Ijen Crater: The Unexpected Journey

the magnificent crater

the magnificent crater

PS: Kalau baca judulnya, jadi ingat kisah Bilbo Baggin sebelum mulai perjalanan mencari cincin. 🙂

Hiking ke Ijen ini memang tidak direncana. Benar-benar sangatlah spontan. Saat itu, kita lagi makan di warung Ibu Ipe, terus iseng saja tanya ojek ke Ijen. Alasan kami tiba-tiba ingin ke Ijen sangatlah sederhana, “Sudah dekat, nangggung…” Dari pembicaraan dengan para ibu-ibu yang berkumpul di warung itu, palingan kalau ngojek kesana juga tidak sampai 30 menit.

Malamnya, Wima sama Jemb tanya-tanya ke Pak Satpam tentang ojek kesana. Pak Satpam bisa mencarikan kami tiga buah sepeda motor buat ngojek kami kesana.

the trail

the trail

Awalnya, saya agak ragu untuk ikut hiking ini. Apalagi kalau bukan takut membayangkan medannya. Pernah mendengar cerita dua teman yang sama-sama cerita betapa ngerinya naik ke Ijen. “Elevasinya 45 derajat….” Satunya lagi bilang, “Kalau dari level sampai 10, Ijen itu nilainya 8. Kalau Bromo kan cuman 5,”kata teman saya yang naik kesana Mei yang lalu. Wadewwww…. Yang ada di dalam bayangan saya, jalanan menuju ke Kawah Ijen itu amatlah curam. Kiri-kanan adalah jurang dengan jalanan teramat sempit. Waduh, ngeriiii….

Memang, saya juga banyak mendengar cerita yang sebaliknya. Mereka yang cerita sebaliknya akan bilang, “Tidak akan menyesal kok. Berat memang. Tapi worth an effort lah….” Yang bilang kayak gitu itu termasuk guide lokal sana, si Fendy yang aku sempat ketemu dua kali di Banyuwangi. “Rugi mbak ke Banyuwangi ga ke Ijen…” Dia bilang kayak gitu pertama kali sekitar dua tahun yang lalu ketika sama teman ke Banyuwangi buat main ke Taman Nasional Baluran. Aku masih ogah. Bahkan sampai awal tahun ini ketika saya kembali ke Banyuwangi, saya masih ogah ke Ijen. Berkat masih ogah ke Ijen ini, saya nemu Wedi Ireng Beach yang sebenarnya juga tidak kalah tantangannya. Hahaha.

blawan-14

Ya sudahlah, akhirnya saya join dengan mereka. Cuman, saya tidak mau kalau hiking harus mulai jam 1 malam demi blue fire. Saya mau kalau berangkat dari hotel agak siangan gitu, sekitaran jam 4. Lagi males dibangunkan malam-malam. Ya karena tidak rencana hiking, jadinya tidak bawa perlengkapan hiking – even yang sederhana kayak kaos tangan atau topi. Tapi ya sudahlah, berangkat saja dengan perlengkapan seadanya. Untung bawa jaket yang fleece dan anti air plus topi. Eh, masker dan pashmina juga. In case memang dingin, ya tinggal pakai pashmina di telinga.

Jam 4 pagi kami dijemput para “pengojek” kami. Per orang kena Rp. 50 ribu sekali jalan. Kami minta diantar dan ditunggu. Thus, total per orang adalah Rp. 100 ribu. Biar tidak repot kalau kami ingin kembali ke Catimor. Yang akan mengantar kami, Pak Satpam dan dua anaknya. Gilingan, anaknya yang satu cewek. Kerennya lagi, si cewek ini naik Mega Pro alias motor cowok. Eh, akhirnya aku coba si Mbak ini. Ternyata, baru ketahuan kalau si Mbak ini masih sekolah di SMK. Ya ampun, aku pikir….. :))

blawan-21

Perjalanan menuju Paltuding ternyata tidak seperti yang dibilang, hampir 45 menit boooo… Selama itu, kami menembus gelap malam dan dinginnya udara pagi. Jalanan juga naik. Duh, baru kali ini saya dibonceng naik motor di gunung, tidak pakai helm pula. Saya lupa bilang ke pak satpam buat bawa helm. Paling tidak buat saya. Ya sudah, Bismillah saja. Sebelum masuk ke Ijen, kami bertemu dengan satu pos jaga. Kami harus melapor. Errr.. tidak hanya melapor, tetapi kami juga “disarankan” untuk memberi “seikhlasnya.” Entahlah, mel-melan juga ini namanya.

Sesampainya di Paltuding, sudah sangat ramai disana. Kendaraan sudah banyak diparkir disana. Warung-warung juga ramai pengunjung. Tiap warung pakai perapian. Termasuk juga di pos penjaga pintu masuk. Sambil menunggu Wima pipis, aku hangatkan tanganku yang kedinginan di perapian. Eh, lumayan.

Jam 05.00, kami mulai naik ke Ijen. Ternyata, jalanan menuju ke kawah tidak seperti yang aku bayangkan. Memang benar, jalanan luar biasa naiknya. Tetapi, jalanan lebar. Tidak semengerikan yang aku bayangkan sebelumnya. Dan, untuk sampai di puncak, kami butuh naik setinggi 2,799 meter. Ah, lumayan, hampir 3 KM. Kata para penambang belerang, di KM 2, akan ada tempat penimbangan belerang sekaligus warung atau toilet in case kami butuh pipis.

daripada ngenes karena medan berat, mendingan selpie ahh... hehehe.

daripada ngenes karena medan berat, mendingan selpie ahh… hehehe.

