My Foodiefairs

Semua berasal dari rasa ingin tahu saya. Makanan itu seperti lawan jenis, dia butuh untuk dieksplorasi dan dikenali.

Sebagai seorang yang lahir di tengah-tengah orang Jawa yang tinggal di desa, makanan yang saya kenal hanya nasi pecel, nasi lodeh, nasi campur, soto ayam, nasi lodho, sambel terasi-ikan asin, lontong sayur, dan sebagainya. Menu-menu yang berbau ayam dan sapi, hanya muncul di saat-saat tertentu saja. Misalnya, waktu ada selametan atau perayaan hari besar agama. Lainnya, kami lebih banyak plant based food alias makanan kambing, hehehe. Kalaupun ada ikan, biasanya mereka adalah yang diambil dari kali depan rumah kalau pas banjir di musim penghujan, atau ikan asin yang dibeli di pasar. Telur hanya muncul kadang-kadang saja di meja makan. Itupun, satu telur didadar dan dibagi empat. Hehehehe.

telur dadar favorit

telur dadar favorit

Dari semua makanan itu, sejujurnya, pecel adalah makanan yang paling saya sukai. Bahkan sampai sekarang.

Selain hanya mengenal masakan “itu-itu” saja, perut saya juga perut nasi. Artinya, tanpa makan nasi, saya tidak merasa makan. Bagaimana dengan roti, mie, atau makanan lainnya? Mereka hanya snack. Saya tetap membutuhkan makan nasi. Tanpa makan nasi, saya akan merasa cranky dan tidak stabil emosi saya. Ketika saya tinggal di US, hubungan saya dengan nasi sedikit renggang. Saya sudah terbiasa dengan memakan menu alternatif yang tanpa nasi. Mungkin karena juga kadang malas masak. Atau kadang tidak ada waktu. Atau hanya butuh variasi. Tetapi minggu-minggu awal di US lah yang paling sengsara. Berhubung saat itu bulan puasa, jadi wajar ingin buka puasa dengan nasi. Tetapi, beras yang ditemukan hanyalah beras instan long grain yang bukan untuk dimasak di rice cooker tetapi di microwave. Nasinya juga tidak manis, kasar lagi. Sampai akhirnya ketemu lah beras Thailand. Ah, dunia saat itu menjadi lebih baik rasanya.

Meskipun saya sudah bisa tidak makan nasi tiap hari, ada saat-saat dimana saya harus makan nasi. Dan TELUR DADAR. Yaitu, kala menjelang final week. Mungkin saat itu saya tidak punya waktu masak. Mungkin saya juga butuh dukungan moril di masa-masa ujian. Jadilah nasi putih dan telur dadar menu andalan. Cukup nikmat.

Kembali ke affair saya dengan makanan… Saya tidak mengenakan atau merasakan masakan yang bermacam-macam selain masakan Indonesia sampai saya hampir berumur 30 tahun. Nah, begini.. Ketika jaman kuliah, saya lebih banyak memasak sendiri. Karena, jatah kiriman dari kampung berkisar Rp. 150 ribu-Rp. 200 ribu per bulan. Itu sudah termasuk uang kos, fotokopi, dan makan. Secara logika sudah tidak cukup kalau saya makan di luar. Masak adalah solusinya. Untung, saya dapat kos yang uenaaakkk dan ibu kos yang super baik hati. Kos saya model pavilion yang punya dapur sendiri. Ah, benar-benar surga. Setiap awal bulan, saya mesti stok mie, minyak goreng, telur, dan beras. Untuk sayuran dan bahan segar, saya biasa beli setiap pagi atau dua hari sekali karena kos tidak punya kulkas. Setiap belanja paling-paling menghabiskan uang Rp. 3.000,- untuk kangkung/bayam, tempe/tahu, dan bumbu. Sudah cukup bagi saya untuk dimakan seharian. Kadang, saya juga masih bisa ngasih makan beberapa orang yang mampir. Jajan? Ah, hampir tidak pernah. Jajan kalau terpaksa saja. Misalnya, lagi bikin PR di rumah siapa atau pas lagi ingin. Itupun, mikirnya berkali-kali. Soalnya, sekali jajan, bisa dibuat masak selama dua hari. :)))). Makan di luar saja jarang, apalagi makan makanan siap saji, seperti Mc D atau Pizza Hut. Yang aku ingat, ketika kuliah makan di Mc D hanya beberapa kali. Yang paling ingat makan di Mc D adalah waktu ditraktir Iing Panas (Paket Nasi) yang kala itu masih Rp. 5 ribu. Dan, pertama kali makan Pizza Hut di Galaxy Mall waktu ditraktir TJ.

