Life’s Good

photo-8

Kemarin siang ketika saya menikmati coklat panas dari termos yang saya bawa dari rumah, nikmat sekali. Coklat panas ini dibuat dari coklat bubuk campuran dari Jawa Barat dan Bali. Saya tambahkan sedikit gula aren dan vanilla yang saya beli dari keluarga petani di Bali. Dan, saya masak dengan santan kelapa. Rasanya nikmat sekali. Seperti belum pernah saya merasakan coklat panas yang sedemikian nikmatnya. Meski saya sering membuatnya. Atau bahkan membeli di café, tapi rasanya sangatlah beda. Mungkin, saya menikmatinya dengan sangat mindful.

Kemudian, saya teringat obrolan dengan teman baik saya beberapa hari yang lalu. Teman saya ini, besar secara Katolik, tetapi sudah lumayan lama tidak pergi ke gereja. Eh tapi jangan salah, teman saya ini orangnya sangat “religious.”

“Aku tadi malam baca Bible. Surat Pengkotbah. Intinya adalah, sebenarnya setiap manusia itu punya cobaannya sendiri-sendiri. Tetapi yang penting bagi manusia sebenarnya adalah “live the moment.” Bagaimana kemudian manusia itu bisa makan, minum, tidur (have a shelter), dan bergembira. Itu adalah hal yang penting.” Tidak peduli apakah orang ini kaya atau miskin. Karena tidak semua orang kaya bisa bersuka cita dan bahagia, dan lebih banyak orang miskin yang sangat bahagia.

“Belum tentu ya, seorang konglomerat bisa makan dan minum dengan enak. Bisa tidur dengan nyenyak di malam hari (karena insomnia), dan kemudian dirinya bersuka cita.” Dari semua “kondisi” ini yang paling susah adalah bersuka cita. Tetapi kemudian, berpikirlah kita, kalau sukacita adalah rasa yang datangnya dari dalam diri kita sendiri. Faktor eksternal ada, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menciptakan dan kemudian menyebarkannya. Saya percaya, bahagia adalah contagious.

Life's Good!!!

Life’s Good!!!

Ini bisa dilakukan kalau kita living the moment. Hidup di “masa sekarang.” Menghilangkan semua kekuatiran kita akan masa depan dan trauma akan masa lalu. Apa yang ada di hadapan kita, dinikmati saja. Besok, ada masanya sendiri. Kita diberi kesempatan untuk hidup setiap detiknya sudah merupakan berkah.

“Kamu tahu si X… Orang tidak pernah percaya kalau dia bilang dia sedang bokek dan punya banyak masalah.” X adalah saudara jauh teman saya ini. X pernah terkena kanker payudara dan sudah divonis umurnya tidak panjang oleh dokter. Ternyata, dia survive sampai dengan sekarang. Kankernya juga sudah tidak ada lagi.

“Tapi biarpun begitu, dia selalu saja happy. Punya banyak masalah atau tidak, dia masih bisa makan dengan sangat bahagia. Makanya, orang tidak percaya dia banyak masalah…” Hehehe. Mungkin, bagi orang yang sudah diantara “hidup” dan “mati” persepsi mereka tentang banyak hal akan berubah. Bagi orang-orang seperti itu, yang penting adalah “hidup saat ini.” Nanti atau besok sudah tidak masalah lagi.

Bagi kita semua yang hidup di dunia yang konon super “sibuk”, banyak dari kita tidak lagi hidup at the “moment.” Semakin sedikit dari kita yang bisa menikmati makan dan minum dengan nikmat. Ngobrol dengan teman tanpa terganggung oleh dering telepon atau chatting. Dan malamnya, bisa tidur dengan sangat nyenyak. Kadang saya berpikir, apa sih yang dicari orang itu? Because at the end, all the material belongings won’t matter. Banyak hal-hal yang lebih penting lainnya. Seperti hal baik yang kita lakukan tanpa mengharap imbalan. Hubungan kita dengan sesama manusia. Itulah hal-hal yang lebih penting.

Kemarin sore, hari yang bahagia saya tutup dengan sejam renang dan makan malam bersama dengan seorang teman. Tergiang apa yang dibilang teman saya lainnya beberapa jam sebelumnya, “looks like life’s good ya, Mon?” And, I could not agree more. Life’s good. And always good.

Leave a Reply