never gets enough of Washington DC

dc-37

Meskipun ini kelima kalinya mengunjungi Washington DC, saya masih memiliki excitement yang sama. Persis seperti 2008 yang lalu. Kota ini memang menempati satu tempat khusus di hatiku.. (halah, lebay). Mungkin, karena pertama kali menginjakkan kaki di Paman Sam, di Washington DC-lah tempatnya. Washington DC menduduki urutan pertama kota yang paling sering dikunjungi di US bersama dengan Colombia, Missouri (COMO).

Dan, saya cukup beruntung ketika mengunjungi Washington DC ini, saya berkesempatan untuk tinggal di daerah yang berbeda-beda. Pernah di daerah Dupont Circle dua kali, Crystal City, K Street, dan sekarang di Penn Avenue & Georgetown. Kata seorang teman, “Mbak ini bolak-balik ke DC, kayak naik haji saja,” Hehehehe. Jawabku, “Lha, memang sekarang naik haji bisa lima kali ya….” But well, it never gets enough to explore this city.

Georgetown along the C & O Canal

Georgetown along the C & O Canal

Lima kali ke Washington DC selalu berusaha untuk melakukan hal yang berbeda-beda. Di 2008, pertama kalinya mencoba naik bis hop-on. Sangking excited-nya untuk melihat keindahan DC di waktu musim dingin, dibelain naik ke dek atasnya. Hasilnya, tubuh membiru karena tidak kuat menahan dingin yang menusuk tulang. Setelah wajah sampai membiru, masuk anginlah yang didapat. Hahahaha. Jadinya, tidak bisa lagi menikmati keindahan DC, tetapi malah menghabiskan waktu di hotel berbalur minyak kayu putih. Kapok dah… Gaya orang daerah tropis yang baru sampai di negeri sub-tropis pas musim dingin pakai gaya pula. Nah, kena batunya.

Yang kedua summer 2010, tidal terlalu ingat detailnya. Disana hanya tiga hari. Bulan puasa. Hanya ingat tour keliling dengan menggunakan mobil van. Panas dan humid sekali kala itu. Kemudian, bertemu dengan teman lama dan menghabiskan malam di Kramer Bookstore di Dupont Circle.

dc bike-share

dc bike-share

Setelahnya, kembali lagi ke kota ini winter 2010-2011. Kalau ini, ingat sekali apa yang saya lakukan. Salah satunya, keliling Washington DC dengan menggunakan capital bike share berwarna kuning. Kala itu, temannya teman kakaknya bekerja di non-profit yang meng-endorse capital bike share ini. Ramirez nama kakak lelaki temannya teman. Karena bekerja disana, dia memiliki kunci yang bisa akses capital bike share dari lokasi manapun di Washington DC. Hanya saja, gratisnya hanya satu jam pertama. Kalau lebih dari satu jam harus membayar charge. Karena kondisi ini, akhinya, kita harus mengenali titik-titik mana tempat parkir sepeda. Jadi, sebelum satu jam saya sudah harus berganti sepeda. hahaha. Bikin sedikit panik kalau kita belum menemukan lokasi parkir sepeda ini ketika waktu sudah hampir mendekati satu jam. Seringkali, sepedahan jadi kuatir. Takutnya lebih dari satu jam. Dan, Ramirez-lah yang kena denda. Jadinya satu hari itu kami naik sepeda keliling Washington DC selama tidak kurang dari enam jam di musim dingin. Itulah, untuk pertama kalinya menyadari kalau jalan raya di Washington DC itu sangat hilly. Makanya, ada tempat yang dinamakan Capitol Hill. :). Ah, memorable sekali winter 2010 ini.

dc-71

Setelah itu, kembali ke Washington DC sebelum lulus. Kala itu tinggal di daerah K Street. Yang dilakukan kala itu sedikit “formal.” Yang paling diingat ya foto “kelulusan” di depan Gedung Putih dan Capitol. Errr.. apalagi ya… wandering through the city in the middle of the night dan mencoba makan di Ted Bulletin – resto langganan Obama kalau lagi ingin makan burger. 🙂

Dan, kembali lagi 2015 ini. Kali ini adalah Georgetown.