Kata bapak-bapak penambang, setelah KM 2, memang jalan semakin curam naiknya, tetapi itu tidak jauh. Eh, tapi gilingan, memang bener naiknya. Pakai banget juga, Mungkin bener juga kata temanku kalau elevasinya itu 45 derajat. Tetapi, setelah jalanan naik itu, jalanan bakalan agak landai sampai dengan puncak. Iyes, bapak-bapak ini benar, setelah tanjakan parah ini, jalanan memang landai, tetapi juga semakin sempit.. hahaha. Agak curam karena di bawah langsung jurang. Jadinya, saya jalan mepet-mepet ke karang. “Ujian” ku semakin berat soalnya ditambah dengan rombongan orang-orang yang naik jam 2 pada turun plus, gledekan buat belerang yang juga berfungsi sebagai “taksi.” Jadi, orang-orang yang tidak sanggup naik atau turun, akan menggunakan jasa taksi ini. Saya lupa nanya berapa ongkos naik atau turunnya. Tapi aku overheard seorang sopir menawarkan ke orang-orang yang disana, Rp. 200 ribu untuk turun. Dan, kalau yang sudah dekat “ Cukup 50 ribu saja…” Saya beberapa kali ditawarin, tetapi saya tolak dengan halus. Pertama, saya tidak bawa duit cukup. Kedua, pasti saya akan teriak-teriak lebih histeris dibandingkan ketika harus jalan sendiri. Mungkin sama dengan kejadian di Tahura itu, saya mendingan jalan meski pelan, atau berhenti ketika capek daripada harus menyerahkan nasib kepada tukang ojek atau taksi dengan jalanan naik-turun curam. :).

VICTORY!! :))

VICTORY!! :))

Ketika mendaki ini, saya sempat berhenti beberapa kali karena memang naiknya curam. Saya istirahat dan minum air dulu. Orang-orang yang sudah turun pada bilang, “Semangat Mbak…” Bahkan seorang ibu-ibu dengan lebaynya bilang “Serasa tadi mau mati…” hehehe. Ketika mendaki pula, saya mencoba menerapkan untuk melakukan dengan bawah sadar saja. Kadang-kadang it works juga. Jadi, ketika naik itu, aku mencoba membuat mindsetku tidak sedang naik. Tetapi berjalan saja di tempat landai. Dan, ketika berjalan mencoba tidak menggunakan tenaga. Cuman, sering missed-nya, hehehe.

Ketika naik itu, saga baru saja sadar, kalau sebenarnya hiking stick atau kayu sederhana memang dibutuhkan. Sehari sebelumnya ketika menyisir sekitaran Kampung Blawan, saya membawa kayu. Dan, lumayan bisa membantu. Eh, saya kadang tidak habis pikir banyak orang yang naik pakai sandal jepit. Aku yang menggunakan sepatu lari saja masih sering terpeleset waktu turunnya, bagaimana dengan orang-orang ini ya? Apa tidak sering terpeleset ya?

blawan-17

It took me 1.5 hours to get to the crater. Wima dan aku tidak lama-lama berada di atas soalnya belerang semakin tebal. Waktu baru sampan di puncak, kami masih bisa melihat kawahnya. Ketika kami tinggal santai sebentar buat makan wafer untuk merayakan perjalanan ini, eh… kawah sudah tidak kelihatan lagi. Bau belerang semakin tajam. Angin juga lumayan kencang di atas. Setelah agak puas berada di atas, kami memutuskan turun. Ketika turun itu, kami melihat Jemb mulai berjalan ke arah puncak. Selama naik ke puncak ini, kami tinggalkan Jemb di bawah. Atau lebih tepatnya, Jemb minta kami untuk naik terlebih dahulu. Di jalan-jalan awal, kami kadang-kadang masih menunggu dia agar jarak kami tidak terlalu jauh. Tetapi, lama-lama kami kehilangan jejak dia. Ketika sampai di puncak, kami mikir, “Jemb gimana ya….”

view dari ijen

Syukurlah, she made it to the top at last. Kami bilang ke Jemb, kalau kami menunggu di bawah karena tidak tahan dengan bau belerangnya. Benar, perjalanan ke bawah juga tidak kalah beratnya. Karena elevasi yang tajam, ketika turun harus mengerem badan biar tidak jatuh. Beberapa kali saya terpeleset dan nyaris jatuh. Untunglah, saya nemu stick yang ditinggalkan orang. Lumayanlah stick ini bisa bantu ketika turun. Ketika hampir sampai entrance, aku kasihkan stick itu ke orang yang mau naik. 🙂

Tapi sungguh beneran lho…. Aku sangat senang sekali akhirnya bisa naik ke Ijen. Tidak bisa melihat blue fire itu urusan nanti. Yang penting sudah naik dulu, hehehe. Memang, medanya berat Tetapi tidak semengerikan yang aku bayangkan. Dan, untunglah, badan saya tidak remek setelah turun. Sebaliknya, enak dan segar. :).

Ih, jadi ketagihan naik. 🙂

Leave a Reply