Miscellaneous Solo Travel in Europe

Ketika traveling sendirian di Eropa yang kebetulan di beberapa negara tidak berbahasa Indonesia, berikut beberapa hal yang saya lakukan dan ingin saya share kepada (yang mungkin) ingin ke Eropa sendirian. Apalagi, di dalam perjalanan kemarin, saya tidak membawa (memiliki) smartphone. Jadi, sedikit agak challenge dimana sekarang ini karena saya tidak bisa mencari navigasi secepatnya, dimanapun saya berada.

  • When You Need Direction: Ask Young People or Find a Cafe

Empat negara yang saya kunjungi (Belanda, Jerman, Cheko, dan Perancis), bukanlah negara yang menggunakan Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Saya tidak cukup kuatir dengan Belanda. Seperti yang sudah pernah saya tulis di catatan sebelumnya, orang Belanda adalah orang-orang yang bisa berbicara banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris. Mereka sangat fasih dengan bahasa ini, baik tua ataupun muda. Nah, mungkin sedikit masih menjadi challenge di Jerman, Cheko, dan Perancis. Yep, terutama Perancis. Kita sering mendengar tentang bangganya orang Perancis dengan bahasanya sampai mereka menolak berbicara dengan bahasa lainnya. Itu yang membuat saya agak was-was di awal. :). Tapi kemudian terbukti, bahwa di Perancis, orang-orang mengajak saya berbicara terlebih dahulu, dan menolong saya. Nah, tapi secara umum (kalau kepepet bertanya),carilah anak muda! Anak-anak muda di kota-kota besar di Eropa, umumnya sudah berbahasa Inggris. Mungkin, pada umumnya tips mengatakan, tanyalah pada polisi. Masalahnya, ketika kita kepepet untuk bertanya itu, kita tidak akan selalu bertemu dengan polisi. Bisa jadi kita bertemu polisi, tetapi polisi itu belum tentu berbahasa Inggris.

Di Berlin dan Praha saya menggunakan tip ini. Ketika di Berlin, saya sangat desperate untuk mencari internet karena di apartemen teman saya menginap tidak ada internet. Well, kalaupun ada, saya tidak tahu password-nya karena si empu rumah sedang tidak di Berlin. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke cafe seberang rumah dia. Kebetulan, cafe itu yang punya adalah imigran (entah Turki entah orang Timur Tengah) yang berbicara dengan bahasa Jerman – yang jelas tidak saya kuasai, kecuali kata “danke.” Untunglah, ketika saya tengah kebingungan, di cafe itu masuk mas-mas muda dan cakep. Ya sudah, saya minta dia jadi interpreter di antara si bapak pemilik restoran dan saya. Terus pengalaman kedua, ketika saya di Praha. Waktu itu, saya sedang kebingungan tingkat dewa untuk mencari alamat si Linda, akomodasi saya harus menginap. Saya sudah jalan bolak-balik tidak karuan dalam waktu satu jam dengan membawa bangkelan saya. Memang, bangkelan saya tidak banyak, tetapi kalau dibawa kesana kemari selama satu jam lebih, ya cukup kerasa… Hahahaha. Alamat si Linda bagi saya cukup membingungkan. Meskipun katanya “tidak jauh” dari stasiun, saya sudah berjalan jauh dari stasiun tetapi tidak juga menemukan alamat dia. Saya mencoba bertanya kepada orang yang lewat, tetapi mereka juga sama seperti saya, TURIS. Jadi, mereka juga tidak tahu. Di tengah kebingungan saya, saya memutuskan untuk masuk ke cafe atau bar lokal karena disana akan banyak orang lokal biasanya. Ketika saya akan masuk ke dalam bar, kebetulan ada mas-mas cakep keluar. Dan, dia dengan segera berusaha mencarikan alamat yang sedang saya cari. Tapi, dari semua orang muda yang saya tanya alamat yang sedang saya cari, yang akhirnya memecahkan kebingungan saya sampai saya berhasil menemukan alamat yang saya cari adalah anak umur 9 tahun! (Saya akan menuliskan di cerita yang berbeda). Tapi, secara umum, bertanya kepada anak muda akan lebih efektif. Karena berbeda dengan generasi tua, mereka either mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di sekolah atau mereka lebih open minded dibandingkan dengan generasi tua. Generasi tua, bisa jadi mereka bisa berbahasa Inggris, tetapi tidak mau menggunakannya. Amannya, bertanyalah kepada para anak muda.

  • Have an Overnight Stay in the city where your flight back will depart.

