Lazy Wonderful Day in Wedi Ireng Beach

Banyuwangi sepertinya tidak pernah kehabisan pantai untuk dijelajahi. Dalam kunjungan ke kota yang terkenal dengan tagline “The Sunrise of Java” ini saya memilih Pantai Wedi Ireng. Dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya seperti Teluk Ijo atau Sukamade, pantai ini baru empat bulan dikenal publik.

Pantai ini letaknya Pancer, tidak jauh dari Pantai Pulau Merah yang terkenal ini. Untuk mencapai Pancer, dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dari Ketapang. Namun, begitu tiba di Pancer, kita tidak langsung bisa melihat pantai ini. Yang kita lihat ketika kita sampai di Pancer adalah Pantai Mustika – yang letaknya tidak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer.

Nah, untuk mencapai Pantai Wedi Ireng ini dibutuhkan sedikit usaha yang lumayan keras. Boleh dikatakan, pantai ini letaknya “terpencil.” Hanya ada dua pilihan untuk mencapai tempat ini. Yaitu melalui perjalanan laut dengan speed boat nelayan (perahu jukung) atau trekking lewat hutan kecil milik Perhutani. Saya memilih yang kedua. Yaitu, dengan trekking. Alasannya sebenarnya sederhana, saya sedikit takut naik speed boat yang super mungil itu. Dan, saya sebenarnya memang ingin trekking – sebagai cara saya “balas dendam” karena gagal mendaki Mt. Zwekabin di Hpa-an. Saay sedikit “memaksa” teman saya untuk mengikuti keinginan saya. “Nanti, kalau memang rutenya susah, kita balik saja, dan naik boat kesana.” Teman saya setuju.

PIntu Masuk Pantai Wedi Ireng

PIntu Masuk Pantai Wedi Ireng

Ketika kami memutuskan untuk trekking, banyak orang discouraged kami dengan mengatakan bahwa jalannya sangat sukar dan licin dan nanti bisa terpeleset. Dan, untuk mencapai pantai akan dibutuhkan waktu kurang lebih tiga jam.. WTF.. 🙂 🙂 :). Orang-orang yang berkumpul di TPI tidak putus asa terus mempengaruhi kami untuk naik speed boat saja, tetapi niat kami tidak goyah. Habis, penasaran sih….

It was hell of the path :D

It was hell of the path 😀

Di jalan masuk ke arah Pantai Wedi Ireng kami bertemu dengan bapak-bapak yang jaga jalan masuk. Bapak ini menarik uang tiket sekaligus mencatat nama dan nomor telepon pengunjung. Bapak ini sungguh baik, mengingatkan kami untuk membawa tongkat. Well, pada akhirnya bapak ini mencarikan tongkat untuk kami berdua. Setelah selesai mencarikan tongkat buat kami berdua, tiba-tiba Bapak ini bilang, “Aku kok kuatir kalau kalian berdua pergi sendirian… Habis cewek semua. Apa tidak ada yang menawarkan guide ke kalian?” Kami menggeleng. “Bagaimana kalau kalian aku carikan guide, mau? Aku kuatir sekali…. Kalian cewek-cewek, jalannya kurang bagus….” Kami mengangguk. Bapak itu kemudian meninggalkan pondoknya, mencarikan kami guide.

Here we go, Wedi Ireng...

Here we go, Wedi Ireng…

Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan membawa seorang mas-mas yang akan menjadi guide kami. “Saya Budi, Mbak.” “Eh, ini kalian pada bawa air kan?” Kami mengiyakan sambil menunjukan bekal yang kami bawa. Tidak hanya air, tetapi juga nasi bungkus yang kami beli di jalan dan rambutan hampir 2 kg. 😀 😀 😀

Lalu, bersiaplah kami berdua untuk trekking dengan dipandu Mas Budi ini. Kondisi jalan seperti yang digambarkan oleh Bapak-bapak tadi, cukup berlumpur dan licin sekali. Kami melewati jalan setapak yang lumayan juga naiknya. Lumpurnya juga lumayan parah karena hujan malam sebelumnya. Lumayan ngos-ngosan juga. Meanwhile, Mas Budi dengan santainya jalan sambil menghisap rokok. Ironis dengan kami yang memburu nafas. :)) :)) :)). Setelah kami berjalan naik untuk sekian lama, kami tiba di puncak bukit.

