Obrolan di Suatu Pagi

“Let food be thy medicine and let the medicine be thy food” Hippocrates

Pagi ini, saya mengobrol dengan teman saya. Topiknya miscellaneous. Mulai dari nilai tukar rupiah yang semakin lemah di hadapan USD, harga beras yang semakin naik, dan sebagainya. Eh, ujung-ujungnya lari ke topik kesehatan. Obrolan masalah topik kesehatan sudah menjadi favorit kami berdua sejak beberapa tahun terakhir ini. Kami bukan dokter. Bukan suster. Bukan bidan. Dan, bukan orang yang pernah sekolah di jurusan kesehatan. Kami hanya layman yang beranggapan bahwa kesehatan itu adalah harta yang paling mahal di dunia ini. Topik bahasan kami kemudian meluncur ke masalah BPJS yang sekarang gosipnya klaim sudah 100 persen, tetapi sokongan dari pemerintah pusat masih setengah hati.

Tanpa menafikkan manfaat BPJS bagi banyak orang, kami berdua mendiskusikan, sekarang ini pemerintah sedang gencar untuk kampanye BPJS dan pengobatan bisa gratis. Tapi, di sisi lain, kampanye untuk pencegahan (masyarakat menggunakan BPJS juga turun) tidak dilakukan. Misalnya saja, kampanye tentang makanan sehat dan bagaimana memasak makanan yang benar. Selama ini, ada salah kaprah tentang makanan itu. Teman saya dan saya percaya, kalau semua makanan itu sehat. Semua makanan punya manfaat dan kapasitas untuk menyembuhkan. Healing foods.

Hanya saja, manusia modern telah membuat pengolahan makanan menjadi salah kaprah. Penggunana refined sugar dan garam yang berlebihan. Belum lagi penggunaan MSG. Banyak orang tidak tahu apa dampak MGS itu. Yang penting makanan enak dan rasanya nendang. Masyarakat Indonesia, kalau makanan hambar dan tidak nendang, akhirnya bilang kalau makanan tidak enak. Itu yang bikin orang jualan tidak Pe-De, lalu ditaruhlah bumbu penyedap sebanyak-banyaknya sampai para konsumen suka. Tidak peduli apakah makanan sehat atau tidak. Yang penting enak. Orang serasa tidak peduli. Begitu juga dengan penggunaan minyak goreng. Semakin hitam semakin dianggap enak.

ngobrol pagi....

ngobrol pagi….

Bukan maksud membandingkan dengan negara-negara yang sudah maju, dimana para pedagang kaki lima-pun diinspeksi kebersihan makanannya. Tapi sepertinya, pemerintah kita sudah waktunya melakukan hal ini dengan serius. Melakukan pengawasan ini demi menghindari penyakit-penyakit yang akan membuat klaim BPJS semakin menggunung. Kalau pemerintah mau melakukan ini, dampak jangka panjangnya bisa dirasakan.

Banyak di kalangan masyarakat kita sebenarnya belum tahu bagaimana memasak makanan dengan baik. Bukan berarti mereka tidak mampu untuk membeli makanan. Tetapi karena pemahaman mereka tentang nutrisi masih rendah sekali. Dalam banyak kasus gizi buruk yang pernah saya tahu, anak-anak penderita gizi buruk tidak hanya dari kalangan keluarga miskin dan kurang mampu, tetapi justru dari keluarga berada. Setelah diusut-usut, para orang tua bilang, kalau anak mereka susah makan, dan maunya hanya makan mie. Para orang tua, daripada melihat anak tidak makan, lebih baik memberikan mie instan kepada anaknya. Saya memang belum pernah menjadi orang tua, tetapi saya percaya, kalau pola makan anak lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan orang tuanya dan bagaimana orang tua membentuk pola makan pada si anak. Ketika si anak dari kecil hanya dikenalkan pada makana sehat, maka si anak akan terpola. Teman saya ini termasuk orang tua yang berhasil membentuk pola makan yang bagus pada anak. Meskipun pada awalnya juga penuh tantangan. Tetapi, mengapa kita tidak coba? Apakah kita akan berubah ketika semuanya sudah sangat sangat telat?

Source: David Wolfe's

Source: David Wolfe’s

Sementara itu dari sisi masyarakat, tahu dengan BPJS bisa berobat dengan gratis (dan murah) termasuk untuk obatnya, akan dengan mudah dan tidak mikir pergi ke tenaga medis. Lalu, pulang diberi obat satu gebok. Ya mau tidak mau akan diminum. Eman, sudah dikasih kok tidak diminum. Kan obat juga. Orang juga tidak pernah memikirkan dampak penggunaan obat secara terus menerus. Juga, setahu saya, sekarang ini jarang sekali seorang pasien diberikan penjelasan oleh dokter-dokter mereka mereka akan meminum obat apa saja dan apa saja dampaknya. Misalnya, apakah obat akan berdampak pada kondisi lambung apa tidak. Bagi tenaga medis yang penting adalah “obat ini diminum 3 kali sehari, yang ini 2 kali sehari.” Jujur saja, jaman sekarang sudah jarang pasien diberi pengetahuan tentang obat yang dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Suatu hal yang membuat saya sangat miris.

Orang kita kadang tidak mau rugi. Batuk dan flu sedikit saja larinya sudah ke antibiotik. Bagi teman saya dan saya – selaku pendukung gerakan kembali ke alam, batuk dan flu sebenarnya adalah proses tubuh kita untuk detox – proses pembersihan diri. Bagi kami obatnya juga sangat sederhana dan ada di dapur. Jahe, lemon/jeruk nipis, dan madu untuk flu, dan kecap dan jeruk nipis untuk batuk. Atau kadang-kadang kalau di rumah ada serai, saya gunakan serai untuk menghalau batuk. Dalam sehari biasanya juga reda.

Kami selalu percaya, bahwa alam telah menyediakan remedies untuk seluruh ailment manusia. Hanya kita bisa atau tidak berkomunikasi dengan alam dan menjaga keseimbangan.

Leave a Reply