Yep, menginaplah semalam sebelum penerbanganmu di kota darimana pesawat itu akan berangkat. Misalnya, kalau pesawat itu dari Schiphol, paling tidak menginaplah semalam di Belanda. Boleh juga, di malam terakhir itu, Anda bisa belanja-belanji karena sebelumnya kalau muter disana-sini malas bawaan buat belanja, hehehe.

oleh-oleh yang pengen saya bawa pulang

Kesalahan yang menurut saya hampir “fatal” adalah saya baru pagi hari dari Paris. Padahal, penerbangan saya sore harinya dari Amsterdam. Waktu itu mikirnya, kereta api di Eropa itu sangat tepat waktu dan reliable. Tidak mungkinlah sampai terlambat. Makanya, di tiket yang dipesan, ada selisih 4 jam dari keberangkatan pesawat. Tapi, apa mau dikata, kereta yang membawaku dari Paris ke Amsterdam (Thalys), terlamat berangkat sekitar 20 menit dari Paris. Belum lagi, kereta itu tidak langsung Schiphol (karena mahal banget yang direct), makanya naik-nya Thalys cuma sampai di Brussels. Dari Brussels nyambung kereta biasa. Saya sudah mau nangis rasanya ketika dari Paris kereta saya terlambat segitu banyak, karena di hitungan jam, waktu 30 menit itu adalah waktu saya bisa interchange dari Thalys ke IC. Nah, karena saya sudah telat dari Paris, maka ketika saya sampai di Brussels, saya berlari-lari mencari platform dimana KA akan berangat. Ya, tentunya, KA sudah berangkat. Beneran deh saya ingin nangis rasanya. Belum lagi, di tiket KA ditulis kalau saya harus inter-change (lagi) di Rotterdam. Aduh, berapa lama lagi saya bisa sampai di Schiphol. Rasanya, benar-benar saya ingin menangis. Karena, keterlambatan saya dampaknya bisa multiple: termasuk penerbangan saya kembali dari KL ke Surabaya.

Untungnya, KA dari Brussels ke Schiphol itu berangkat tiap jam. Jadi, saya bisa boarding next train. Terus kemudian itu adalah direct train, jadi saya tidak perlu pindah KA di Rotterdam. Tapi, pelajaran berharganya, saya harus sehari sebelumnya ada di kota darimana kereta saya akan berangkat. Sejelek-jeleknya, saya masih bisa naik taksi.

Ohya, tip lain untuk menginap, kalau bisa carilah tempat di sekitar stasiun. Karena itu akan memudahkan Anda dalam banyak hal. Memang agak mahalan sedikit biasanya, tapi cukup worth it kok.

  • Bring Light Clothes like Linen

Inilah ajaibnya saya. Selalu bawa baju berbahan tipis atau linen. Karena saya malas orang yang bawa banyak baju dan gembolan, dengan bahan-bahan baju yang mudah kering ini, saya bisa mencuci dimanapun saya berada. Malam cuci, pagi sudah kering. Kunci saya ketika packing: bawa barang yang saya bisa bawa sambil lari, hehehe. Bawaan saya di Eropa kemarin (termasuk laptop), total hanya sekitar 7 kg – yang menurut saya sudah kebanyakan. hahaha. Next time, harus bisa 5 kg saja.

  • Keep Positive

Itu tips yang paling penting. Selalu positif. Karena saya sendirian ke Eropa, dan belum pernah kesana sama sekali, saya hanya niat Bismillah saja. Kalau ke US sendirian, saya bisa pastikan, saya akan percaya diri saja. Karena, saya pernah tinggal di negara itu dua tahun. Jadi, paling tidak, saya tahu bagaimana seluk beluknya. Dan, tentunya, orang-orang pada pakai Bahasa Inggris, hehehe. Tapi, dengan tidak memikirkan apa-apa yang buruk, saya ditolong oleh banyak orang di jalan. Teman saya Eva yang tidak saya sangka ada di AMS, menjadi tour guide selama saya di AMS, dan traktir saya disana dan disini. Duit saya jadi “haram.” Wkwkwk. Atau Sarmina di Berlin, yang bertemu dengan saya hanya satu kali di Surabaya, dan ngobrol hanya dua jam, menawarkan apartemen dia di Berlin. Padahal disaat itu, dia sedang tidak di Berlin. Jadilah saya menikmati sendiri apartemen dia di downtown Berlin. Dan, juga banyak orang yang saya temui di jalan. Bahkan, saya sempat mendapatkan “keajaiban” kecil di Praha. Ketika itu saya terbang dengan Air France dari Praha ke Paris. Karena bagasi dijual terpisah di Air France (dan itu mahal), saya memutuskan untuk tidak menggunakan bagasi. Tetapi, ketika checking in saya terkejut, tiba-tiba saya diminta untuk memasukkan jumlah bagasi. Saya bisa dapat free bagasi tidak hanya satu, tetapi dia. Wuahhh.. seperti kejatuhan duren rasanya. Tentunya saya terkejut karena saya tidak merasa beli bagasi. Kemudian saya konfirmasi ke petugas. Kata bapaknya, ini bagasi gratis ini karena Mileage GA saya. Kenapa saya dapat fasilitas di Air France? Ya, karena mereka sama-sama anggota Sky Team.

Leave a Reply