Saya suka Washington DC. Entah apa daya tarik kota yang memang didesain sebagai ibukota negara ini. Kota ini memiliki ratusan museum baik di bawah pemerintah (Smithsonian) ataupun yang berada di bawah swasta (misalnya Madam Tussaud) yang tidak pernah “cukup” untuk dieksplorasi. Lima kali ke Washington DC, belum semua museum di Smithsonian selesai saya jelajahi. Paling tidak, untuk benar-benar mengunjungi satu museum dibutuhkan waktu satu hari. Biasanya, museum di Smithsonian itu memiliki tiga lantai, dengan beberapa wings. Sementara ini saya baru selesai Holocaust, Natural History, Smithsonian Castle, Modern Art, Native American History, American History, dan Aero & Space Museum. Dan satu lagi, zoo! Meskipun zoo, dia masih ada di bawah naungan Smithsonian.

beautiful Georgetown - M Street

beautiful Georgetown – M Street

Masih banyak pe-er untuk lihat museumnya.

Mengunjungi museum di Washington DC, tidak pernah membosankan sama sekali. Untuk museum-museum swasta, biasanya membayar. Tetapi, untuk museum yang berada di bawah bendera Smithsonian, gratis. Ah, siapa yang tidak suka?

Pada kunjungan kelima ini, saya baru benar-benar menyadari, kalau Washington DC ini memang banyak dikeliling oleh greenways, seperti Rock Creek Nature Park, Rose Park, C & O Canal, Capital Cresent, dan masih banyak lagi. Greenways ini tidak saja menjadi tempat para joggers atau strollers, tetapi merupakan jalur alternatif para komuter yang umumnya bersepeda. Asyikkk juga lho melihat mas-mas keren pada naik sepeda. hahaha.  Kalau lagi jenuh, duduk saja di dekat Washington Harbour untuk melihat mas-mas keren pada naik sepeda.

Washington DC termasuk walkable city.  Artinya, kota yang “nyaman” buat jalan. Meskipun untuk “memperlancar” transportasi, terutama untuk wilayah-wilayah pinggiran seperti Virginia dan Maryland, disediakan metro train. Metro di DC ini sekarang sudah ada lima lajur: merah, biru, orange, kuning, dan silver. Selain itu, masih juga tersedia bis dan DC Circular. Jadi, sebenarnya, kota ini sebenarnya accessibility-nya lumayan bagus. Sangat bagus bila dibandingkan dengan St. Louis.

Nah, karena kota yang “walkable” jadinya seringnya kemana-mana jalan di kota ini. Pernah suatu ketika jalan kaki dari Georgetown sampai dengan Smithsonian. Lumayan, ada 26 blok. Panas pula. Hahaha. Tahu-tahu sesampainya di sana, agak lemes… Begitulah, musim panas di northen hemisphere. Tidak kerasa haus atau keringat bercucuran, tetapi tiba-tiba lemes karena dehidrasi.

Rock Creek Nature Park

Rock Creek Nature Park

Nah, satu hal yang paling saya suka dari Washington DC adalah ketika jam rush hour atau jam pulang kantor. Kereta akan penuh sesak dengan orang-orang yang bekerja di kantor-kantor pemerintahan, kedutaan, lembaga-lembaga donor, NGOs, dan lembaga-lembaga lainnya. Saya suka gaya orang-orang yang ada di metro. Pada cowoknya pada dandy-dandy, hampir mirip dengan para cowok di San Francisco. Badan mereka bagus-bagus juga, Tidak tahu para mas-mas itu lari berapa mil tiap harinya, atau berapa jam mereka angkat-angkat barbel di gym. Dandy-nya gaya mereka juga ditunjang dengan warna baju yang cerah-cerah. Tidak tahu ya, para cowok di Amerika sana lebih suka dengan warna baju yang lebih “segar.” Para cowok tidak segan pakai hijau tosca, biru turqoise, atau bahkan pink! Kalau dilihat, memang gradasi warna-warna baju di Amerika dan Indonesia sangat berbeda jauh. Disana, saya sering lihat cowok pakai baju atau dasi warna pink. Dan, itu bagus sekali, Bukan karena saya suka pink, tetapi, tidak ada salahnya para cowok pakai baju yang cerah dan segar. Tidak hanya pakai baju warna-warna standar seperti biru donker, coklat, atau abu-abu. Cukup melihat waktu jam sibuk ini sudah sangat menghibur. Hahaha. Emberrrrr…

Leave a Reply