladak kapal. Di bangku dekat saya, duduk satu keluarga Korea: bapak, ibu, dan anak perempuannya yang kira-kira berumur 6 tahun. Si bapak sedang menikmati makan siangnya. Si Ibu sedang ngobrol dengan anaknya yang menyanyi-nyanyi dan menari, persis gerakan ballet. Saya tersenyum. Ketika saya tengah larut dengan pikiran yang entah apa saya lupa, tiba-tiba seorang menegurku. “Boleh saya duduk sini?” seorang nenek-nenek ada di depanku, ijin ingin duduk di bangku. “Oh, silahkan…” Dia bilang sedang menunggu anak dan cucunya yang entah sedang dimana. Tiba-tiba si nenek bercerita panjang lebar tentang dimana dia tinggal dan bagaimana rasanya ketika hidup di jaman Jerman Barat dan Jerman Timur. “Sangat sulit bagi orang Timur untuk pergi ke Barat. Dan sebaliknya, kita butuh ijin khusus…. “ Eh tumben, ini ada orang Jerman tiba-tiba cerita banyak begitu. Not typical… kataku dalam hati. Berdasarkan pengalaman gitu lho…. HAHAHAHA. Eh, mungkin si nenek lagi bosan dan tiba-tiba ingin ngobrol dengan orang asing yang imut ini. Kami ngobrol sekian lama sampai anak perempuan dan cucunya datang. Dia akhirnya mohon diri. Dan, saya kembali menikmati Sungai Elbe.

Cerita nenek tadi mengingatkan pada kunjungan ke Museum Tembok Berlin sehari sebelumnya. Di museum itu banyak cerita orang-orang yang menyeberang tembok dan tidak sedikit yang meninggal atau dihukum karena melakukan itu. Eh, kalau dipikir tidak masuk akal ya? Satu Jerman, satu ras, dan kemudian harus porak-poranda hanya karena sebuah tembok. Banyak keluarga tercerai berai. Perang, dimanapun di belahan dunia tidak pernah menyenangkan. Dia selalu membawa perpisahan yang tidak pernah kita inginkan.

Saya kembali menikmati Sungai Elbe. Cuaca ini. Hmm, percaya tidak, orang yang hidup di negara Sub-Tropis lebih menghargai cuaca cerah dibandingkan mereka yang hidup di negara tropis. We took good weather for granted. Di negara tropis, kita hanya mengenal dua musim. Suhu ya rata-rata sama lah.. Paling hanya selisih 10 derajat. Kalaupun hujan dan mendung, paling hanya sementara. Sebentar lagi juga kembali cerah. Ini berbeda dengan kalau kita tinggal di negara empat musim. Suhu bisa berbeda dengan drastis. Begitu pula dengan cuaca. Di musim dingin, bisa seminggu lebih dinginnya menusuk tulang dan gloomy. Mood bisa menjadi jelek. Lalu, siapa suka yang seperti itu? Jadi, ketika cuaca sangat bagus, mereka benar-benar appreciate itu. What a good weather!

the most delicious iced-chocolate

Makanya, mumpung saya di Eropa ketika udara cerah dan saya bisa duduk dengan nyaman melihat sungai, saya benar-benar menikmatinya. Seperti orang lokal. Kalau di Indonesia, mana mungkin saya bisa duduk-duduk di bantaran sungai seperti saat ini?

Leave a Reply