Mahalnya Tempat Duduk di Jepang

Sore itu di Ginza, yang kami inginkan hanya satu: TEMPAT UNTUK DUDUK!. Sambil menunggu dua nyonya yang sedang kalap di GU, kami hanya ingin duduk dan melemaskan kaki. Sayangnya, tempat duduk yang dicari tidak ada. Di GU, tidak ada tempat duduk. Saya mencoba duduk di pojok ke arah pintu darurat, tapi dimarahi oleh mbak yang jaga toko dan dilarang untuk duduk di tempat itu. Lalu, berbisik dengan teman, bagaimana kita mencari cafe sambil menunggu dua nyonya itu.

orang pada makan di Pasar Ameyoko

Di seberang GU, kami melihat ada cafe, tetapi kami malas untuk menyeberang. Di sebelah GU, kami melihat ada satu department store, dan ada cafe di lantai 1. Tapi kemudian kami berdua mikir, jika di Jepang umumnya ketika ke restaurant atau cafe biasanya harus membeli makanan dan minuman (kecuali cafe shop). Kami membatalkan pergi ke cafe yang sudah seperti restaurant itu. Karena yang kami butuhkan hanya tempat duduk (minum masih boleh-lah), tapi kami tidak lapar dan sedang tidak ingin makan.

Kami scanned lagi area disitu. Kami kemudian melihat ada flower shop yang merangkap cafe. Kami memutuskan untuk pergi ke situ. Eh, ternyata antriannya mengular panjang sekali. Terus kami berpikir, bagaimana jika kita tunggu di stasiun Ginza. Biasanya disana ada tempat makan atau tempat duduklah. Namun, begitu kami masuk ke Ginza, kami tidak melihat ada restaurant atau tempat duduk. Jadilah kami memutuskan untuk langsung pulang ke Asakusa dan menunggu mereka di stasiun. Di Asakusa, kami berhasil mendapatkan satu tempat duduk di Tully’s Coffee Shop yang ada di Lantai 2 Stasiun Asakusa.

Ginza pada hari Minggu

Ingat kejadian di hari pertama kami tiba di Jepang. Kami sedang di Ameyoko dan sudah sangat kelaparan. Makanan di pesawat yang kami santap sebelum landing, sangat kecil sekali porsinya. Tentunya tidak cukup untuk membuat kami bertahan sampai sore. Eh jangankan sampai sore, ketika menunggu kereta ke Ueno saja saya sudah menghabiskan bekal camilan dari Indonesia. Dan memang, hari itu sudah siang dan memang sudah waktunya makan siang.

Lalu, sebelum masuk ke pasar, kami memutuskan dulu untuk makan ke sebuah restaurant. Kami memutuskan untuk makan tengah saja karena bisa berbagi. Menu yang kami pesan: dua porsi ayam goreng, tamago, ikan, dan soup buntut Jepang, beserta empat mangkok nasi. Ketika kami memutuskan tidak memesan minuman karena kami ingin mencoba coffee shop yang letaknya tidak jauh dari restaurant itu. Pelayanannya bilang, kami wajib untuk memesan minuman. Ya sudah, saya akhirnya pesan bir zero alkohol (hihihihi.. ya namanya tidak lagi zero beer sih, tapi soda kali). Same thing goes to another restaurant we had dinner that evening. We needed to at least order one drink for each person! Saya masih mikir, kenapa bisa begitu ya?

yang kami pesan di Ameyoko

Baru setelah kejadian di Ginza itu, saya berpikir, ini sepertinya ada kaitannya dengan space availability atau sempitnya space di Jepang. Misalnya, jarang ada tempat makan di Jepang yang tidak ngantri. Bahkan tidak jarang orang akan antri sejak tempat makan itu belum buka. Untuk sekedar beli jajan saja juga harus antri. Dan, di Jepang sepertinya tidak acceptable untuk makan sambil jalan (oh ini juga mungkin mempengaruhi kadang-kadang sulit untuk menemukan tempat sampah karena dia biasanya hanya ada di dekat tempat makan). Jadi, jika restaurant kecil, ya orang akan menyelesaikan makan di dalam; customer lainnya akan antri di luar untuk menunggu meskipun itu hanya jajan, bukan makan besar.

antrian beli es krim di Kamakura

Jadilah, banyak orang antri hanya untuk makan (kalau di Surabaya, tempat makan yang antriannya sampai gila itu hanya di Apeng Kwetiau Medan :P). Jadi, kalau misalnya di restaurant kita hanya pesan makanan saja, dia akan rugi. Karena mungkin customer lainnya yang sedang mengantri atau potential customers yang tidak jadi mampir karena melihat panjangnya antrian akan memesan lebih banyak makanan dibandingkan kita.

Leave a Reply