I Quit Coffee

Dulu jaman masih menjadi coffee junkies, tidak pernah membayangkan akan berhenti menikmati minuman surga ini. Kalaupun saya membayangkan berhenti minum kopi, tentunya akan sangat berat. Sampai saya tidak mau membayangkan bagaimana rasanya tidak minum kopi.

Turkish coffee - Coffee Zone, Columbia, MO

Turkish coffee – Coffee Zone, Columbia, MO

Bagi saya, kopi adalah minuman paling enak di dunia – minuman dari surga yang sengaja Tuhan turunkan ke bumi untuk umat manusia :).

cappuccino Cafe Berlin, Columbia, Missouri

cappuccino Cafe Berlin, Columbia, Missouri

Sebagai seorang junkies, selera kopi saya cukup lumayan-lah. Yang namanya Starbucks atau kedai-kedai kopi internasional minggir semua deh. Kalau di Indonesia, saya lebih prefer yang ngemper-ngemper karena mereka kopi goreng dan grinding sendiri. Rasanya super mantap dan sangat nendang. Nah, kalau jaman di US dulu kalau jajan kopi suka mencari kedai-kedai yang lokal – bukan franchise brand. Pasti rasanya beda. Mereka juga pakai merk-merk yang tidak lazim – dan biasanya diambil langsung dari petani dan menganut paham fair trade. Jadi, meskipun harganya agak mahal, saya percaya kalau sebagian uang dari pembelian kopi itu akan masuk ke petani.

fair trade coffee -Flow Share, De Loop, St. Louis, MO

fair trade coffee -Flow Share, De Loop, St. Louis, MO

Kalau mau traveling ke suatu tempat, informasi yang segera saya cari di internet adalah dimana ada kedai kopi lokal yang enak. Dan, tempat itu akan menjadi highligt kunjungan ke kota tersebut.

Jaman awal-awal di US sempat sengsara juga karena tidak nemu kopi seperti di kampung halaman. Jaman packing, kopi memang sempat dimasukkan beberapa kantong, tetapi habis dengan cepat karena sehari saya bisa ngopi dua-tiga kali dengan tingkat kekentalan yang mengerikan. Akhirnya, mencari-cari di internet dan sempat pesan kopi online – kopi dari Kona, Hawaii. Lha, waktu datang kopinya ternyata masih dalam bentuk biji. Karena saya tidak punya grinding saya jadi males mengolahnya. Akhirnya, kopi itu saya bawa oleh-oleh ketika saya berkunjung ke rumah teman di luar kota.

Saya juga sempat mencoba ini dan itu kopi, yang akhirnya juga tidak terminum karena tidak enak. What a waste. Eh, jangan kuatir, tidak saya buang kok. Tapi saya hibahkan ke teman-teman saya yang berkenan.

Kayak Coffee -Forest Park, St. Louis, MO

Kayak Coffee -Forest Park, St. Louis, MO

Ketika persediaan kopi saya semakin menipis, saya semakin kuatir. Sampai suatu ketika saya pergi ke grocery store punya orang Lebanon yang menjual daging halal. Disanalah si penjual yang sekarang saya sudah tidak ingat lagi namanya menunjukkan kopi Lebanon Al-Najjar. Ada yang pure kopi, ada yang dicampur dengan rempah-rempah (cardamom). Maka saya coba sebungkus kecil. Eh, ternyata enak. Jadi deh saya kulakan kopi Al-Najjar ini. Jadi, saya tidak lagi kuatir ketika Excelso saya habis. Hahahaha. Nah, karena menurut saya enak, kopi ini saya promosikan kemana-mana. Saya juga suka bagi sama yang mau. Eh, satu orang yang saya bagi komentar, “Duh, aku kurang suka kopinya. Kayak ada rempahnya gitu… ” Hihiihhi. Ternyata selera Jawa sama bule beda kalau urusan kopi. 🙂

Di saat saya menemukan kopi ini, saya juga mulai kecanduan cappuccino di kampus yang dijual oleh Shannon di Social Science Building Lantai 2. Duh, enak banget mpoookkkk…. Kalau lagi bosen sama kopi di rumah atau kopi yang dibawa sudah habis, maka kopi Shannon bisa menjadi penyelamat.

Common Ground Coffee, Denver Colorado

Common Ground Coffee, Denver Colorado

Karena saya sadar kopi Amerika tidak terlalu enak, maka kalau saya menginap di rumah teman saya atau saya diundang dinner atau pas traveling, saya pasti bawa sendiri kopi itu. Sangking ketagihannya. Sangking kalau tidak ngopi menjadi cranky. Eh, tambahan, manfaat kopi yang saya bawa kalau diundang dinner adalah buat obat tipsy. Cepat banget sembuhnya.

Kopi menjadi bagian penting dari kehidupan saya – sebelum dan ketika menjadi mahasiswa S2. Karena kopi juga saya kenal asyik dengan beberapa orang. Sambi ngopi, sambil ngobrol. Terutama kalau di kampus. Nah, kopi kampus ini memang terkenal super enak. Ketika Mbak Rachel Fellabaum datang dari DC ke St. Louis, hal pertama yang saya tawarkan adalag kopi Jeng Shannon. Komentarnya, “Gila, enak banget kopinya. Saya sampai melek dan aware ga karu-karuan.” Semoga ini bukan gratifikasi ya… 🙂

Warming Hut, Golden Gate, San Francisco, California

Warming Hut, Golden Gate, San Francisco, California

Begitulah affair saya dengan kopi. Bittersweet. 

Saya tidak tahu mengapa saya suka kopi. Mungkin, seperti yang pernah saya singung entah di tulisan mana. Saya suka kopi karena pahitnya. Pahitnya yang bisa membuat saya “delusi.” Delusi karena semua hal terasa menjadi sangat indah.

Dan, saya tiba-tiba saja memutuskan berhenti meminumnya. Tingkat kecanduan saya sudah dalam level yang sangat menakutkan. Mungkin, sudah seperti kecanduan pada drugs atau alkohol. Kopi sudah mengambil alih hidup saya. Otak saya seperti aware terus selama 24 jam. Kebanyakan kafein.

Intelgentia Coffee, Chicago, IL

Intelgentia Coffee, Chicago, IL

So, I think, it’s time to stop. 

Susah? Tidak juga. As long as you have a good will. Klise. 🙂

Jadi, sebenarnya keberhasilan saya menghentikan saya dari adiksi kopi ini bisa diterapkan terhadap adiksi apapun. Rokok. Belanja. Dan segala hal yang berlebihan. Well, some people say that it’s okay if I have in moderation. But I said, No. There’s no such a thing called moderation.

Cafe Berlin, Columbia, Missouri

Cafe Berlin, Columbia, Missouri

 

Leave a Reply