lebaran di kampung kami

kampung kami

Kalau Anda datang berlebaran di kampung kami, jangan berharap melihat opor ayam, rendang, ketupat, sayuran, sambel goreng hati yang mlekoh, dan sebagai macam makanan Lebaran pada umumnya berada di meja-meja kami. Lebaran di kampung kami, biasanya kami rayakan dengan sangat sederhana. Selama berlebaran di tanah air, saya belum pernah menjumpai menu yang begitu lengkap. Justru, menu lengkap Lebaran saya jumpai ketika saya berada di Amerika Serikat. Lengkap dengan ketupat, rendang, opor, sambel goreng, es cendol, dan semua masakan ada di atas meja.

Setelah semalam kami sempurnakan puasa kami dengan zakat fitrah, pagi hari kami bersiap sembahyang di masjid. Nah, inilah spesialnya lebaran di kampung kami; ketika sholat berjamaah di masjid. Setiap rumah, biasanya akan membawa satu ember nasi berkat untuk kenduri. Nasi berkat ini isinya bisa nasi uduk atau nasi putih biasa dengan lauk pauk berupa sambel goreng (kentang, tempe, tahu), sedikit ayam yang digoreng atau dimasak lodho, telur dadar, mie goreng, kacang tanah/tholo goreng, dan serundeng. Setiap rumah hampir sama bawaannya. Kenduri inilah yang kami nantikan. Karena kenduri ini pula, semua orang – termasuk juga anak-anak, akan kerasan berada di masjid.

Setelah selesai sholat, kami akan bersalaman dengan para jama’ah yang ada di masjid. Kami saling memaafkan. Kami saling berurai air mata. Karena kesalahan-kesalahan kami dan karena mengingat orang-orang yang sudah tidak lagi bersama kami. Lebaran tidak pernah gagal membawa perasaan mellow. Setelah selesai bersalaman dan saling memaafkan, kami kemudian mencari tempat duduk untuk membaca tahlil. Eh, sebelumnya, kita akan mendengarkan pesan Idul Fitri dari imam sholat. Setelah itu kami baru membaca tahlil dan yasin bersama-sama.

Lalu, tibalah saat-saat yang juga kita nanti-nantikan… MAKAN NASI BERKAT! Nasi-nasi yang disimpan di dalam madrasah kemudian dikeluarkan satu demi satu dan didistribusikan kepada para jama’ah. Satu berkah biasanya untuk 5 atau 6 orang. Jangan memilih isinya karena kita tidak pernah tahu apa isinya. Kalau beruntung, ya lauknya banyak dan enak. Kalau lagi kurang beruntung, ya nasi dengan sambel goreng saja. Well, tidak ada keharusan sebenarnya nasi berkat yang dibawa isinya seperti apa. Tetapi, umumnya susunannya seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

Saya tidak tahu mengapa nasi seperti ini dinamakan dengan nasi berkat. Mungkin juga nasi yang penuh dengan berkah ya… Karena nasi yang kami makan telah didoakan. Biasanya, nasi berkat memang lebih enak dibandingkan dengan nasi-nasi lainnya yang kita makan.

Setelah nasi terdistribusi, kami kemudian mulai digging in makanan yang ada di depan kita. Paling tidak, kami membutuhkan waktu tambahan 20 menit untuk menikmati sarapan bersama-sama di masjid ini. Kemudian, membutuhkan waktu sekitar 10 menit lagi untuk mencari ember-ember kami. :). Setelah itu, kami pulang bersama-sama ke rumah masing-masing. Eh, jangan heran kalau di kampung kami, kami baru balik dari masjid pukul 08.00 WIB. Kemudian, barulah kami keliling kampung.

Ah, kalau saja ada yang ditanya apa yang selalu saya rindukan dari lebaran di kampung kami adalah nasi berkatnya. Tradisi yang mungkin sudah tidak ada di daerah lainnya. Tradisi yang mampu menggeser adat rendang, opor, sambel goreng, emping, dan makanan-makanan kelas berat lainnya.

Leave a Reply