Museum Hopping in Malacca

inside the Education Museum

Eitssss, museum hopping disini jangan dibayangkan dan dilakukan sama dengan yang bisa dilakukan di Belanda. Because it’s totally different! So, bagaimana bedanya museum hopping di Belanda di Melaka? Yang paling membedakan adalah jenis museum dan tentu saja isinya. :).Di Belanda (Amsterdam khususnya), akan sangat banyak sekali museum yang menarik yang saya ingin kembali. Seperti misalnya Van Gogh, Anne Frank Huis, etc. Museum yang kita akan puas hanya dengan sekali saja melihatnya.

Lalu bagaimana dengan museum di Melaka? Di kota ini, kawasan museum terletak di daerah mall Palawan yang tembus sampai dengan Kawasan Jonker. Di jalanan sekitaran itu, banyak sekali museum yang bisa kita pilih. Ada museum Pendidikan, Museum Sejarah, Museum Perangko, Museum Kecantikan, dan sebagainya. Bahkan partai politik seperti UMNO juga memiliki museum.

Karena teman saya dan saya suka dengan museum, kami memutuskan untuk melakukan pengecekan museum ini selain itu “ngadem” panasnya hawa di luaran. Total kami melakukan museum hopping di Malaka adalah dua hari. Karena kami puas melakukan museum hopping di hari pertama, kami berniat untuk melanjutkannya di hari kedua. Di kedua itu, kami mengunjungi Baba & Nyonya Museum. Museum ini adalah milik satu keluarga kaya raya di Melaka; seorang saudagar karet di masa pendudukan Inggris. Sayangnya, di rumah ini, kami tidak boleh untuk mengambil foto karena selain untuk alasan privasi, di dalam rumah itu banyak sekali barang-barang berharga. Seperti misalnya lukisan yang usianya sudah ribuan tahun, atau perabotan rumah yang bahannya dari emas yang diukir. Sebenarnya, dalamnya bagus sekali. Sayangnya, the house is too small to accomodate the numbers of visitors and the guide talked too long about the history of the family. It turned out to be a little bit boring the last 30 minutes.

kompleks Museum Pendidikan

Sayangnya, tidak semua museum disana seperti yang di Baba & Nyonya ini, tetapi kebanyakan dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Nah, ini yang mulai lucunya. 🙂 We didn’t find it funny in the first day, but we could not hold our laugh in the second day. :)))). Hari sebelumnya, kami sangat puas dengan Museum Pendidikan yang super cool, jadi, di hari berikutnya, kami memutuskan untuk melihat yang lainnya seperti Museum Kecantikan dan Museum Perangko. 🙂  Karena sangat penasaran dengan Museum Kecantikan saya bilang ke teman saya kalau saya ingin pergi kesana. Teman saya juga kebetulan ingin pergi kesana, karena kami membayangkan akan mendapatkan cerita tentang “sejarah kecantikan” di Malaysia. Misalnya skin care dari jaman dulu kala jaman putri-putri raja sampai dengan saat ini. Ternyata…. jekethek (kata orang Surabaya)…. Setelah sampai dalam kami mendapati….. TIDAK ADA HAL YANG BERKAITAN DENGAN KECANTIKAN SAMA SEKALI!!! :)))). Di dalam banner yang dipasang di dalam museum ada beberapa gambar yang aku sendiri juga sudah lupa apa saja.

cara membuat roti – di Museum Pendidikan

Jadiiii… umumnya museum milik pemerintah di Malaysia (Melaka) itu adalah dia membuat banner yang di isinya bisa sejarah atau cerita tentang museum berkaitan. Kadang juga dilengkapi dengan barang-barang display 4 dimensi atau juga dorama. Tapi yang sangat biasa adalah dengan membuat banner itu. Jadi para pengunjung diminta untuk membaca cerita berdasarkan yang dicetak di banner. Di banyak museum yang kami kunjungi, kami disuruh untuk melepas alas kaki sehingga museum tidak akan kotor. Museum-museum itu ada yang gratis tetapi juga ada yang bayar. Kalaupun bayar sebenarnya juga tidak mahal. But stilll…… :))). Saya sebenarnya jadi mikir, kalau di Indonesia mau serius mengelola museum, sebenarnya lebih banyak jenis museum yang bisa dibuat. Lebih banyak cerita yang bisa disebarkan. Tapi di Indonesia, pemerintah belum ada keinginan untuk mengelola museum secara lebih serius, meskipun dengan sarana yang sangat sederhana sekalipun.

Museum Perangko sebenarnya lumayan menarik. Berbeda dengan Museum Kecantikan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kecantikan, museum ini sebenarnya punya kaitannya. Menurut kami, museum ini lumayan sekali. Sayangnya, hanya kami berdua yang menjadi pengunjung di tempat itu. Tempatnya juga sedikit “gelap” dan “dingin” sehingga membuat kesan museum itu spooky. Tapi karena kaki kami sudah capek jalan kesana-kemari dan di luar hawanya panas sekali, kami memutuskan untuk “leyeh-leyeh” di ruangan di lantai dua Museum itu sambil melihat orang lalu-lalang di depan/bawah museum. Saya sebenarnya suka dengan bangunan museum yang ini. Menurut sejarahnya, gedung ini dulunya ada resident dari keluarga Belanda yang kaya raya, tetapi kemudian dihibahkan kepada pemerintah Malaysia. Dibangun dua tingkat, sebagian besar bahan dari gedung ini berasal dari kayu, termasuk juga dengan lantainya. Ini bisa menjelaskan mengapa gedung ini hawanya dingin bahkan tanpa AC sekalipun.

Satu hal sebenarnya, meskipun museum di Melaka tidak seperti yang ada di Eropa atau Amerika Serikat, paling tidak pemerintah disana sudah mulai membuat museum. Di beberapa museum, sudah lumayan banyak keluarga-keluarga yang membawa anak-anak mereka untuk mengunjungi museum bersama dengan mereka. Tidak jarang, para orang tua juga menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang museum itu sendiri.

 

 

Leave a Reply