Kalap Jajan di Jepang

Saya sudah memprediksi, kalau di Jepang bakalan kalap jajan. Bukan kalap belanja. Mengapa begitu? Saya tidak punya cukup banyak duit untuk belanja gila-gilaan di Jepang. Kedua, saya malas bawa barang belanjaan yang berat, kan? Ini mah sudah bukan rahasia lagi kalau saya malas bawa yang berat-berat. Jadinya, kalau pergi ya se-light mungkin. :). Solusinya, ya makan dan jajan di tempat yang bisa dilakukan. Selain itu, makanan hidangan atau khas setempat bisa menjadi memori yang indah buat saya. Cieeee…. Kadang saya heran jika ada orang traveling tetapi tidak pernah makan makanan setempat. Atau, tidak doyan makan sama sekali. Apa ga lapar ya? Saya kalau jalan, biasanya lapar mata, apa-apa dibeli dan dicoba. Terlebih di tempat yang entah kapan bisa balik lagi. Lagipula, tidak ada yang heran, jika saya akan jajan dimanapun saya traveling. I got that reputation. Jadi, sebelum berangkat yang saya konsultasikan sama Mbak Me untuk jumlah uang yang sekiranya saya bawa pasti terkait dengan “cukup ga buat jajan?”

Kalap sudah berawal sejak di Ameyoko – satu kompleks pasar besar di daerah Uenno. Kami saat itu memang sudah sangat kelaparan karena hanya makan hidangan di pesawat yang you know lah. Bahkan sejak di Sinagawa (“tersesat” dan menunggu connecting train to Ueno), saya sudah lapar mata ketika melihat warung burger yang kelihatan dari stasiun. Disitulah pula saya menghabiskan sisa-sisa kue kering yang saya bawa dari Indonesia. Yes saudara, saya sudah kelaparan sekali.

Nah, makanya ketika sampai di Ueno aka Ameyoko, saya langsung merengek buat makan dulu. Kami tidak tahu mau makan apa, yang penting ada makanan. Pilihan kita jauh pada satu restoran yang entah apa namanya lupa. Pokoknya disana kita order ayam goreng, nasi, sop sapi (yang menurutku semacam soup buntut di Indonesia tetapi masaknya dikasih miso, terus ada tamago (telur gulung. Sayang, rasanya manis untuk ukuranku), dan ikan pan fried. Tada! Kami habis ayam goreng dua porsi. Uenaaaaaakkkk…. Nah, di restoran itulah kami baru tahu jika memesan makanan di restoran di Jepang harus order minuman. Tidak seperti di Amerika Serikat atau bahkan di Indonesia. Saya tidak tahu awalnya, tapi di akhir-akhir stay saya di Jepang, saya menduga jika itu karena “mahalnya tempat duduk” di negeri ini. Disinilah juga saya order Suntory, bir asli Jepang. Tentunya, saya order yang alkohol 0 persen. Jadi namanya tidak lagi bir sebenarnya. :). Tapi tidak apalah, marilah kita anggap sebagai bir. Jadi ketika dikombinasikan dengan ayam tetaplah jadi “CHIMEK” aka chicken and beer (mek dari Bahasa Korea “mekju”). Eh ayam gorengnya enak gila. Makanya, kita sampai habis dua porsi ayam goreng. 🙂

Kelar dari situ -sebelum masuk ke pasar Ameyoko, kami mampir dulu di sebuah kedai kopi yang ada di pojokan pasar. Kedainya cukup kecil. Tapi penuh dengan pengunjung, akhirnya kami memesan cappucino dan mocchino latte. Beneran enak kopinya. Saya tidak menyangka kalau di negeri minum teh seperti Jepang, kopinya lumayan juga. Saya tidak tahu, apakah ini kopi lokal atau import. Selain yang di pasar ini, akhirnya kami juga menemukan kedai kopi yang tidak kalah enaknya. Hanya dua blok dari apartemen yang kita. Setiap hari kami melewatinya jika kita ingin pergi ke Stasiun Asakusa. Awalnya iseng coba. Eh, ternyata enak. Ya sudahlah, tiap pagi, saya pasti buang yen disitu. Meskipun di apartemen paginya saya sudah minum teh, tapi saya jajan lagi kopi disitu. 🙂

Selain jajanan kopi, saya juga menemukan satu kedai coklat yang amat enak. Namanya “Cacao Store”. Daerahnya, hmmmmmm… dekat Yoyogi Park. Nemunya tidak secara sengaja karena waktu itu kami ingin naik kereta setelah dari Yoyogi Park mau ke Ginza. Nemu gitu deh… Akhirnya saya mencoba masuk. Isinya semua jenis coklat dari seluruh penjuru di dunia. Tapi alamak, harganya juga mahal-mahal. Akhirnya, saya membeli saja satu cangkir hot chocolate yang boleh saya bilang lebih enak dari yang saya makan di Dresden. Cocoa butter-nya menyembul di permukaan cangkir. This is the best hot cocoa I’ve ever tasted!

Last but but least is baked goods! You may already have known how I love baked goods! Japanese has the best one. I found madeleine cookies that are way better than ones in France – the place the cookies are originated.

 

Leave a Reply