home food = comfort food

my mom's cooking of punten pecel. Muncul pas Lebaran saja.

my mom’s cooking of punten pecel. Muncul pas Lebaran saja.

Kalau saya ditanya, makanan favorit saya sekarang, jawabannya adalah home food alias makanan rumahan. Kalau pertanyaan ini dilayangkan tiga atau empat tahun yang lalu, maka jawabannya bisa jadi sangat berbeda. Duluuuuu… Saya sangat bahagia kalau makan di luar. Berganti dari satu tempat ke tempat yang lain. Setiap hari, saya makan di luar. Entah itu masakan Indonesia atau masakan-masakan lainnya. Makan masakan di rumah paling banter ya waktu sarapan. Atau kalau pas saya ingin makan malam di rumah atau pas weekend dan tidak kemana-mana. Selebihnya, saya makan di luar. Terutama weekend sebenarnya adalah “ancaman” terbesar saya untuk makan makanan di luar rumah. Saya dulu memiliki satu group yang disebut dengan nama “eten en praten” atau “makan & ngobrol.” Jadi, yang kita lakukan ketika weekend (mulai Jumat malam sampai dengan Minggu malam), adalah mencoba gerai-gerai makanan yang ada di Surabaya. Dalam sekali keluar, kami bisa singgah di tiga tempat makan. Kalau hanya singgah di satu kedai, kami biasanya akan makan dengan porsi yang besar dan lengkap – appetizer, main course, dan dessert. Hehehe.. Jangan heran, kalau berat badan saya tidak terkendali meskipun saya pergi ke gym paling tidak empat kali dalam satu minggu. Selain badan tidak terkendali, badan rasanya juga tidak enak dan tidak nyaman. Mungkin itu sebenarnya adalah satu alarm bagi diri saya untuk mengurangi makan masakan di luar yang bumbunya selalu extravagant dengan minyak jenuh, garam berlebih, pengawet makanan, dan penyedap. Satu paduan makanan yang bikin sedap (versi orang Indonesia) sekaligus bisa jadi biang sakit, hehehe.

Vietnamese's crepes aka ban xeo

Vietnamese’s crepes aka ban xeo

Ketika tinggal di US, karena terpaksa, jadilah sering masak sendiri di rumah. Bagaimana tidak mau masak sendiri, kalau makan di luar ya menunya itu-itu saja. Selain itu, rumah saya jauh dari mana-mana. Belum lagi, kalau tiga kali dalam sehari makan di luar, stipend mungkin sudah akan habis di minggu pertama, hehehehe. Kemudian, saya menemukan kalau masak bisa menjadi pelepas stress ketika sedang banyak-banyaknya tugas. Dapur kemudian menjadi tempat paling nyaman dan bisa membuat saya bahagia.

Pulang ke Indonesia, sempat kos sebentar dan merasa stressing out karena tempat kos tidak ada tempat masak yang refresentatif. Karena mulai merasa sulit menerima makanan luar, hehe. Gaya pol pokoknya, hehehe. Dan, kemudian, saya memutuskan untuk pindah yang agak jauh, tetapi saya memiliki dapur yang super luas. Hidup saya kembali sangat bahagia. 🙂

Somali's dishes

Somali’s dishes

Sekarang ini, bukan berarti tidak pernah makan di luar. Pernah sih. Tetapi intensitasnya sudah sangat berkurang. Makan di luar dilakukan di bawah beberapa kondisi. Misalnya, tidak bisa membuat sendiri, terpaksa, atau lagi ngumpul sama teman saja. Itupun biasanya agak pilih-pilih, hehehe. Makan luar, seperti yang sudah diramalkan, pastilah lebih mahal. Karena, warung-warung ini butuh membayar karyawan, pajak, dan mungkin juga sewa tempat. Sedangkan saya palingan bayar gas sama bahan-bahannya. Seperti misalnya salad. Dengan bahan yang bagus, ongkos saya membuat salad segar dan freshly squeezed orange juice tidak habis Rp. 10.000,-. Tetapi, kalau masuk di restoran, untuk dua makanan ini, paling tidak (murah), Anda harus merogoh kocek sampai dengan Rp. 70 ribu. Besar sekali ya perbedaannya. Karena itu, kadang merasa sayang menghambur-hamburkan uang untuk makan di luar kalau tidak sangat terpaksa. Belum lagi, bayangan nikmatnya masakan bukan seperti yang kita idamkan. J.

baked sweet potato with ceyyene pepper and cumin

baked sweet potato with ceyyene pepper and cumin

Saya kadang juga tidak tahu caranya bagaimana membuat makanan tertentu. Yang saya lakukan adalah mengetik makanan yang saya inginkan di search engine. Atau yang paling enak dan saya temukan paling efisien adalah dengan mencari videonya di YouTube. Di YouTube, kita akan mendapatkan tutorialnya. Dengan melihat langsung, akan sangat berbeda dengan hanya membaca teks-teks di internet dan kemudian membayangkannya. Kadang, memang banyak versi untuk membuat satu makanan tertentu. Misalnya saja tomato sauce atau marinara. Saya biasanya melihat beberapa versi, lalu kemudian saya gabungkan untuk hasil yang lebih bagus dan waktu yang lebih efisien. Eh, kadang-kadang juga mendapatkan banyak inspirasi makanan baru dari jalan-jalan di YouTube. Misalnya saja, beberapa hari ini, I’m so glued with a Korean chef named Maangchi. Emak-emak centil ini memperagakan bagaimana membuat masakan Korea yang autentik (setelah iseng googling siapa si emak ini, ternyata dia terkenal banget lhoooo gara-gara videonya di YouTube. Sampai banyak media membuat liputan tentang dia. Kisahnya sangat menarik. Salah satunya di New York Times yang bahkan julukin dia Julia Child-nya Korea) Gila mpokkkk.. saya jadi sangat tergoda. Akhirnya, ya bikin sendiri di rumah. Meskipun saya tahu, rasanya sudah tidak autentik lagi. Tetapi, dengan melihat video-video si emak ini, saya jadi punya banyak inspirasi untuk membuat masakan simple dan lebih sehat.

japcae

japcae

Dengan variasi-variasi ini, bukan berarti saya tidak suka masakan Indonesia lho. Saya tetap penggemar pecel (makanan yang jadi pilihan saya kalau makan di luar rumah). Makanan Indonesia yang kadang-kadang (paling setahun sekali atau dua), yang saya beli adalah masakan Padang Sederhana di Kertajaya. Baru beli makan sudah tidak bisa ngempet lagi mupengnya. Bukan saya tidak suka ya, tetapi, kalau saya makan masakan dengan bumbu extravagant ini, saya tiba-tiba langsung ngantuk dan tubuh saya lemes. Mungkin karena bumbunya yang banyak banget. Jadi, energi di perut saya habis untuk mencerna ayam pop dan gulai sayuran, jadi jangan heran kalau super ngantuk. Makanya, masakan Padang itu save the best for last. :).

delicious Padang food!!!!

delicious Padang food!!!!

Tapi sekali lagi kalau ditanya, makanan mana yang paling enak, saya tetap akan bilang masakan rumah. Karena lebih murah dan lebih sehat. 🙂

Leave a Reply