konsisten

Untuk melakukan apapun, kita butuh satu hal ini. KONSISTEN. Pola hidup sehat. Disiplin menulis. Olahraga. Rajin mengaji. Apapun itulah. Namun, kadangkala susah sekali untuk melakukan hal yang satu ini. Saya tahu, sebagai seorang dengan high self-determination, saya bisa dengan mudah mengubah apapun diri saya asalkan saya mau. Menjadi konsisten itu adalah hal yang lain lagi. Well, saya sebenarnya termasuk orang yang lumayan konsisten dan telaten. Namun, ketika saya berhadapan dengan perubahan mood saya, itulah yang tidak bisa saya tahan. Mood saya yang kadang suka berubah itulah yang menganggu konsisten saya. Misalnya, konsistensi dalam menulis.

Anda tahu sendiri, saya senang sekali menulis. Sayangnya, itu masih terpengaruh dengan mood saya. Ketika mood menulis saya sedang tinggi-tingginya, dalam sekali duduk, saya bisa menulis dua atau tiga hal yang berbeda. Termasuk kalau sedang rajin update blog. Sekali posting, saya bisa posting tiga atau empat tulisan. Hal ini sudah saya tengarai sejak dulu kala, hehehe. Nah, kalau tidak mood, blog akan dibiarkan terbengkalai. Menulis sih berusaha menulis. Sekian ratus ide ada di kepala, tetapi tidak ada satupun yang keluar dalam bentuk tulisan yang utuh. Hanya satu dua paragraph di atas, untuk selanjutnya dibiarkan tidak diteruskan alias terbengkalai.

Dalam hal tulis menulis, saya sebenarnya ingin menjadi orang yang sangat konsisten. Ya, karena saya suka menulis. Itu saja alasannya. Saya membaca banyak penulis yang sangat disiplin (dan konsisten). Mereka secara konsisten menulis setiap hari. Misalnya saja Giddens Ko, penulis Taiwan yang terkenal dengan webnovel (yang kemudian dibuat film) “You Are the Apple of My Eye” menulis 5000 kata per hari. Nora Roberts menulis dari jam 9 pagi sampai dengan 5 sore setiap harinya. Demikian juga Haruki Murakami (di luar kebiasaan larinya) dan Paulo Coelho (diluar kebiasaan memanahnya). Tidak ketinggalan Leo Babauta dari zenhabits.net atau duo Minimalists, Josh Milburn dan Ryan Nicodemus. Mereka adalah orang-orang yang mampu konsiten dengan apa yang mereka lakukan. Tynan misalnya, untuk menjadikan dirinya orang yang konsisten, dia membuat challenge untuk dirinya sendiri. Yaitu, menulis setiap hari selama 365 hari. Satu hari satu artikel.

Ah, should I try that? It really does not matter with thing I set up or I determine to do something. But again, how will I persist to things that I want to do. J

Leave a Reply