Mindset & Tidak Mau Repot

bike-1

Sedikit lanjutan dari post saya sebelumnya. Membuang sampah di sembarang tempat. Naik motor di atas trotoar dan melawan arus. Dan hal-hal bodoh lainnya tidak bisa dilepaskan masalah mindset (pola piker) dan tidak mau repot. Orang yang membuang sampah di sembarang tempat tidak mau repot :”membawa” dan “menyimpan” dulu sampah yang dihasilkan sampai dengan menemukan tempat pembuangan yang proper. Orang yang naik motornya di atas trotoar, tidak mau repot-repot untuk mencari putaran balik. Shortcut, ya lewat saja atas trotoar. Tidak mau berpikir lagi apakah itu membahayakan pejalan kaki atau tidak. Apakah akan merusak trotoar atau tidak. Tidak penting itu. Yang penting cepat sampai di tujuan.

Bertahun yang lalu, saya ikut dalam studi tentang pembangunan kakus oleh masyarakat. Prinsip pembangunan kakus itu simple, jangan bangunkan masyarakat kakus. Biarkan mereka membangun sendiri kakusnya. Tapi, mindset mereka harus diubah. Sehingga, mereka tidak lagi buang air besar di kebun, sungai, tepi hutan, atau bahkan kebun belakang rumah. Bertahun yang lalu, masalah buang eek di sembarang tempat ini berubah dikepras oleh pemerintah dengan membangunkan mereka kakus. Hasilnya? Kakus tidak dipakai dan beralih fungsi jadi tempat lain. Misalnya jadi gudang. Alasannya macam-macam. Kakusnya terlalu bagus. Jadi sayang kalau dipakai buat eek. Tidak enak buang air besar di kakus, enakan di sungai. Soalnya, pantatnya kena air. Bermacam-macamlah alasan yang diberikan.

canal-1

Intinya, mereka tidak merubah pola pikir mereka. Beragam cara dilakukan untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari buang air di sembarang tempat. Lalu, yang kemudian dilakukan oleh dengan melakukan perubahan pola pikir mereka dengan mereka diminta (berdasarkan kesadaran mereka sendiri) untuk membangun jamban. Yah, di satu sisi mereka juga “dipermalukan” di depan their fellow villagers kalau tidak punya jamban. Efek memperlakukan warga karena tidak memiliki jamban ini kemudian banyak dikritik oleh kalangan ilmuwan sosial dengan mengatakan itu adalah warisan dari colonial. :). Apapun itu alasannya, saya setuju dengan melakukan perubahan pola pikir.

Di Indonesia ini, memang budaya membuang sampah di tempatnya masih sangat parah. Budaya untuk tertib lalu lintas setali tiga uang. Orang mau patuh dengan peraturan lalu lintas bukan karena mereka memandang patuh itu perlu demi keselamatan pengguna jalan, tetapi karena mereka tidak mau disemprit dan didenda oleh polisi.

Kadang percuma saja di banyak tempat ditempelin tulisan besar “Buang Sampah di Tempatnya.” “Kebersihan Sebagian dari Iman…” Aih, saya kadang suka malu juga. Negara yang mengaku sangat agamis dan sering mengkafir-kafirkan orang atau negara lain tetapi perilakunya seperti ini. Saya tahu, para guru di sekolah sudah menyampaikan dan mencontohkan membuang sampah pada tempatnya kepada para anak didiknya. Tetapi, kadang kembali ke rumah, anak tidak didukung oleh keluarga yang berperilaku seperti itu. Kadang, para orang tualah yang “memberikan” contoh seperti itu kepada anak-anaknya. Ini kadang yang membuat saya geleng-geleng kepala super kenceng. Kalau seperti ini, mungkin sepertinya dibutuhkan upaya yang keras dan tegas untuk merubah hal-hal “sepele” tapi besar seperti ini.

wholefoods market

Membuang sampah kelihatannya sepele. Berlalu lintas sesuai dengan rambu sepertinya memang hal sepele. Tapi, bagi saya, itu adalah hal-hal yang sangat besar. Hal yang menunjukkan sebenarnya sebagian dari karakter kita.

Dan, apa yang digemborkan oleh pemerintah dengan revolusi mental itu sebenarnya haruslah segera dilaksanakan. Tidak hanya slogan indah dari kementerian. Tetapi harus segera dilaksanakan.

Leave a Reply