Kerjaanmu Apa? (Selain Jalan-Jalan)

Saya ditanya oleh seorang teman dari jauh dalam salah satu emailnya. “Pekerjaanmu apa saja selain jalan-jalan?” Saya terhenyak… Apa ya pekerjaan saya sebenarnya (meskipun pada akhirnya saya jelaskan ke teman saya apa pekerjaan saya). Meskipun banyak orang di dunia ini yang jalan-jalannya lebih banyak daripada saya, tetap saja saya bersyukur bisa melihat keindahan dunia di luar tempat saya biasanya berada. Rute jalan saya juga cuman “kesitu-situ” saja. Email teman saya ini mirip dengan komentar salah seorang teman SMA saya di Facebook kapan hari, “Eh, dimana-mana kok ada Emon…” Saya jalan bisa sekalian pada waktu kerja, atau memang jalan sendiri. Jalan sendiri tergantung pada kebutuhan dan ajakan teman. Kalau karena pekerjaan, tergantung perintah. 😛

Enjoying the sun and the sand at Area Branca, Dili, East Timor

Enjoying the sun and the sand at Area Branca, Dili, East Timor

Saya kemudian bilang ke teman saya. Sejak kecil, saya memang bercita-cita punya pekerjaan yang memberikan kesempatan pada saya untuk jalan-jalan (jalan gratis dan malah dibayar). Ketika semua anak seusia saya ingin menjadi dokter, insyinyur, guru, atau apalah, saya ingin punya pekerjaan yang memberikan kesempatan pada saya untuk jalan-jalan. Seperti, “panggilan” untuk jalan-jalan itu sudah ada di dalam darah saya sejak saya dilahirkan. Dan, lebih parahnya, ketika saya kecil, saya suka sekali membaca buku-buku yang berisi petualangan-petualangan para penjelajah dunia atau bahkan cerita-cerita fable seperti “Ikut Sang Surya Keliling Dunia” atau cerita-cerita dari negeri yang cukup jauh lainnya. Dalam benak saya sebagai anak-anak, saya selalu ingin melihat bagaimaan tempat-tempat itu. Bagaimaan wujud buah-buah yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Lakhana Village, Hpa-an, Myanmar

Lakhana Village, Hpa-an, Myanmar

Ketika saya mulai tumbuh berkembang dan memulai langkah kaki saya sendiir, saya tahu, saya sudah susah untuk berhenti. Saya sudah kena kutukan para “pejalan.”

Ada alasan mengapa saya susah berhenti jalan:

  1. The magic of traveling & serendipitious moments. Bagi saya, setiap perjalanan selalu memiliki “magic”nya tersendiri. Selalu ada kejadian-kejadian yang membuat saya berdecak “wow.” Entah itu melihat pemandangan yang super indah, ketemu dengna manusia yang super baik, atau bertemu dengan keajaiban-keajaiban lainnya. Well, cara orang untuk melihat ini memang berbeda. Ketika saya berkomentar seminggu di Dili itu serasa “surreal” teman saya hanya bilang, “Ah, masak sihhhh… menurutku biasa saja…. “ Karena cara pandang orang yang berbeda itu, cerita orang selalu saja berbeda-beda. Kalau pulang dari jalan, saya mesti membawa sekeranjang oleh-oleh berupa cerita yang tiada habisnya.
  2. Berjalan membuat saya percaya dengan “humanity” dan masih banyak orang baik di dunia ini. Saya ingin dengan satu kejadian di Dili. Ketika saya sakit kepala dan berada di Area Branca waktu malam. Sudah tidak ada taksi, padahal saya ingin pulang karena butuh segera tidur. Lalu, si mbak pemilik restaurant meminta tolong pada temannya seorang pengendara Harley Davidson untuk mengantarkan saya apartemen. Ah, tidak akan terlupakan naik motor gedhe hanya pakai celana pendek buat lari dan sepatu lari juga. Awkward moment.
  3. Berjalan membuat pikiran saya lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Hehehe… ini tidak perlu dijelaskan bagaimana berbedanya manusia. Ah, Tuhan memang Maha Besar menciptakan bumi dan manusia dengan begitu banyak ragamnya. Dan, perbedaan-perbedaan ini kadang tidak sesuai dengan keinginan kita.
  4. Belajar & mengerti budaya lain. Terutama budaya gastronominya. Ah, saya cinta makanan booo… 😀 😀 :D.
  5. Mengangumi ciptaan Tuhan dan Tuhan memang Maha Besar. Saya merasakan ini hampir di semua perjalanan yang saya lalui. Dengan melihat langit, laut, manusia, dan semua yang saya lihat. Saya bisa melihat itu dengan pikiran yang “kosong”, “netral”, dan tanpa prasangka karena saya keluar dari cangkang saya. Pernah suatu ketika, saya berada di satu bukit di Pantai Sekotong, Lombok. Berada ketinggian di Sekotong ini.. melihat pantai sebening Kristal dan Bali di kejauhan, benar-benar membuat saya speechless.
  6. Berjalan menjadi manusia yang lebih sabar. Berjalan benar-benar mengajari saya untuk slowing down. Eh, ini baru-baru saja ding… Setiap berjalan, harus berhadapan dengan keterlambatan pesawat, kereta, bis yang ngetem, dan apalah itu yang kadang-kadang sangat menguras emosi. Dulu, saya suka ngomel-ngomel kalau itu semua terjadi. Kalau sekarang, ya saya nikmati saja. Kalau berada di bandara dan saya bisa masuk lounge, ya masuk saja. Kalau tidak, ya tiduran saja di ruang tunggu atau di lounge.

    nemu kebun bunga matahari di tengah jalan :D

    nemu kebun bunga matahari di tengah jalan 😀

Bagi saya, setiap perjalanan adalah “pilgrim.” Sebenarnya, ada satu perjalanan yang masih saya sangat penasaran dengan rute pilgrim jaman kuno, “Santiago de Compostela.” Ah, semoga Tuhan terus memberikan kepada saya kesehatan dan kesempatan jalan-jalan… Supaya lebih banyak lagi tempat yang saya kunjungi. Lebih banyak lagi cerita yang bisa saya bagikan: cerita-cerita tentang kebaikan banyak hal.

Leave a Reply