jempol

Beberapa tahun yang lalu, tidak sengaja saya melukai jempol tangan saya dengan pisau. Waktu itu, saya sedang memasak dan setengah melamunkan. Jempol kiri saya yang terpotong pisau itu. Darah yang keluar sangatlah banyak. Waktu itu, berbagai cara aku lakukan untuk menghentikan darah yang keluar. Tapi darah tetap saja terus keluar. Saya memutuskan lari ke klinik di kampus untuk membantu pendarahan di tangan saya. Saya lupa perawatan apa yang diberikan oleh petugas klinik. Yang jelas, darah bisa dihentikan. Jempol tangan saya diperban.

Malamnya, tubuh saya meriang. Demam. Reaksi kalau tubuh saya sedang bertarung dan menghalau kuman-kuman yang masuk ke dalam tubuh saya. Efek lainnya, selama beberapa hari ke depan, saya tidak bisa melakukan banyak pekerjaan dengan maksimal. Mengetik saja susah. Padahal, waktu itu, pas lagi banyak-banyaknya tugas yang harus dikumpulkan.

Bayangkan, itu hanyan kenikmatan jempol saja yang diambil, rasanya sudah sangat menderita. Dalam kondisi seperti ini, saya lalu berpikir, betapa banyaknya nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita – dengan semua organ-organ yang diberikan kepada kita dan tentu saja dengan semua fungsinya. Tidak ada yang sia-sia yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Lalu, nikmat apa sebenarnya yang akan kita dustakan?

Leave a Reply