How is it like flying in the business class

PS: sebelum membaca keseluruhan postingan ini, biar saya ngaku dulu kalau say anorak dan ndeso.

tiket

Seringkali kalau naik pesawat, mesti lirak-lirik bapak-ibu yang duduk di kursi kelas bisnis. Lalu mikir, gimana ya rasanya duduk di kelas bisnis. Enak ga sih duduk di kursi dan room leg yang lebih luas? Eh, tiba-tiba jadi pengen naik ke kelas bisnis. Tapi beneran, saya maunya gratisan kalau duduk di kelas bisnis. Tidak mau bayar. Begitu bilang saya berkali-kali dalam hati.

Eh, tiba-tiba jadi kenyataan. Meski awalnya terpaksa dan tanpa rencana, hehehe. Tetapi, tidak apa-apa, gratisan beneran.

Piknik saya kemarin dari awal memang sudah di-set sebagai perjalanan yang geje. Mulai dari jadwal yang berubah-ubah, kehabisan tiket ekonomi, sampai dengan akomodasi yang sifatnya “coba-coba.” Karena jadwal yang berubah-ubah ini, saya mesti menunggu jadwal fixed dari teman saya. Nanti keburu saya pesan tiket, tiba-tiba rencana berubah. Awalnya, saya mencoba-coba melihat tiket budget airlines, biar saya pesawat dengan teman saya. Eh, lalu kepikiran, mungkin poin mileage saya cukup buat ke Bali. Saya cek di kantor GA. Kaget juga ternyata poin saya lumayan banyak, hehehe. Ya sudah, semakin bulat niat untuk redeem poin.

Dasar saya yang mau diskon lebih banyak lagi, saya menunggu weekend. Karena, GA promo lebih banyak kalau mau beli tiket pas weekend. Diskon 25 persen untuk redeem poin. Dengan sabar saya tunggu weekend. Eh, ketika giliran pesan tiket, si mbak cantik customer service GA bilang, “Maaf Bu, tiketnya yang ekonomi habis… Yang ada tinggal kelas bisnis saja.. Karena untuk redeem poin jumlahnya dibatasin. Bagaimana, apakah mau yang business class?” Ya sudahlah, daripada saya tidak mendapatkan tiket untuk penerbangan paling pagi, saya ambil saja tawaran si mbak. Sama sesekali ingat keinginan kapan-kapan itu, hehehe.

Setelah tiket di tangan, saya baru berpikir, mengapa orang membeli tiket di kelas bisnis. Secara hitungan harga, memang jauh lebih mahal. Bisa hampir tiga kali lipatnya dengan harga tiket kelas ekonomi.

  • Dibelikan kantor alias perjalanan bisnis. Sepertinya, 80 persen orang yang naik di kelas bisnis adalah dibelikan dari kantornya. Bapak-bapak di kementerian dengan posisi dirjen, pastilah naiknya di kelas yang ini.
  • Redeem poin (gratisan), seperti yang saya lakukan.
  • Terpaksa (karena tiket kelas ekonomi habis, dan ada kebutuhan mendesak).
  • Life-style. Karena memang sudah kelasnya. Katakanlah, orang yang tajirnya tidak ketulungan.
  • Hehehe. Beberapa kali kantor mengundang artis dari Jakarta dan semuanya minta naik kelas bisnis.
  • You’re just lucky! Misalnya, tiba-tiba tiket di-upgrade saat last minutes. Beberapa teman pernah mengalami ini.

Dari hasil pengamatan mengapa orang naik kelas bisnis, yang paling banyak memang tidak membayar sendiri alias gratisan. Baik yang dibelikan kantor, dibelikan yang mengundang (kayak artis), atau mendapatkan gratisan seperti saya. Kalau dipikir-pikir, malas lah mengeluarkan duit untuk membeli tiket kelas bisnis kalau tidak terpaksa bener.

Nah, setelah duduk di kelas bisnis, ada beberapa lesson learned yang saya dapatkan:

  1. It won’t get you any faster (to reach your final destination). Mau naik kelas ekonomi atau kelas bisnis, pesawat sampainya di tempat tujuan akan sama. Yah, memang, ketika boarding atau keluar pesawat, para penumpang kelas bisnis mendapatkan prioritas. Kalau misalnya penumpang ekonomi naik bis, kita dijemput naik van. Dan, kalau ada bagasi lebih diutamakan.
  2. It won’t get you much safer. Naik kelas bisnis juga tidak lebih aman dibandingkan naik kelas ekonomi. Pesawat jenis apapun, ketika dia jatuh, tidak pandang bulu kelas ekonomi atau bisnis. (Knock knock on the wood, semoga tidak terjadi lagi banyak pesawat jatuh itu).
  3. Kursi di ekonomi lebih nyaman. Eh mungkin karena tubuh saya yang petite ini membuat duduk di kelas bisnis tidak nyaman. Kalau di kelas ekonomi, begitu saya duduk, posisi kursi memang sangat pas dengan saya. Punggung dan leher juga lebih nyaman di kelas ekonomi. Kalau di bisnis, tubuh saya cuman di tengah doang, jadi kayak keganjel gitu. Mungkin kalau orang dengan ukuran tubuh besar memang lebih nyaman ya. dudukan juga lebih tinggi. Jadi kaki saya menggantung. Eh, kalau orang suka recline kursinya. Nah, karena di business class leg room-nya lebih luas, kalau mau reclining seat lebih gampang. Tapi ya saya orang yang tidak suka dengan reclining my seats. Lebih enak duduk tegak. Soalnya, saya sering merasa terganggu dengan orang yang reclining seat, jadi saya tidak mau melakukan hal serupa.
  4. Service memang sedikit beda-lah. Yang paling nyata saya lihat adalah, pramugari mau mengambil foto para penumpang yang minta difoto. Ingin ngehek juga lihat pramugari bilang “ayo, senyum-senyum.. lihat kamera lihat kamera….” Coba kalau di Ekonomi. Hahaha. Tidak mungkinlah.

Nah, setelah pengalaman ini, kapok-kah saya naik kelas bisnis? Hehehe.. enggaklah.. tidak apa-apa naik lagi, asal tidak bayar sendiri. Ah, dasar…. 🙂 🙂 🙂

 

 

Leave a Reply