how i simplify my travel

Jawabanya adalah “simplify my travel gear…” Hari begini, memang sangat repot kalau mau traveling. Tidak seperti jaman dulu ketika kalau mau traveling yang dibawa cukup baju beberapa potong; tanpa laptop, kamera, atau bahkan handphone sekalipun. At that time, traveling was so much simpler and lighter.

Kemudian, datangnya era laptop, kamera, dan handphone. Era dimana semua hal membutuhkan kabel dan segala macam aksesorisnya. Kita tiba-tiba saja merasa perlu membawa laptop – terutama untuk traveling karena urusan pekerjaan. Kemudian, kita merasa perlu membawa kamera, karena perjalanan kita butuh diabadikan dalam bentuk foto-foto. Selain itu, bisa buat pamer dan share ke teman-teman dan handai tulan yang lainnya. Dan, tentu saja, orang jaman sekarang merasa aneh kalau traveling tidak membawa handphone. Merasa missed out things happening in the outside world. Juga, merasa aneh ketika unplugging tidak bisa terhubung dengan dunia luar lainnya. Tidak bisa pamer juga kan? hehehehe. Belum lagi yang biasa membawa tablet, alat yang dibawa ditambah dengan gadget ini.

Nah, alat-alat ini dilengkapi dengan kabel, charger, earphone, data storage, dan sebagainya. In my case, ditambah dengan kacamata hitam, recoder, glass straw, stainless bottle water, dan sebagainya. Segala sesuatu yang kecil-kecil kalau dikumpulkan menjadi berat.

Belum lagi baju-baju, aksesoris, peralatan mandi, sepatu/sandal serep, etc etc. Semua yang kecil ini berkumpul menjadi berat dan kadang-kadang membuat perjalanan ini tidak nyaman. Bukannya kita menikmati perjalanan, tetapi justru kerepotan membawa barang-barang ini. 🙂

Nah, I’ve been there lah.

Saya ingat, perjalanan pertama karena urusan pertama kali sekitar 10 tahun yang lalu ke Lombok. Waktu itu baru pertama kali naik pesawat dan dinas luar kota. Maklum, masih newbie di dunia kerja. Masih bingung juga apa yang mau dibawa. Jadilah, membawa tas yang super gedhe. Isinya baju yang jumlahnya dua kali lipat dari lama waktu di Lombok. Terus kemudian juga pernah dalam satu perjalanan membawa koper merah yang super gedhe. Cuman, aku lupa ini perjalanan kemana. Belum lagi waktu itu ditambah dengan membawa laptop kantor yang super gedhe dan berat kayak batu bata merk Dell. Entah Dell generasi ke berapa.

travel gear yang paling penting: duit, paspor, dan tiket :)

travel gear yang paling penting: duit, paspor, dan tiket 🙂

Lama-lama juga baju mengalami downsizing. Meskipun sudah berkurang jumlahnya, tetap saja membawa extra clothes. Nah, laptop sudah tidak lagi Dell batu-bata. Saya ingat pernah ganti yang lebih kecil, Asus EEEPC, tetapi bawaan bertambah dengan kamera DSLR dan beberapa lensa. Wuih, jadi impas dong bawaannya. Apalagi saya bukan tipe orang yang suka bawa koper. Koper itu menurut saya kurang praktis, terutama kalau harus membawanya turun lewat eskalator (sauah banget buat saya), atau harus membawanya menuruni tangga. Berat pastinya.

my Pacsafe bag.

my Pacsafe bag.

Nah, karena saya benar-benar ingin menikmati perjalanan saya, mau tidak mau saya harus simplify my travel gear. Here are some of my travel gears:

  • Laptop: sudah sukses ganti sama si slimmy Macbook Air 11 inch.
  • Kamera: Sony RX 100 sangat tidak mengecewakan. Selain ringan, kualitas gambar tidak kalah dengan DSLR entry level. Kalau perjalanan saya tidak membutuhkan foto sebagai dokumentasi perjalanan aka laporan, saya biasanya tidak membawa kamera. Kalau butuh ambil photo, iPhone can do a good job too taking pictures.
  • Handphone: sementara saya masih membawa dua (GSM dan CDMA). Karena satu telepon berfungsi sebagai call, text, dan email; dan satunya berfungsi untuk modem juga (CDMA). Kalau saya ke LN, handphone yang GSM malah tidak saya bawa, saya cukup bawa yang CDMA.
  • Sepatu: saya cukup membawa satu sepatu saja. Asics running shoes sangatlah multi fungsi. Bisa buat ketemu orang, tinjauan ke lapangan, dan jogging. Saya jarang sekali membawa sandal atau sepatu serep.
  • Baju: saya cukup membawa baju maksimal lima atasan. Kalau kerja saya tidak harus bertemu atau wawancara dengan orang pemda, saya cukup membawa T-Shirt aja. Kalau sampai membutuhkan yang agak resmi, saya membawa kemeja secukupnya. Celana? saya cukup bawa dua potong. Itupun saya sudah jarang pakai jeans (berat bok), paling-paling linen atau katun. Bagaimana kalau saya di daerah itu lebih dari lima hari? Bisa laundry bisa cuci di kamar mandi kalau itu cuman kaos doang. Digantung di kamar mandi, besok paginya sudah pada kering.
  • Tas: saya punya dua tas companion yang cukup durable. Satu ransel Pacsafe orange yang bisa buat naruh gadget yang kecil-kecil dan tas tentang parasut Herschel yang super ringan. Yang bisa dilipat kalau tidak dibutuhkan. Saving space… :).
Sriwijaya Air: satu-satunya penerbangan Indonesia-TL

Sriwijaya Air: satu-satunya penerbangan Indonesia-TL

Nah, kadang-kadang yang masih menambah bawaan itu botol air yang lumayan berat dan glass straw. Juga, bekal makanan… Hahaha. But those are things that minimizing me from making trash and keeping me safe during emergency situation.

Happy travelling everyone!!! 🙂

Leave a Reply