“Kutukan” Anne Frank

antri di depan rumah Anne Frank

Seminggu sebelum saya berangkat, Eva teman saya di Amsterdam mengkontak saya dan bertanya tempat mana yang ingin saya kunjungi di Belanda. “Anne Frank Huis,” jawab saya. Bangunan yang terletak di Prinsegracht dulunya adalah tempat Anne Frank dan keluarganya bersembunyi ketika mereka sedang diburu oleh NAZI. Dari rumah itulah, Anne Frank menuliskan diari-nya yang juga dikenal dengan nama “de Achter Huis” atau rumah belakang. Karena memang bangunan tempat mereka bersembunyi letaknya di belakang bangunan utama. Bangunan utama adalah kantor bapaknya Anne, Otto Frank. Saya tidak tahu mengapa saya jadi terobsesi dengan tempat ini.

Kalau ingin ke rumah Anne Frank, tidak terlalu gampang juga. Karena bangunannya kecil sekali untuk kesana pengujung harus reservasi. Bisa sih tanpa reservasi, tetapi mereka baru bisa masuk setelah jam 4 dan itu harus antri yang panjang. Karena saya malas ribet, ya sudahlah, lihat nanti saya di Amsterdam, pikir saya waktu itu. Ketika saya bilang saya ingin ke Anne Frank Huis, Eva bilang “Okay…” Dan, saya tidak tahu apa yang dia rencanakan.

antrian yang lainnya….

Lucky me, proses ambil bagasi dan cek imigrasi di Schiphol kurang dari 30 menit!. Daebak! Dari landing jam 1, kurang jam 3 saya sudah sampai di rumah Maike, host Airbnb saya di Amsterdam bagian timur. Padahal, dari bandara, saya harus pergi ke Centraal Station, sempat kebingungan cari lokasi bis. Nunggu bis berangkat. Jarak tempuh dari terminal bis sampai rumah Maike sekitar 30 menit. Setelah itu, masih harus jalan kaki lagi dari halte ke rumah dia. Lokasi rumahnya keren. Bolehlah saya bilang, letaknya di affluent neighbourhood. Di depan rumahnya ada sungai besar beserta dock-dock kapal. Kamar saya di bawah di lantai 1, lengkap dengan kamar mandi dan toilet. Maike dan suaminya, Caspar tinggal di lantai 2. Dari kamar saya, saya bisa melihat pemandangan langsung keluar kamar. Asoy bagusnya.

Eva menjemput saya jam 4.30 dan kami langsung menuju Anne Frank Huis setelah kami kelar ngobrol dan tanya kabar mutual friends kami di Surabaya.

Amsterdam di musim panas sore itu tidak ubahnya seperti Surabaya di musim penghujan. Gerimis. Muram. Ah, musim apaan ini. Pikir saya. Untung saya bawa jaket lipat parasut sekalian sama sweater-nya.  Tapi, tuan rumah saya juga baik sekali. Takut saya tidak mempersiapkan diri, dia meminjamkan kepada saya jaket dan payung. Ah, superb host ya…. :).

Turun dari bus di Amsterdam Centraal, kami berjalan kaki ke Anne Frank Huis. Ternyata tempat itu tidak terlalu jauh dari Centraal. Sambil berjalan di trotoar, Eva selalu mengingatkan saya kemungkinan sepeda yang datang dari belakang. Sebagai “kota sepeda”, kalau jalan kaki ngawur, bisa ditabrak sepeda dari belakang juga. Mungkin sama dengan di Surabaya bisa ditabrak sepeda motor kalau tidak jalan kaki berhati-hati.

