ngangkot

ngangkot di Hua Hin, Thailand

ngangkot di Hua Hin, Thailand

Saya sering ditanya kenalan atau teman bagaimana saya datang ke sebuah acara. Pastilah jawaban saya akan sama, “angkot…” Reaksi teman atau kenalan yang tidak terlalu dekat, pastilah bilang, “Hari gini masih musim ya naik angkot. Naik mobil donggg…?!” Hihihihi.. Tidak tahu jawaban kenalan-kenalan saya itu antara hinaan, motivasi, atau asal basa-basi saja. Seperti kejadian beberapa saat yang lalu ketika saya sedang mengurus beberapa dokumen di Polsek Boyolangu, Tulungagung. Kebetulan bertemu degnan mantan tetangga yang sekarang ngepost disana. “Mobil di parkir dimana?” Ingin sekali aku jawab, “di hatimu…” 🙂

Saya memang tidak memiliki mobil. Sepeda motor saja saya tidak punya. Satu-satunya alat transportasi yang saya punya adalah sepeda angin. Itupun saya tidak beli sendiri. Dibelikan bapak saya sebagai hadiah kelulusan dari UMSL kemarin dulu itu. Dan jangan bayangkan sepeda angin super mahal itu. Hanya sepeda gunung Polygon Premier 4 warna putih. Nah, tempat-tempat tujuan yang tidak mungkin saya tempuh dengan sepeda (karena jarak dan lalu-lintasnya), lebih banyak saya tempuh dengan naik angkot. Kadang naik taksi kalau lagi tajir dan lagi terpaksa. Tetapi naik taksi lebih banyak terpaksanya daripada sedang tajirnya, hehehehe. Semisal, pulang kemalaman dan mata sudah mengantuk sekali. Maka, taksi adalah pilihan satu-satunya.

Eva, my pink bike in St. Louis

Eva, my pink bike in St. Louis

Naik angkot bagi saya cukuplah nyaman. Pun banyak sekali seninya. Dengan naik angkot, paling tidak saya tidak ikut menyumbangkan pembakaran energy fosil yang berlebihan yang saya manfaatkan sendiri. Paling tidak, di dalam angkot itu saya berbagi dengan orang-orang lainnya. Dengan naik angkot, saya juga “menciptakan” lapangan pekerjaan bagi orang lain secara tidak langsung. Naik angkot juga membuat saya tidak stress untuk memikirkan bagaimana saya harus berkendaraan, sela mana yang harus saya masuki supaya bisa cepat sampai di kantor. Yang bisa saya lakukan di angkot adalah duduk manis. Ketika duduk manis di angkot ini, saya bisa membaca, tidur, mendengarkan musik, atau mengamati penumpang angkot lainnya. Eh, menarik lho….

Memang, kalau dihitung secara ekonomis, naik angkot lebih mahal dibandingkan saya naik sepeda motor sendiri. Tapi saya jujur tidak sanggup kalau harus naik motor Surabaya-Sidoarjo setiap hari. Jalurnya ngeri-ngeri sedap. Jumlah pengendara motor ratusan orang tiap sorenya, dan berkendaraan dengan seenaknya sendiri. Duh, tidak tega melihatnya. Takut juga. Tidak hanya saya menyetir sendiri, dibonceng sepeda motor di jalur itu saja saya ogah. Tetap, naik angkot menjadi pilihan bagi saya.

angkot melintas di Farol, Dili

angkot melintas di Farol, Dili

Dengan naik angkot, saya juga melihat banyak drama hidup. Bagaimana para sopir-sopir itu harus dengan sabar mengumpulkan penumpang, atau bahkan kadang berebut penumpang. Kadang-kadang juga diwarnai dengan adegan ancam-mengancam dan mau memukul. Hanya memperebutkan satu orang calon penumpang. Kadang juga diwarnai dengan kepasrahan para sopir angkot kalau penumpang sedang sepi. Dari sopir angkot ini saya juga belajar memprediksi kapan banyak orang bepergian dan kapan tidak. Juga, bagaimana membaca kemacetan lalu lintas. Memang, kadang sering sedikit bête kalau kebetulan dapat sopir angkot yang super lelet dan suka ngetem. Tetapi, setelah berpengalaman tiga tahun terakhir ini ngangkot Sidoarjo-Surabaya PP, saya sudah hapal sopir-sopir mana yang suka ngetem, dan mana yang super ekspress. Saya juga kemudian mengetahui pergosipan para sopir angkot, siapa saja rentenir di kalangan para sopir angkot, dan berapa cicilan yang mesti mereka bayar. Benar-benar menarik lho….

angkot dili-2

Saya berkenalan dengan angkot jauh sebelum saya tinggal di Sidoarjo, tetapi ketika saya masih tinggal di Surabaya. Selama setia ngangkot sejak 1999 ini, saya menjadi saksi inflasi biaya angkot. Ketika saya datang ke Surabaya, ongkos angkot baru saja naik dari Rp. 500,- ke Rp. 600,-. Tidak lama kemudian, angkot naik menjadi Rp. 700,-, Rp. 800,-, dan kemudian Rp. 1.000,-. Setelah itu, kenaikan tariff angkot menjadi tidak tanggung-tanggung dan berlangsung dengan sangat cepat, sejalan dengan kenaikan harga BBM yang teratur naiknya. Dari Rp. 1.000,-, tariff naik menjadi Rp. 1.500,-, disusul menjadi Rp. 2.000,- dan tidak lama kemudian menjadi Rp. 2.500,-. Tarif terakhir angkot terakhir sebelum saya hijrah ke US adalah sebesar Rp. 3.000,-. Dua tahun di Paman Sam, ongkos angkot naik sebesar Rp. 500,-. Tidak lama kemudian, tariff naik menjadi Rp. 4.000,-. Tidak lama kemudian karena gonjang-ganjing pencabutan subsidi BBM, tarif angkot terkini di Surabaya menjadi Rp. 5.000,-. Setelah 15 tahun, tarif angkot menjadi 10 kali lipat lebih mahal. 🙂

Sangking kemana-mana saya naik angkot, saya dijuluki expert per-angkotan oleh teman saya dari Malang. Kalau dia sedang ke Surabaya dan membutuhkan transportasi dari satu titik ke titik lainnya, dia pasti bertanya, “ada ga angkot ke daerah situ? Naik yang apa?” Nah, tentang hal ini, saya patut berbangga-lah akan hal itu. Saya juga berterima kasih kepada para sopir angkot dimanapun yang sudah mengangkut saya menjadi penumpangnya.

Saya merupakan sebagian kecil dari manusia yang selalu memimpikan jalanan di Indonesia akan didominasi oleh kendaraan publik. Atau, terbentuknya green way dimanapun berada. Sehingga saya dan teman-teman yang suka naik sepeda lainnya bisa menjadi lebih tenang ketika naik sepeda. Bersepeda tanpa merasa ngeri-ngeri sedap di jalan. Bolehlah saya memimpikan Surabaya-Sidoarjo akan menjadi kota seperti Stockholm atau Portland yang sangat ramah dengan para pengendara sepeda. Semoga saja kita semakin sadar jika bumi yang saat ini kita injak dan diami, adalah pinjaman dari anak-cucu kita.

a quiet greenway i'm wishing about

a quiet greenway i’m wishing about

Leave a Reply