Saya pernah kos yang tidak ada dapur dan mengharuskan saya untuk makan di luar. Karena inilah, saya biasa makan dua kali sehari, dan itupun sangat memprihatinkan menunya. Saya sampai ingin menangis ketika makan masakan itu… Sejak saat itu, saya mulai merasakan maag/lambung saya bermasalah. Sampai saya pindah ke kos Mbak Arik awal 2000. I need to thank Mbak Arik for a wonderful place she provided me for 10 years… woaaaaa…

Saya baru kenal jajan setelah bekerja. Terus kemudian sering tugas luar kota. Quest saya waktu itu hanya makanan Indonesia. Setiap kali saya ke luar kota atau keluar pulau, saya selalu mencari tempat makan yang jadi highlight di kota itu. Saya coba semuanya. Saya bikin ceritanya juga. Setelah kembali ke Surabaya, saya akan bercerita dengan berbunga-bunga tentang makanan-makanan di tempat-tempat itu. Dengan penuh semangat.Jadi, jangan salahkan saya kalau dari luar kota, berat badan saya selalu naik. Saya sering dibilang orang, “Kamu ini cerita makanan terus, kapan mau cerita masalah cowok..” Upssss… !!!

Sejak saya bekerja, saya jadi jarang masak. Saya seringnya makan di luar. Mungkin karena saya bisa earning money. Jadinya semakin berantakan pola makan saya. Acara weekend, selalu diisi dengan makan sana-sini sama group saya “praten en eten.” Jadi acaranya ngobrol sambil makan setiap weekend. Sekali makan, bisa three courses at one time. Saya senang-senang saja. Karena mencoba hal-hal baru. Terlebih, teman saya ada yang pernah bilang, eating is experience. Maka, saya teruslah makan. Berat badan saya terus naik. Sampai menjelang 60 kg. Perut sudah semacam yang mengganjal kalau saya duduk. Pantat sudah kayak buntelan.

Rasanya badan semakin tidak enak. Berat dan sering mengantuk.

Januari 2007 di Singapore. Kayak buntelan... hiihihhi

Januari 2007 di Singapore. Kayak buntelan… hiihihhi

Lalu, saya memutuskan untuk daftar jadi member gym. Setelah itu, lima kali dalam seminggu saya membakar kalori dan menghajar diri saya di gym. Tidak hanya hanya lari di treadmill, tapi juga angkat beban, senam, yoga… Semua saya lakoni. Demi berat badan yang turun dan badan yang lebih enak.

Sayangnya… Saya tidak imbangi dengan makan yang benar.

Makan saya tetap ngawur. Tetap tiga main courses setiap weekend. Satu kali keluar bisa sampai ganti di beberapa tempat. Beda tipis antara saya lapar, doyan, atau rakus. Mungkin, ini adalah kompensasi jaman mahasiswa yang ingin mencoba makanan ini dan itu tetapi tidak bisa… Pelampiasan masa lalu, hehehehe.

Saya berpikiran kalau saya rajin olahraga, makan seberapapun saya, makan akan kebakar juga. Rumus saya sederhana kala itu, makan masuk=makan keluar.