They look great, don't they? :P

They look great, don’t they? 😛

Kami minta waktu break sekitar 10 menit kepada Mas Budi. Lumayan buat tarik nafas dan minum air.  “Ohya, setelah dari sini, nanti jalannya turun terus… Harus lebih berhati-hati” Mas Budi mengingatkan. Memang, logikanya jalan yang menurun lebih berbahaya dibandingkan dengan jalan yang naik. Apalagi di jalan setapak yang sangat licin. Ini kemudian terbukti. Jalan turun memang tidak menguras tenaga, tetapi dibutuhkan lebih ekstra hati-hati. Selain jalanan yang licin, juga terdapat banyak akar pohon-pohon yang muncul di sepanjang jalan. Pilihan jalan kami berdua harus mepet ke sisi kiri atau kanan sekalian. Karena, jalur tengah sangatlah becek dan slippery. Dengan berjalan melipir di sisi kiri dan kanan, kami juga bisa berpegangan di akar pohon-pohon yang menjalar sambil terus menggunakan tongkat kayu kami. Jalan turun lebih lambat ketika turun dibandingkan ketika naik. Sepatu saya warnanya tidak lagi hijau, tetapi coklat penuh dengan lumpur.

It was hell of the path.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, ombak laut mulai terdengar di kejauhan. Waaaaaaa… semakin tidak sabar untuk melihat pantai. Tidak lama kemudian, mulai melihat pantai di kejauhan. Oh My Goodddddd… It’s indeed a beautiful beach!!!! 🙂 🙂 :). Dari kejauhan, sudah nampak hamparan pasir putih. Ombak yang bergulung memecah pantai. Air yang biru kehijauan.

"The cure of everything is salt water: sweats, tears, or the sea" -Isak Dinesen

“The cure of everything is salt water: sweats, tears, or the sea” -Isak Dinesen

Barang bawaan ditaruh, dan mulailah tubuh masuk ke dalam air asin. Saya tiba-tiba saja teringat quote favorite saya dari Isek Dinesen, “The cure of everything is salt water: sweats, tears, or the sea…” Memang, air laut merupakan penawar dari apapun. Bahkan kalau menurut para naturalist, air laut juga bisa menjadi penawar buat black magic. Saya tidak pernah tahu alasan mengapa saya begitu suka dengan laut. Meskipun, saya sebenarnya takut ketika harus berhadapan dengan air laut. Karena, saya tidak bisa berenang. Ingat beberapa tahun yang lalu ketika di Washington DC, bertemu dengan Agni dan suaminya, Sam. Sam tidak terkejut ketika saya bilang kalau saya tidak bisa berenang. “Orang Indonesia ini aneh. Menyebut “bertanah air” mestinya ada tanah dan airnya. Tetapi, banyak orang Indonesia yang tidak bisa berenang. Hmm.. Kamu pasti orang Jawa ya?” hehehe. Sumpah, saya benar-benar tertohok. Tetapi, ya begitu, belajar renang masih saja menjadi agenda dan rencana saya yang tidak segera dilakukan. Ketika bertemu brondong di kampus, dia juga orang terkejut saya tidak bisa berenang. “Iya, saya ajarin nanti… “ Belum sempat diajarin, dia sudah balik duluan.. 😀 😀 :D.

"I'm longing to be you and by the sea, where we can talk together freely and build our castles in the air" -Bram Stoker, Dracula

“I’m longing to be you and by the sea, where we can talk together freely and build our castles in the air” -Bram Stoker, Dracula

Anyway, meskipun saya tidak bisa berenang, saya tetap mencintai pantai. Saya cukup bahagia hanya dengan bengong duduk di pantai. Kadang juga snoozing. Ketiduran di pantai sungguhlah enak. Apalagi di pantai sesepi Wedi Ireng. Hari itu, nyaris tidak ada pengunjung selain kami berdua dan para nelayan lokal Pancer. Kalaupun ada beberapa orang pengunjung, mereka umumnya datang dengan speed boat, berada di pantai setengah jam, foto-fotoan, dan kemudian meninggalkan pantai dengan speed boat lagi.

"I must be a mermaid, Rango. I have no fear of depths and a great fear of shallow living" -Anais Nin

“I must be a mermaid, Rango. I have no fear of depths and a great fear of shallow living” -Anais Nin

Yang saya lakukan di Wedi Ireng tidak jauh berbeda dengan yang saya lakukan di Dili. Saya duduk bengong di pantai dan tiduran. Tapi kali ini ditambah dengan masuk ke dalam air dan meditasi. Angin laut yang berhembus membuat kepala menjadi sangat ringan; tanpa beban pikiran sama sekali. Pantai yang sepi memang membuat saya benar-benar seperti “orang bodoh” karena tidak melakukan kegiatan apa-apa sekalian berbaring di tepian laut di pasir putih yang sangat lembut. Setelah air laut surut, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di seputaran karang yang ada di situ. Kalau tidak begitu, mengobrol bersama para nelayan lokal. Ohya, sebenarnya ada satu hal lagi yang bisa dilakukan di Wedi Ireng

Ini speed boat yang kita tumpangi...

