mengapa kita nyusuh?

susuh-1

Sepanjang yang saya ingat, saya selalu “nyusuh.” Belum pernah sekalipun, saya “clutter free” atau bebas susuh.  Baik ketika saya tinggal di Kedungtarukan atau ketika di St. Louis. Sekarang, sudah agak lumayan sih, tetapi, tetapi tetap saja, masih punya susuh, hehehe.

Lalu, mengapa saya nyusuh? Paling tidak, ada tiga hal yang menyebabkan itu.

  • Our stuffs are invisible

Ketika kita memiliki banyak barang, barang-barang itu akan berkecenderungan untuk kita tumpuk. Ketika kita membeli barang baru, barang lama akan otomatis terlupakan. Atau bahkan, kita beli barang baru, tetapi kita juga tidak memperhatikannya. Barang-barang kita menumpuk tanpa kita tahu barang-barang apa saja yang kita miliki. Baik itu baju, sepatu, buku, tas, atau hal-hal yang lainnya. Yang paling membuat kita lupa sebenarnya, adalah barang-barang itu terpendam jauuuuhhhh di dalam almari. Sounds familiar?

  • We’ll Use it Later

Penyebab kita nyusuh yang kedua adalah, barangkali kita membutuhkannya lagi. (Mungkin) Kita akan membacanya lagi nanti kalau ada waktu. Tapi kemudian, later itu tidak pernah ada. Coba, berapa banyak buku di rumah yang hanya kita tumpuk tanpa kita benar-benar membacanya di masa yang akan datang? Pun, kita juga tidak akan membutuhkannya di masa yang akan datang.

  • Not Enough Stuffs

susuh-3

Alasan lainnya, mengapa kita numpuk barang adalah barang yang kita miliki kurang banyak. Kurang lengkap. Bagaimana kalau kita kehabisan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Makanya, kita cenderung menumpuk barang-barang. Dalam kasus saya, saya paling sering menumpuk bahan makanan. Ah, seperti saya takut akan terjadi kelaparan di muka bumi. Belum sampai saya menghabiskan chia seeds, misalnya, saya sudah order lagi.

Karena susuh itu, sejak tiga tahun yang lalu (2013), saya gigih melakukan bersih-bersih secara regular. Meskipun, saya sudah melakukan gerakan bersih-bersih atau istilah kerennya, “decluttering.” Suatu hal yang menjadi mainstreaming di kalangan kaum minimalist. Ya, saya sudah melakukan itu salama beberapa kali. Memilah, membersihkan, mendonasikan, membuang, dan sebagainya. Biasanya, setelah melakukan gerakan bersih-bersih, akan terjadi rebound atau saya mulai nyusuh lagi. Kamar saya tidak lagi rapi. Lemari juga isinya menjadi berantakan. Dan buku-buku berada di sana-sini. Persis seperti biasanya. Tidak lama setelah itu, saya kembali menjadi berantakan lagi. Bersih-bersih lagi. Rapi lagi. Berantakan lagi. Seperti itu siklusnya.

Bagi kaum minimalist, yang terpenting adalah mengeleminasi barang-barang (getting rid of stuffs) yang tidak memberikan “value” bagi hidup kita. Mereka tidak hanya melakukan de-cluttering, tetapi juga de-own. Mereka mampu bertahan dengan barang-barang yang sangat sedikit. Misalnya, Leo Babauta dari ZenHabit yang hanya memiliki barang kurang dari 100 hal. Courtney Carver dari belesswithmore yang hanya memiliki wardrobe 33 biji dalam 3 bulan. Dia terkenal dengan 333 project-nya. Atau si cakep Colin Wright di exilelifestyle.

laundry

Mereka lebih menekankan memiliki barang sesedikit mungkin sehingga hidup mereka tidak dihabiskan untuk mengurusi barang-barang yang kita memiliki. Jangan sampai barang-barang itu “memiliki”, dan sebisa mungkin untuk tidak memiliki “attachment” dengan barang-barang yang kita miliki. Barang ya hanya sekedar barang. Kita hanya menggunakannya saja. Ketika kita sudah tidak membutuhkan atau sudah tidak menyukainya, ya kita tinggal kasihkan ke orang lain, kita jual, atau kita buang. Hanya ada tiga pilihan itu.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Saya juga sudah melakukan itu semua. Hal-hal yang tidak lagi memberikan nilai tambah, saya “pensiunkan.” Namun, saya merasakan ada sesuatu yang kurang dengan approach ini. Sampai pada suatu ketika, saya memutuskan untuk membeli buku Marie Kondo, “The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing.” Dari bukunya ini, dia berbagi bagaimana bersih-bersih dengan pendekatan yang dikenal dengan KonMarie Method. Baru saya kemudian mulai menemukan dimana sebenarnya missing link dari persoalan yang saya hadapi. Saya merasakan adanya Asian wisdom di dalam buku yang ditulis oleh Kondo – cara bagaimana dia memperlakukan barang-barang dia, meskipun barang itu kemudian pada akhirnya juga dipensiunkan. Suatu hal yang tidak saya temukan di dalam packing party yang dilakukan oleh para minimalist di Barat. Well, saya tidak tahu apakah Kondo seorang minimalist adalah bukan. But I assume she is.

