karena saya kepo

mace penjual pinang di Pasar Hamadi

mace penjual pinang di Pasar Hamadi

Dari kecil, saya sangatlah kepo (dan keras kepala). Pernah suatu ketika, untuk membuktikan kalau gigitan ular itu memang benar-benar berbisa, saya memasukkan telunjuk tangan saya ke mulut ular yang ketika itu sedang terbuka dengan lebar. Karena “aksi” ini, seluruh rumah bingung dan saya buru-buru diajak ke tukang hisap bisa. Untung di saat itu, masih ada “orang tua” yang mampu menghisap bisa/racun ular.

Tidak hanya itu, untuk “membuktikan” kalau air sungai yang airnya kenceng itu bisa membuat orang tenggelam, saya pernah melompat ke dalam sungai dalam di depan rumah. Ketika itu, sungai sedang di dikeruk lebih dalam dengan kapal keruk. Tentunya, saya juga hampir tenggelam. Berburu oom saya dan gerombolannya segera menyelamatkan saya. Anehnya, saya tidak pernah menceritakan kejadian kepada kedua orang tua saya. Saksi kejadian ini adalah oom saya yang menjadi mentor kenakalan saya. Selisih 5 tahun, saya kemana-mana main dengan oom saya dan gerombolannya untuk berbuat keonaran di desa. Ingat kejadian ini, saya sering merinding sendiri. Sungai depan rumah saya, termasuk sungai yang lumayan sering meminta “korban.” Biasanya anak yang sedang mandi di sungai.

mulai menggigit pinang

mulai menggigit pinang

Kepo lainnya terjadi sekitar 1.5 tahun yang lalu ketika di Papua. Waktu itu pergi ke Pasar Hamadi. Sudah biasa orang-orang Papua makan sirih dan pinang – seperti nenek saya dua puluh tahun yang lalu. Tahu akan khasiat pinang yang bagus untuk menguatkan gigi, jadilah saya ingin sekali mencobanya. Ih gimana sih rasanya.

Datang ke Pasar Hamadi, saya disambut dengan senyuman para ibu-ibu penjual disana. Beragam orang yang jualan. Ada orang Makassar. Jawa. Dan asli Papua sendiri. Sampai si mace-mace yang jualan sirih pinang, saya bilang kalau saya mau coba makan sirih pinang. Ah, untuknya si mace ada sirih pinang buat tester. Sejenak saya kunyah. Rasanya sensasional. Ada pedes. Ada pahit. Not that bad lah… Sensasinya malah setelah itu. Tiba-tiba saja saya merasakan tanah yang sedang saya pijak bergerak-gerak. Dan, tiba-tiba saya meringis lebih sering lagi. Tertawa-tawa dengan mace-mace di pasar. Duh, kejadian persis di Chicago beberap tahun lalu ketika saya tertawa lebih banyak. Benar saudara-saudara, saya sedang tipsy. Bukan karena wine, tetapi karena sirih pinang. Dengan berpegangan pada seorang teman, saya minta dituntun ke mobil. Di mobil, jadilah saya minum air putih sebanyak-banyaknya. Kemudian dari satpam hotel saya tahu, kemungkinan saya tipsy karena sirih pinang adalah pinang yang saya kunyah kualitasnya tidak bagus. Pinang ini tidak diambil dari pohon, melainkan jatuh ke tanah. Menurut Pak Satpam, the first timer, bisa bikin tipsy. Kalau sudah terbiasa tidak apa-apa. Ketika di Skouw dan ada mace-mace jualan pinang, saya iseng beli saja, pengen coba lagi. Tetapi, saya tiba-tiba males coba, takut tipsy lagi. Sumpah, tipsy itu ga ada enak-enaknya blas… hihihi. Akhirnya, sirih pinang yang saya beli, saya kasihkan ke teman saya yang mace-mace juga yang biasa kunyah sirih-pinang jaman dia muda.

showing off hasi mengunyah

showing off hasi mengunyah

Sekarangpun, saya masih kepo. Kepo yang sama. Bukan kepo urusan orang lho… tetapi kepo untuk selalu mencoba hal-hal baru. Biasanya sih soal makanan dan topic-topik tertentu yang sangat menarik saya seperti minimalis, atau longevity. Gara-gara kepo masalah longevity ini, saya pernah ketemu seorang penganut Seventh Day of Adventis yang terkejut ketika dia tahu kalau saya tahu diet apa yang dianjurkan untuk seorang Adventis dan aktivitas turning-off ketika weekend.

Nah, urusan makanan.. gara-gara kepo saya ini, lemari makan di rumah sudah overflowed dengan berbagai macam jenis bahan. Ini dan itu. For feeding my curiousity dan imagination. Saat ini, saya juga sedang kepo-keponya bikin sendiri beberapa daily/hygiene products yang saya gunakan seperti pasta gigi, deodorant, dan perawatan rambut (hihihi.. maklum, perlu meminimalisir pertumbuhan uban karena maltreatment dulu kala). Kepo yang belum saya praktikkan lagi adalah bikin sabun, hihihi.. jangan sampai ilmu bikin sabunnya hilang deh. Perjalanan feeding my kepo masalah ini, akan saya tulis di post yang berbeda, entah kapan.

definitely looks like someone who's tipsy enough

definitely looks like someone who’s tipsy enough

Karena saya kepo juga, saya jadi ngeh kalau bikin cacao – baik panas maupun cold brew, haruslah diblender kalau mau dapat hasil maksimal. Bahan memang pengaruh, tetapi kalau tekniknya benar, maka minuman yang dihasilkan akan lebih enak. Karena, cacao lebih frothy. Nah, kalau mau yang dingin-dingin, ya habis blendek masukkan kulkas, enjoy cold. Kalau mau anget-anget, habis diblender, let it cool, then reheat for the blended and scrumptious taste. Beneran enakkkk…

Oh iya, kepo itu sebenarnya tidak selamanya jelek. Kepo bisa jadi bagus, asalkan bukan kepo terhadap urusan orang lain. Kepo bisa jadi sumber inspirasi untuk menciptakan hal-hal yang baru.

Leave a Reply