“Mbaknya Jalannya Cepet Sekali…..”

Itu adalah komentar tukang ojek pangkalan yang saya naiki malam ini sepulang dari kerja. Sebenarnya, setelah turun dari angkot, saya ingin jalan saja pulang ke rumah. Well, karena udara lumayan sejuk dan angin berhembus dengan sepoi. Juga, saya ingin menikmati malam ini dengan berjalan dan bikin rileks saja. Hanya saja, setelah beberapa meter saya jalan kaki, perasaan saya tidak enak. Kayaknya deh mau turun hujan. Langsung saya jalan balik ke arah pangkalan ojek yang tepat di belokan jalan besar.

Memang, di musim hujan seperti ini, saya jarang sekali bawa sepeda. Belum lagi karena kadang-kadang jam pulang saya yang tidak bisa dipastikan, juga kalau sore/malam juga suka tiba-tiba hujan. Atau, kalau sudah hujan, dia tidak berhenti-henti. Saya malas kalau harus meninggalkan sepeda di tempat penitipan sepeda. Makanya, saya sering jalan kaki saja kalau pagi. Kalau pulangnya udara bagus, saya jalan kaki. Kalau udara jelek, saya langsung naik ojek di pangkalan. Dan, seringnya cuaca jelek. Tiap pagi, saya jalan kaki. Jarak rumah saya dengan jalan besar lumayan,sekitar 2 KM. Saya biasanya tempuh dalam jarak waktu 15-20 menit; tergantung kecepatan saya jalan.

Di tengah-tengah si bapak ini nyetir, tiba-tiba dia menyeletuk, “Mbak ini jalan kakinya cepat banget ya…..” HAHAHAHAHAHA. Sepertinya, jalan kaki saya yang cepat telah menjadi bahan rasan-rasan di kalangan tukang ojek pangkalan. Well, Bapak Ojek, Anda bukan orang yang pertama kali bilang jalan saya kenceng. Kemarin, saya jalan sama sepupu saya ke TP. Tiba-tiba sepupu saya bilang, “Mbak, kamu kerasa aneh ga?” Jawab saya, “Hah? Aneh? Aneh kenapa?” Sepupu saya kemudian cerita bagaimana cepatnya jalan kita di mall. Sepupu saya juga bilang kalau dia sudah menaikkan kecepatan jalannya gara-gara cara jalan saya. ¬†Saya jawab sepupu saya, “Ini aku sudah menurunkan kecepatan jalan saya sepertiganya…..” Sepupu saya yang langsung jaw dropped. :)))))))).

Diantara orang di keluarga saya, jalan saya yang paling cepat. Berbeda sekali dengan ibu saya yang jalannya super lambat. Mungkin, kecepatan jalan ibu saya 1/4 kecepatan jalan saya. Ibu saya, kalau jalan kaki “benar-benar dinikmati.” :). Saya tidak tahu sejak kapan jalan kaki saya super cepat. Mungkin sejak jaman kuliah S1. Jaman itu, karena saya sering tidak punya duit untuk jajan dan makan di kampus, saya seringkali pulang ke rumah untuk makan siang. Padahal, sorenya saya harus balik ke kampus untuk kuliah lagi. Mau naik angkot juga sayang uangnya. Uang naik angkot bisa saya belikan tempe dan kangkung. :). Makanya, saya sering memutuskan jalan kaki saja ke kos saya yang letaknya dekat Kampus A; padahal kuliah saya ada di Kampus B. Jadi lumayan jalannya. Antara kebutuhan makan siang dan kembali ke kampuslah yang membuat saya “terpaksa” jalan cepat-cepat. Belum lagi ditambah saya harus kerja part-time di rental komputer. Semakin jadilah kecepatan jalan kaki saya.

ini sepatu saya yang “paling tidak enak dipakai”. Tapi saya suka sama warnanya, dan dia tahan air. Ah, itu saja sih.

Saya senang saja jalan kaki cepat. Cuman sedikit di-complain sama orang-orang di sekitar saya. Tapi, apa boleh buat. Enak lho jalan kaki cepat. Karena saya sering jalan dan jalan kaki saya cepat, makanya saya suka sekali dengan sepatu yang bagus. Ketika saya ke Eropa, entah bagaimana ceritanya saya “salah” bawa sepatu. Sepatu yang “seakan-akan” enak dipakai, ternyata begitu menyiksa saya sekali. Ingin sekali saya melempar sepatu saya ke Sungai Seine, tapi apa daya. Saya lagi pelit untuk membeli sepatu lagi. Akhirnya, saya harus tahan-tahan menggunakan sepatu itu untuk tetap mengukur jalanan di Eropa berkilo-kilo meter jaraknya.

Leave a Reply