kalap

Saya sedang mengevaluasi, dimana titik-titik lemah impulse belanja saya bisa muncul. Ternyata, bukan di toko baju, toko sepatu, atau toko tas. Kalau sampai “kalap” di toko-toko ini, berarti sebenarnya saya membutuhkan sesuatu, tetapi kadangkala pas beli tidak pakai mikir dengan benar-benar. Eh tapi dulu sering sekali, kalau mengantar teman belanja, bukannya dia yang pulang membawa rentengan, tapi lha kok sayaaaaa???!!! Teman-teman saya sering tertawa puas melihat saya. Karena merasa berhasil menjadi “setan.” Tapi karena sekarang saya sering decluttering, jadilah kalap yang ini agak jarang terjadi. Ini saja butuh undie dan ikat pinggang saja males sekali belinya.

Tetapi, memang ada tempat-tempat yang jauh lebih berbahaya impulse saya bisa datang mendadak, dan tanpa berpikir lagi dengan matang: situs pesawat terbang dan belanja grocery (baik itu di pasar, supplier langganan, supermarket, atau toko online). Sekarang, saya juga harus mulai mengantisipasi belanja perlengkapan dan bahan-bahan baking, hehehe. Tapi untuk yang satu ini, saya sebenarnya bisa menggunakan hasil kalap saya. Kalau di toko grocery, kadang sering menemukan diri membeli sesuatu, tetapi sebenarnya juga tidak membutuhkan. Catat saudara-saudara, TIDAK MEMBUTUHKAN!!!

Alasannya gampang sekali, karena saya kepo dengan rasanya. Saya ingin tahu sebenarnya bagaimana sih rasanya. Yang lebih parah, terkadang malah tidak tahu bagaimana cara memasak bahan itu. Akhirnya, googling menjadi dewa penyelamat saya bagaimana memasak bahan itu. Kalau yang ditemukan di google kurang membantu, YouTube lah yang jadi the last resort. Kadang-kadang kalau sudah sampai di tangan dan dicoba, “ah, begini toh rasanya….”. Setelah itu, biasanya sudah kepo dan tidak membeli lagi.

Ini terjadi pada ghee atau clarified butter yang biasa dipakai di masakan India atau para healthy food chefs itu. Karena benar-benar penasaran, pesanlah di salah satu toko online langganan. Harganya, tidak masuk akal dibandingkan dengan ukurannya yang sekelumit. Tapi tidak apa-apa, demi kepo. Sebenarnya, dalam kegiatan masak-memasak sehari-hari, ghee ini bisa diganti dengan minyak kelapa. Ya, saya tahu itu.. tapi balik lagi, karena kepo… Ya sudahlah, akhirnya saya beli ghee itu, saya buat masak. Eh, ternyata begini rasanya ya…. Setelah itu ya tidak akan diulangi membeli lagi. Tetapi, dengan kekalapan saya melakukan trial and error didasarkan pada kekalapan, paling tidak pengetahuan saya “bertambah” (halah alasan.. :P). Dan, saya kemudian bisa mengklasifikasikan mana barang-barang atau bahan-bahan yang benar-benar saya butuhkan. Seperti hari ini. Saya memang sedang membutuhkan tepung buckwheat. Di toko online langganan, tepung itu sedang diskon. Ah, lumayan kaaannnn… Sayangnya, untuk memesan, saya harus belanja minimal dalam jumlah tertentu. Ada sekitar satu jam lebih saya mencari-cari apakah yang benar-benar saya butuhkan selain tepung buckwheat. Awalnya mau ini dan itu, sampai kemudian membuat top list. Ada kepikiran membeli tamari. Tamari adalah sejenis soy sauce yang khusus ada di masakan Jepang. Berbeda dengan soy sauce di masakan China itu, tamari lebih tidak asin tetapi flavorful, dan dia juga mengandung sedikit atau bahkan tidak ada gandumnya. Cocok untuk orang-orang yang menghindari gluten. Tamari ini berasal dari proses pembuatan miso. Kemudian say berpikir, berapa sering saya akan menggunakan tamari? Tidak sering kan? Kalaupun mau benar-benar masak, sudah ada soy sauce, dan saya tidak ada masalah dengan gluten. Eh untuk rasa, saya sebenarnya bisa menggunakan garam laut, atau bahkan bisa digantikan dengan fish sauce. Dibandingkan soy sauce, saya lebih suka fish sauce. Masakan Jepang paling banter yang saya buat adalah miso soup, dan saya sudah punya miso di rumah. Bottom line, saya jarang menggunakan ini. Kalau ditimbang, saya lebih memilih Aminos punya Bragg’s. Sayangnya, produk yang saya inginkan sudah habis. Bergantilah saya ingin membeli spices kering. Ada dua yang saya inginkan sekaligus butuh: bubuk kunyit dan jahe merah. Tetapi setelah ditimbang-timbang, negara saya ini cukup kaya dengan bahan-bahan segar, tetapi mengapa saya memilih membeli produk kering?! Toh, saya juga tiap hari untuk menggunakannya. Selain itu, seperti jahe misalnya, saya terbiasa sedia yang segar. Lebih enak… Setelah saya timbang-timbang, intensitas saya untuk menggunakan itu akan jarang.

photo-4

Nah, akhirnya pilihan saya jatuh pada cacao powder buatan Bali. Meskipun saya sudah punya produk coklat artisan langganan, produk coklat yang saya pesan ini enak dibuat untuk campuran cold brewed. Jika saya bandingkan dengan satu bahan atau campuran, hasilnya lebih enak dengan bahan yang di mixed. Karena rasanya lebih outstanding. Yeah, dari dulu saya terkenal dengan julukan master oplosan, hehehe.

Akhirnya, kali ini, saya hanya men-check out dua jenis barang saja. Dibandingkan biasanya, saya cukup mindful. Kalau ditanya, hanya tepung itu saja yang benar-benar saya butuhkan. Tapi apa daya, saya tidak bisa membeli sendirian barang itu karena harganya tidak memenuhi pagu. J

Nah, kalau masalah tiket pesawat, jangan ditanyakan lagi. Hasilnya, saya sering membeli tiket di luar rencana. Beli tiket dulu, rencana kemudian. Hahahahaha… Pernah juga “buang” duit karena tiba-tiba saja tidak jadi pergi. Hihihihihi.

Dari pengalaman-pengalaman being mindless aka kalap ini saya benar-benar belajar banyak, terutama untuk mengenali kapan impulse-impulse itu muncul. Saya harus benar-benar aware akan hal itu, karena saya bukanlah seorang yang memiliki planning detail. Pun, saya juga bukan pencatat keuangan saya baik. Mencatat setiap sen pengeluaran saya hanya membuat saya tiba-tiba stress. Saya lebih seorang yang spontan. Bahkan, ketika tiba-tiba seorang mengajak saya pergi atau traveling kemana, saya susah menolaknya… Karena pada dasarnya saya juga suka pergi-pergi, hehehe.

Sebenarnya, being mindful tidak hanya ada kaitanya dengan penghematan uang dan menghindari hutang, tetapi lebih pada bagaimana kita lebih ‘sadar’ terhadap keputusan-keputusan kita, terutama keputusan-keputusan untuk membeli sesuatu.

Leave a Reply