karena mudik selalu epik

angkot dili

Mudik atau pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman memang selalu heboh. Jaman sekarang, mudik tidak hanya dipersiapkan sejak awal Ramadhan. Bahkan, ketika Lebaran masih tiga-empat bulan, orang-orang sudah jauh-jauh hari membeli tiket untuk mudik. Baik itu tiket pesawat, ataupun tiket kereta api. Kadang berebut tiket mudik seperti berebut beras di masa-masa resesi parah. :).  Di Indonesia, mudik menjadi the biggest human migration. Mungkin hampir sama dengan mudiknya orang-orang di China daratan ketika Imlek.

Mudik menjadi satu kewajiban sosial dan budaya bagi sebagian besar orang di Indonesia. Sudah waktunya pulang kampung. Taking a break dari kesibukan selama satu tahun penuh. Saatnya menjalin tali silaturahmi dengan sanak-saudara yang mungkin juga jarang pulang kampung juga. Mudik Lebaran merupakan saat-saat yang dinanti-nantikan. Mereka yang sudah satu tahun membanting tulang di ibukota dan menabung sedikit demi sedikit gaji setiap bulannya.

Mudik juga menciptakan problem baru bagi mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan para asisten rumah tangga. Belakangan, ini menjadi masalah serius. Karena, kepulangan ART ke kampung halaman bisa menjadi pengganggu kestabilan rumah tangga. Para nyonya-nyonya yang sebelumnya tidak pernah mencuci piring dalam satu tahun, pada akhirnya harus turun tangan mencuci piring kotor. Anak-anak yang tidak pernah sekalipun memegang gagang sapu dan mop, harus mengepel rumah yang luasnya bejibun. Sedangkan si bapak, tiba-tiba harus mencuci mobil dan menyiram tanaman. Well, peran ini bisa berubah: ibu mencuci mobil, bapak mencuci piring, dan anak-anak mencuci baju.

Di saat mudik inilah, kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya seperti kota mati. Syahdu sekali kota-kota ini di kala mudik lebaran.

****

angkot dili-1

Paling tidak, saya punya dua kisah mudik yang tidak terlupakan. Benar-benar cerita yang sangat epik. Nah, yang paling epik adalah ketika mudik dengan naik bis bersama dengan seorang teman. Kita berangkat dari Karangmenjangan ketika itu sekitar jam 5.30 pagi. Seperti biasa umumnya orang mudik, kami membawa bangkelan. Ah, benar-benar tidak simple sama sekali. Karena bangkelan kita ini, kita pergi ke terminal Bungurasih dengan naik taksi.

Ketika kita sampai di terminal, kita dikejutkan oleh bis yang tidak ada sama sekali di arena pemberangkatan. Kalaupun ada, itu sudah penuh dengan penumpang dan hanya menunggu untuk diberangkatkan saja. Ternyata, bis-bis sudah diserbu para penumpang di lokasi penurunan penumpang. Kamipun menggotong bangkelan kami kesana. Bis PATAS AC sudah habis. Hanya tinggal bis ekonomi yang tanpa AC. Ya sudahlah, kami pasrah saja. Daripada tidak ada bis dan masih menunggu lebih lama lagi.

Bis panas sekali. Sumuk. Karena panas ini, jendela bis kami buka lebar-lebar. Angin memang bertiup dengan kencangnya. Tidak lama kemudian, saya mulai merasakan perut sedikit kembung, ingin kentut, perut mual-mual, dan keringat dingin mulai mengucur dengan deras di tubuh. Saya berusaha untuk menahannya, karena tujuan masih separo jalan. Saya berusaha menahan dengan keras.

Semakin keras ditahan, semakin hebat serangan panas-dingin-mules-mual itu. Akhirnya, ketika bis sudah mulai memasuki Tulungagung, saya sudah benar-benar tidak tahan. Saya berbisik kepaad teman saya, “Eh, aku sudah tidak tahan. Kayaknya beneran harus turun disini deh… Kalau kamu mau terus, tidak apa-apa….” Teman saya menggeleng dan ingin ikutan turun bareng. 🙂

Kami turun di random place. Satu rumah yang paling dekat dengan tempat kami diturunkan bis, saya langsung berlari ke rumah itu. Seorang bapak-bapak sedang berada di teras rumah. Sedang bersantai. Saya bertanya kepadanya, apakah dia memiliki WC. Dia bilang iya. Saya-pun ijin apakah saya bisa menggunakannya. Dia mempersilahkan saya menggunakan fasilitas di rumahnya itu.

Akhirnya, legalah beban yang sudah lama saya tahan ini akhirnya keluar juga. Rasanya plong banget. Setelah itu, dengan tanpa merasa berdosa, kami meneruskan perjalanan dengan naik bis. J

Nah, cerita lainnya juga berkaitan dengan epic di jalan raya. Waktu itu mudik nunut keponakan ibu kos saya. Ibu kos saya juga ikutan juga di mobil itu. Mobil yang digunakan mudik adalah mobil yang sudah saya tua…

Mobil keluar dari Surabaya dengan pelan. Perjalanan awalnya sangat lancar. Tidak ada hambatan yang berarti meskipun mobil berjalan dengan amat pelannya. Namun, tiba-tiba ketika mobil memasuki kawasan sawah nan panas di Mojokerto, tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Mobil tidak bisa lagi di restart. Sangat bandel. Kami juga jauh dari bengkel. Panasnya juga minta ampun. Tidak ada AC di mobil. Dan matahari bersinar dengan generousnya. Hahahaha. Duh, di kala seperti ini kami sangat membayangkan teh botol  Sosro atau es kelapa muda. Ah, pasti idenya sangat menarik. Sayang seribu sayang, kami jauh dari mana-mana. Karena panas dan kami sudah sedikit mengalami dehidrasi, kami memutuskan untuk keluar dari mobil saja. Sambil berharap segera ditemukan bengkel. Well, si sopir sedang mencari bengkel terdekat.

Setelah “nongkrong” di jalanan panas selama satu jam, akhirnya mobil bisa berjalan kembali. Kami merasa lega. Kami berdoa, semoga mobil ini tidak lagi mogok di tengah jalan. 🙂

 

Leave a Reply