Saya ternyata salah. Badan saya tetap gedhe dan kadang-kadang juga tidak enak. Anaknya teman saya, Reiko, sering bilang “Tante ini kayak Popeye… “ hihihihhi. Ohya, mungkin yang bikin berat badan naik terus adalah saya sering banget ngemil. Ada kerja, ada stress, ada ngemil, ada BB naik… Belum lagi, kalau saya lembur waktu lay out tulisan. Pulang dari redaksi langsung mampir di KFC sebelah Graha Pena. Malam-malam makan fast food. Yaikssss… Sampai-sampai di tempat les Belanda terkenal dengan de dikke Novi (Novi yang gemuk) karena disana ada dua nama Novi. :))

Benar-benar parah deh.

Hijrah ke US, sempat turun sebentar karena ngenes sekolah. Lalu, setelah punya banyak teman, badan mulai naik lagi. Apalagi sebabnya, pasti jajan sana-jajan sini. Alhasil, balik lagi jadi gedhe. Apalagi, jajanannya banyak pilihan. Meskipun disana, saya juga tidak tiap hari jajan. Paling-paling pas weekend saja. Yang menurut saya turut menjadi kontribusi terhadap naiknya berat badan saya adalah saya suka makan malam-malam atau bahkan dini hari karena saya baru tidur jam 2 atau 3 pagi setiap harinya.

Ini lebih parah lagi. Unhealthy grad student living habit. Seriously.

Pulang, tiba-tiba dipaksa untuk merubah cara hidup, cara makan, cara berpikir… Pokoknya, cara-cara yang “kurang benar” di masa lalu.

Jadi, mulailah hidup dengan lebih “terpuji.” Makan yang lebih sewajarnya dengan menu yang natural. Mostly whole food. Saya hampir tiap hari masak. Saya lebih suka penasaran dengan menu-menu baru. Bahan-bahan baru. Well, kalau rasa ingin tahu dengan bahan-bahan baru sudah dimulai dari St. Louis ketika itu yang saya lakukan ketika stress adalah pergi ke Whole Foods, Dierberg, atau Soulard Market – mengobok-obok aisle untuk mencari bahan makanan yang terbaik. Coba ini dan itu. Karena hanya di dapurlah saya menemukan damai. Tidak peduli jaman ujian atau pas libur, dapur adalah tempat saya bermeditasi. Halah, lebay… hiihihhihi. Karena itu, duit yang saya belanjakan di grocery store lumayan banyak. Sebulan bisa $350 kalau lagi kumat. :))). Kalau lagi waras cuman $200/bulan. Belum lagi uang beli capuccino tiap hari yang bisa $5 dan uang jajan pas weekend yang paling tidak bawa $20. Belum lagi kalau lagi pengen main. Halah, makanya tidak punya tabungan. :)))

Sekarang, kepo saya lebih besar. Karena tubuh saya sekarang jadi lebih sensitif terhadap makanan dengan bahan-bahan dasar “tidak jelas”, saya harus pintar-pintar untuk membuat mix and max apa yang ada di kulkas dan pantry. Biar makanan yang kata orang “membosankan” itu menjadi tidak membosankan. Sekarang, tubuh saya benar-benar tahu kapan dia mulai kekurangan sayur dan kapan ketika makan saya mulai “tidak benar.”

black fried rice basil

black fried rice basil

Sekarang ini, berat badan turun bukan menjadi tujuan utama saya. Yang penting badan saya jauuuuhhh lebih enak dari sebelumnya. Kalau berat badan saya turun, anggap saja sebagai bonus. Ohya, saya kemana-mana sering bontot makanan. Tidak hanya bawa bekal makan siang di kantor, tetapi juga waktu keluar kota yang cuman sehari.

 

2013 di Payakumbuh, West Sumatra

2013 di Payakumbuh, West Sumatra

 

ngintip lunch box..

ngintip lunch box..

Saat ini, saya lebih banyak makan plant based foods. Sejak di US, saya tidak lagi makan daging sapi. Ayam once in a blue moon kalau terpaksa. Ikan dan telur kadang-kadang. Mungkin, suatu ketika, saya akan menjadi vegetarian. Who knows, hehehe.

lagi memanjakan diri

lagi memanjakan diri

Leave a Reply