Life is All About the Journey

Saya mungkin orang yang sangat beruntung, hampir kemanapun saya jalan, saya selalu pada teman yang bisa saya ampiri. Entah teman jaman apa. Boleh teman SMP, SMA, atau kuliah, teman jaman di US, atau bahkan teman nemu di jalan.

Sudah beberapa saat saya memikirkan betapa beruntungnya saya akan hal ini. Dan, saya sangat bersyukur sekali karena hal ini. Di saat inilah saya benar-benar menyadari arti: I may not be rich, but I have a rich life.

Sampai siang ini saya “diingkatkan” oleh teman saya lewat satu komen Facebook teman SMA saya di satu foto bersama dengan dua teman jaman SMA di Pontianak. “Dimana-mana selalu ada Emon… “

Iya… selalu ada saya. Dan, saya juga selalu bersyukur kalau dimana-mana selalu saja ada teman yang mau dengan sukarela menampung saya: memberikan saya penginapan dan makan gratis. 🙂

Dalam dua tahun belakangan ini, ketika saya jalan di satu tempat, saya selalu bertemu dengan teman-teman saya di masa yang lalu. Ketika saya ke Bangkok kapan hari, saya beruntung bisa bertemu dengan beberapa orang teman saya ketika di US. Bahkan, saya juga bertemu dengan orang-orang baru yang kemudian sekarang menjadi teman-teman baik saya juga. Teman-teman yang selalu siap sedia di Bangkok kapanpun saya ingin selalu jalan kesana.

In Dili with friends...

In Dili with friends…

Ketika saya ke Pontianak, maka tidak elok kalau saya tidak sowan dengan “penguasa” Pontianak, Dian. Teman sekelas jaman SMA kelas 2, pernah jadi tetangga juga jaman kuliah di Unair. Saya tidak pernah membayangkan bertemu dengan dia di Pontianak. Malahan, dulu ketika dia masih di Banda Aceh, saya ingin sekali mengunjungi dia disana. Tidak keturutan. Malahan bertemu dengan dia di Pontianak awal tahun yang lalu.

Kalau saya ke Aceh, saya tidak perlu bingung-bingung lagi karena disana ada “Maher Zain” versi Aceh alias Andriansyah. Dia akan dengan sukarela mengajak jalan-jalan ke daerah-daerah yang pernah terkena tsunami, bahkan sampai dengan ke Lampuuk dan makan mie Aceh yang super enak disana. Benar, mie Aceh sangat enak. Bikin benar lupa diet. :))).

getting together with my roommate in Hua Hin

getting together with my roommate in Hua Hin

Nah, ini sekarang yang masalah… Kalau berkunjung ke Banjar, sudah berkurang satu orang disana… Mamanya Tristan…. Mama Koenyit yang super keren dan menambah jumlah teman yang ada di Samarinda setelah A Yong dan oom Djarot…

Yang paling mengejutkan itu waktu aku ke Dili kemarin untuk ke nikahan teman baikku, Bebe… Di Dili, ternyata tinggal juga teman jaman SMA disana, Jije… yang sekarang sudah sukses jadi dosen disana. Bahkan dia sekarang sudah fasih Bahasa Tetum. Keren kaaaannnn….

with Yui in Jim Thompson House

with Yui in Jim Thompson House

Jugaaaaaa… tidak ketinggalan teman-temanku semuanya yang ada di Bali, Mbak Ayu dan Mbak Jenny… Yang setiap saat aku ke Bali selalu siap “kalap” bersama di Massimo makan es krim dan pasta sampai ga kuat berdiri… Gilaaa… lama banget ya aku tidak ke Bali.

Dan… tentu saja teman-teman yang ada di Jakarta yang selalu siap sedia menampung dan menjadi teman kalau saya lagi mati gaya di Jakarta. Teman-teman Baltyra yang selalu meluangkan waktu kalau saya lagi di Jakarta dan ingin Kopdar di Pondol. Ada juga teman-teman FKHMHII yang uncondiationlly meeting me anywhere in Jakarta.. Tidak ketinggalan Ratna yang selalu siap sedia menemani makan di masakan Jepang favorite sebelah Ibis Arcadia, Midori. :)). Juga, Uncle DT yang selalu siap nraktir aku dengan masakan-masakan Korea for the sake of our life in St. Louis.

in Baluran National Park with Ratna, tandem makan di Midori :)

in Baluran National Park with Ratna, tandem makan di Midori 🙂

Dan…masih banyak teman-teman saya yang tersebar di berbagai belahan tempat di Indonesia dan dunia yang belum saya kunjungi tapi selalu siap kalau saya datangi, hihihihihi. And, I always have a couch to crash in kalau berkunjung, hiihi (GR banget dikasih tumpangan), hehehehe. Seriously, saya berharap, saya bisa suatu ketika minum coklat punya Max Brenner di negeri seberang parit sama teman-teman saya; makan roti Prancis sama Teo di Yangon. Hmmm… apa lagi ya? Ah, mungkin suatu ketika minum coklat panas di salah satu tempat di Pegunungan Andes dengan orang

Saya bahagia hidup saya “diperkaya” oleh orang-orang di sekitar saya; baik di rumah ataupun ketika saya bertemu dengan orang-orang dalam perjalanan saya. Pengalaman-pengalaman inilah yang memperkaya hidup saya. Lalu, nikmat mana yang aku dustakan? Ah, saya sangat bersyukur sekali. Once again, I may not be rich, but I have a rich life.

 

PS: Saya haturkan terima kasih kepada teman-teman saya yang ada di belahan dunia manapun yang pernah menampung saya dan belum saya sebutkan di catatan ini. Terima kasih untuk semuanya.

Leave a Reply