Ini speed boat yang kita tumpangi…

Pada awalnya, kami memutuskan untuk menunggu sunset dan pulang naik speed boat. Tetapi, lama-lama saya berpikir, apa enaknya di laut malam-malam. Sejujurnya, saya sedikit takut Jam 6 sore, biasanya pantai sudah kosong. Semua penduduk yang ada di pantai itu sudah kembali lagi ke Pancer, kecuali kalau ada rombongan orang yang sedang camping. Dengan berbagai pertimbangan, saya membujuk teman saya untuk kembali sebelum gelap. Lagian, pada hari itu, langit tertutup awan tipis (meskipun tidak mendung). Dan, matahari tersembunyi di balik awan itu. Untungnya, teman saya setuju untuk kembali lebih cepat. Menurut cerita Mas Budi, sebelum sunset, burung-burung rangkok putih dan ratusan kelelawar akan keluar dan bermunculan dari sarang mereka. Ah, kami harus melewatkan itu. Tetapi tidak apa, asal saya merasa lebih tenang, hehehe.

amazing beach behind the reef

amazing beach behind the reef

Sebelum naik ke speed boat, saya wanti-wanti kepada Rizal agar kami berdua diberi life vest. Dia ketawa-tawa saja. Dan kami diberi life vest. Dan, kapalpun mulai bergerak. Ada enam orang di kapal itu: Mas Budi, pemilik kapal, Rizal, Pak Min, teman saya, dan saya. Ketika meninggalkan bibir pantai, air laut masih sangat tenang. Ketika kapal mulai menengah, gelombang laut mulai terasa. Tidak lama kemudian, kapal mulai terombang-ambing ke kiri dan kanan. Saya mulai berpengangan pada tonggak bambu yang tidak besar. Saya pegang erat-erat. Pak Min – yang sehari-hari berjualan minuman dan pop mie di pantai ketawa-tawa melihat ekspresi saya yang ketakutan. Teman saya lebih gila lagi, dia berdiri di badan kapal. Mas Budi terus menerus bercerita tentang pulau-pulau yang kami lewati. Tetapi, saya sudah tidak lagi menikmati itu semua.

Pantai Pancer

Pantai Pancer

Yang saya inginkan, kami cepat sampai di Pancer. Cepat sampai darat. Titik. Rupanya, pemilik kapal berniat kepada kami. Jalur yang kami tempuh sebenarnya merupakan jalur untuk tur. Kalau orang hanya ke Pancer, jalurnya tidak dibuat memutar seperti itu. Semakin dibuat memutar, semakin saya ingin cepat sampai di darat. Teman saya semakin kegirangan karena lebih banyak pulau-pulau dilewati. Ada beberapa pulau yang kami lalui, seperti misalnya Pulau Bedil, Pulau Mukijo, Pulau Mestika, Pulau Merah, dan sebagainya.

Akhirnya… ketika kapal membuang sauh, saya bisa bernafas lega. Arrived, in Pancer. Hahahahaha. It was hell of the ride!!!! But I was glad, I’ve made it!!! Dengan girang, saya turun dari kapal, melihat pantai yang mulai gelap. Dari kejauhan di Pantai Mestika, puluhan lelaki sedang asyik bermain bola volli pantai.

Bolla Volli Pantai di Pantai Mestika

Bolla Volli Pantai di Pantai Mestika

 

Tips ke Pantai Wedi Ireng jika trekking:

1. Bawa makanan dan camilan sendiri. Karena disana belum ada penjualan makanan (nasi). Yang ada orang jualan minuman, dan kadang pop mie.

2. Kalau Anda memutuskan untuk trekking, pakailah sepatu yang nyaman. Jangan pakai sandal. Kalau Anda memakai sandal, kemungkinan harus dilepas.

3. Bawalah minum yang cukup. Lebih enak kalau bawa wedang jahe. Nikmat diminum di pinggir pantai. Bisa menghalau masuk angin 😀 😀 😀

Leave a Reply