buku-2

Jadi, prinsip di dalam Kon Marie adalah “just keep the things that sparks you with joy.” Jadi, barang-barang yang kita miliki adalah barang yang ketika mengenakannya – atau bahkan kita sentuh saja, kita sudah merasakan bahagia yang luar biasa. Itu prinsipnya. Dari sinilah, kita bisa mengeleminasi barang-barang yang tidak kita butuh. Dan, ketika barang-barang itu sudah tidak kita butuhkan dan kita pensiunkan, kita memberikan gratitude (penghargaan) kepada barang-barang itu karena selama ini mereka telah bekerja keras bagi kita. Gratitude terhadap barang-barang itu dia lakukan setiap harinya, terhadap barang-barang yang dia pakai. Poin inilah yang tidak saya temukan di kalangan kaum minimalist di Barat. Jujur, saya sangat terkesima dengan metode yang dilakukan oleh Kondo ini. Bagaimana dia kemudian berkomunikasi dengan barang-barang yang dia miliki. Dalam hal ini, dia sebenarnya melakukan attachment dengan barang-barang dia.

Dengan kita memberikan gratitude terhadap barang-barang kita, mereka juga akan lebih awet lagi. Karena kita secara otomatis akan menghargai kerja keras mereka. Kita merawat mereka. Ah, saya jadi ingat ketika jaman kecil dulu bagaimana para orang tua merawat barang-barang mereka. Jadilah, barang-barang orang dulu memang lebih awet dibandingkan dengan barang-barang orang sekarang. Mungkin benar, kalau barang-barang sekarang diproduksi untuk jangka waktu tertentu dan tidak long-lasting, tetapi ini juga didukung kalau orang jaman sekarang mayoritas memang kurang menghargai barang-barang yang mereka miliki. Mentang-mentang mereka ada uang untuk membeli lagi ketika barang-barang itu rusak. Barang-barang hanya digunakan saja. Diambil manfaatnya, tanpa pernah kita mau mengucapkan terima kasih tentang apa yang telah mereka lakukan.

Lalu, bagaimanakah saran Kondo untuk bersih-bersih ini? Dari buku dia, ada beberapa poin menarik apa yang bisa kita lakukan.

  • Make things visible

Barang-barang yang kita miliki dibuat kelihatan semua. Jadi, kita sebenarnya tahu barang-barang kita itu apa saja. Yang dia sarankan untuk menata baju adalah dengan digulung dan kemudian ditaruh di drawer (laci), atau di dalam case saya, saya taruh di tray.

  • One Place Rule

Barang-barang ditempatkan pada tempat yang telah diperuntukkan untuk mereka. Dijadikan satu adalah teorinya. Dan setelah barang-barang dipakai, akan dikembalikan ke tempat semula. Semua proses ini, sebenarnya tidak memakan waktu lama.

  • Wait till it Last

Bertujuan agar kita tidak menumpuk barang. Kita akan melihat sampai kapan barang itu akan habis. Dan kita baru membelinya. Sesungguhnya, ini memberikan pelajaran bagi kita apakah kita benar-benar membutuhkan barang itu atau tidak. Juga, apakah kita bisa menemukan substitusi untuk itu atau tidak.

  • Sparks Joy

Itu yang terpenting. Barang-barang yang kita miliki adalah barang-barang yang bisa memberikan kita kebahagian. Jadi, tidak sekedar barang-barang yang kita cintai. Tidak penting sebenarnya apakah kita memiliki barang banyak atau sedikit kalau menurut saya, hehehe.

  • Gratitude

Kita mengucapkan terima kasih terhadap barang-barang yang kita miliki atas kerjasamanya dalam mendukung apa yang telah kita lakukan. Ah, this is so Asia, and I love it.

thank you

Kondo menyarankan, ketika melakukan packing party, harus dilakukan dalam “one go” alias sekaligus. Tetapi, dari pengalaman yang saya lakukan, saya belum bisa melakukan dalam “one go.” Saya mungkin memerlukan beberapa step untuk itu, hehehe. Dari hasil saya merapikan baju dan buku, akhirnya, saya menemukan polis asuransi yang saya kira hilang. Saya mengindentifikasi buku-buku yang ingin saya donasikan. Atau saya sungguh terkejut ketika saya “ternyata” memiliki buku ini. Dan, on the one go, saya membaca kembali buku-buku kuliah S2 yang sudah “saya lupakan.” Dan jadi mikir, kenapa ya saya beli buku tentang public schools di Amerika Serikat, wkwkwkwk.

Leave a Reply