Berjalan di tengah rintik-rintik gerimis di Amsterdam sangatlah. Susah saya gambarkan dengan kata-kata untuk jalan sore kali itu. Mungkin, saya masih tidak percaya kalau akhirnya saya menginjakkan kaki di Eropa setelah sekian tahun saya mencoba dengan segala cara. Sendirian. 500 meter sebelum sampai di rumah Anne Frank, saya melihat antrian yang cukup panjang. Saya tanya Eva itu antrian apa. Eva menjawab sambil ketawa, “yang mau ke museum….” Eh bujubuneng, orang-orang ini pada antri semua. Gerimis lumayan deras pula. Niat bener ya orang-orang itu. Saya tanya ke Eva apa perlu antri seperti orang-orang di depan itu. “Tidak,” katanya. Kami langsung berjalan menuju ke depan rumah. Akhirnya Eva buka kartu, “Temanku kerja disini. Aku sudah coba telepon untuk bikin janji, mungkin kita tidak perlu antri….” Ohya, hampir lupa, Eva bekerja di Museum Tropis di Amsterdam. Karena keseluruhan museum di Amsterdam dan Belanda sudah menjadi satu jaringan, dengan magic card museum yang dipunyai Eva, menjadi lebih mudah untuk main ke museum. Tapi untuk Anne Frank, Eva sendiri kurang yakin karena dia bukan termasuk museum di bawah pemerintah. Jadi dia tidak bisa memastikan apakah kami bisa masuk atau tidak; atau apakah kami nanti gratis atau bayar.

Madame Tussaud Museum, salah satu lokasi yang kita lewati.

Eva memberitahu petugas di depan pintu (aka satpam), kalau dia sudah janjian sama XXX. Kami dipersilahkan masuk. Eva berbicara dengan mbak-mbak yang ada di meja registrasi. Ternyata kami bisa masuk saat itu juga. GRATIS. Yay! Dengan antusias, saya mulai menaiki tangga-tangga di rumah Anne Frank dan masuk ke ruangan-ruangan yang digunakan oleh Keluarga Frank dan van Pels. Keluarga Frank sendiri terdiri dari Otto dan istrinya Margot, Anne dan kakaknya Margot. Untuk kebutuhan logistik, mereka dibantu oleh Miep Gies, karyawan perusahaan Otto. Otto memiliki usaha yang diberi nama Opektre. Ini adalah perusahaan yang membuat fruit pectin (selain buah). Jadi, di tempat ini, juga dipertunjukkan brosur-brosur promosi selai jaman dulu yang menunjukkan produk-produk dari Opektre. Di dalam achterhuis itu, akan terlihat ruangan yang mereka jadikan tempat untuk makan, tidur, dan sebagainya. Selama mereka bersembunyi, di siang hari, mereka tidak boleh mengeluarkan suara sama sekali karena di rumah depan (kantor Otto), orang-orang dengan aktif masih bekerja. Saya tidak membayangkan itu. Pasti susah sekali untuk berada di posisi mereka saat itu. Tapi, mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan itu. Dan, selama mereka bersembunyi ini, Anne menuliskan diarinya yang terkenal itu. Sayangnya, mereka justru ditangkap beberapa saat sebelum NAZI Jerman menyerah. Keluarga Frank sempat dibawa ke dua camp konsentrasi yang berbeda-beda. Edith meninggal karena kelaparan. Sedangkan Anne dan Margot karena sakit. Otto adalah satu-satunya dari Keluarga Frank yang masih hidup setelah perang selesai dan mereka dibebaskan semua dari camp konsentrasi.

antrian di Anne Frank Huis. Foto ini diambil dari river cruise keesokan harinya.

Saya keluar dari museum dengan perasaan PUAS! Di luar, hari sudah gelap. Eva mengusulkan untuk makan malam. “Bagaimana kalau makanan Belanda. Kamu mau?” Tentu dong… Jawab saya. Eva bilang, kami akan pergi ke restauran yang menyediakan makanan khas Belanda, “Moeders” atau dalam bahasa Indonesia artinya “Ibu.” “Tempatnya ada di sekitaran sini kok…” kata Eva sambi melihat GPS di HP dia. Kami mulai berjalan mencari restauran itu sesuai dengan petunjuk GPS. Untungnya… untungnya… Kami hanya berjalan berputar-putar selama hampir 1 jam tanpa menemukan restaurant itu. Eva dan saya mulai tertawa-tawa. “Sepertinya, kita dapat karma dari orang-orang yang antri panjang tadi Eva…..” Tukas saya sambil mengingat keberuntungan kami untuk masuk ke museum terlepas dari orang-orang yang antri panjang di bawah hujan. “Benar juga…. Kita hanya berjalan berputar disini tanpa menemukan tempatnya…. Duh, karma itu datang lebih cepat dari yang aku kira….” Sambil terus tertawa, kami berjalan hingga akhirnya menemukan “Moeders.” Dan benar, tempat itu tidak jauh dari Anne Frank Huis. Hanya sekitar 2 blok saja… :).

Leave a Reply