Menjadi Raja dengan Lima Ribu Rupiah

Ini masih seputar obrolan tidak penting dengan teman baik saya. Selain hal-hal tidak penting, sudah beberapa saat kita memperbincangkan dampak aplikasi online kepada tingkat kemalasan orang Indonesia yang semakin meninggal. Sudah bukan rahasia kalau orang Indonesia itu selalu enak saja maunya. Misalkan, karena ada sepeda motor, ke Indomaret ke jaraknya hanya 300 meter juga naik sepeda motor. Kalau cari parkir di mall atau di perkantoran, pasti carinya yang paling dekat dengan pintu masuk. Biar jalannya tidak usah jauh-jauh. Malas, panas.

Cerita ini adalah ketika dia membeli terang bulan di tempat langganan kita yang dulunya di depan Prima Buah. Karena si toko pindah, si bapak penjual martabak-terang bulan ikut pindah tempatnya. Si bapak bilang, sekarang para pelanggan dia kalau beli martabak dan terang bulan dia tidak mau lagi datang langsung. “Pakai Gojek sekarang. Padahal rumah mereka di seberang jalan situ lho…..” Ohya, mereka juga tidak keberatan dengan harga yang lebih mahal Rp. 5 ribu buat harga martabak dan terang bulannya. “Kan ongkosnya di seberang jalan cuman lima ribu juga, Nik….”

Benar, adanya aplikasi yang bisa mengantarkan makanan lebih menjadikan orang Indonesia menjadi raja. Tidak butuh duit bermilyar-milyar atau punya ladang minyak di Kalimantan. Cukup dengan Rp. 5 ribu saja. Saya ingat banyak malam yang saya habiskan di rumah Lene waktu kita marathon nonton drama Kroya. Tidak pernah sekalipun kita keluar. Hanya bermodal telepon, kami bisa makan dan minum apa saja yang kami inginkan. Bakmie-nya Acong. Kopinya Monopole. Bebeknya Pak Slamet. Iga Bakar Lekko. Sudahlah.. apa saja. Seakan dunia dan seluruh restoran se-Surabaya ada dalam genggaman kami. Kami juga semakin malas gerak (mager). Sambil makan, kami melotot melihat oppa-oppa dengan baju warna pink dan bunga-bunga yang membungkus abs enam atau delapan kotak mereka, sambil sesekali kami mengkritisi plot drama yang sedang kami tonton.

Si teman ini pernah bercerita pada saya. Beberapa tahun lagi dia diajak keluarga besarnya untuk pindah ke negaranya Justin Trudeau. Dengan berbagai alasan, dia selalu keberatan. Dia setengah berbisik kepada saya alasannya. “Disini, dengan lima juta sudah bisa menjadi raja… Di sana coba… Dengan lima juga kita tidak bisa apa-apa….” Ya iyalah, disana, dengan duit lima juta atau bolehlah di up-grade jadi duapuluh juta sebulan, tetap saja kita tidak bisa apa-apa. Apa-apa harus sendiri. Masak. Membersihkan rumah. Antar anak sekolah. Disini, dengan lima juta, kita bisa punya babby sitter dan tukang becak ada dimana-mana. Mau cari makan apa saja gampang. Di negeri itu, semuanya mesti dilakukan sendiri. Kalau mau makan, pilihan antara makan dengan harga lebih mahal ataupun masak sendiri. Di Indonesia? Banyak alternatif-lah. Bisa dimasakkan si Iyem di belakang. Bisa beli di luar. Kalau dalam konteks sekarang, malas keluar rumah ya tinggal pencet-pencet HP. Kurang dari 30 menit, makanan sudah ada di depan kita. Tidak perlu repot toh. Tidak perlu mandi dan ganti baju.

Tapi memang benar, kalau ingin kemapanan, segala keteraturan, dan semua yang sudah bisa diramalkan, disanalah pilihan yang tepat. Tapi hidup bukan lagi sebuah kejutan. “Tapi, aku lebih memilih lima juta disini daripada ber-eM eM disana….Bagiku, kebebasan kita tidak bisa ditukar dengan apapun…” Kebebasan dalam term teman saya ini bukan sebatas freedom for speech and from fear, tapi juga kebebasan kita ingin apa bisa didapatkan, termasuk waktu santai.

Leave a Reply