Hari ini, Jangan Lupa untuk Bahagia

Hari ini, jangan lupa untuk bahagia.

Karena hari ini saya bahagia.

Saya bahagia bisa bekerja dari rumah. Dan, tentunya, saya bahagia memiliki pekerjaan yang memberikan fleksibilitas bisa bekerja dari rumah ketika saya membutuhkannya. Ini berarti, saya bisa menikmati makanan hangat ketika tiba saatnya makan. Bahagia tidak ada yang mendistraksi saya. Bahagia saya bisa melihat birunya langit dan merasakan semilirnya angin, atau panasnya rumah saya yang tanpa AC. 🙂

Pembicaraan saya dengan beberapa teman dalam beberapa hari ini adalah terkait dengan kata “BAHAGIA.” Kata yang sangat sederhana, tapi kadang sangat susah untuk mewujudkannya. Karena, setiap orang, pasti merespon hidup yang seharusnya “sederhana” menjadi lebih kompleks.

Ketika saya tambah “tua”, saya tidak lagi kesengsem dengan orang-orang yang masih muda telah mendapatkan jabatan yang tinggi. Posisi yang tinggi dan segala macam atribut yang melekat masih menjadi impian setiap orang. Wajar ini. Ketika saya lebih muda sedikit, saya hidup dengan penuh ambisi dan untuk bisa hidup seperti The Joneses (baca: seperti yang lainnya). Ambisi seperti ini wajar, karena di masyarakat kita, dalam usia tertentu ketika bertemu dengan temannya, tetangganya, orang tua temannya, atau siapapun juga, yang ditanyakan pertama kali pastinya bukan “Apakah Anda bahagia?” tetapi “Bagaimana dengan pekerjaan? Sekarang dimana? Mengerjakan apa?” etc. Makanya, orang beramai-ramain ingin memiliki kekuasan karena ketika kita memiliki kekuasaan, kita akan bisa mendapatkan apapun, termasuk kebebasan.

Well, tidak sepenuhnya benar lho. Setiap posisi memberikan konsekuensinya tersendiri – terlepas dari power yang dia miliki dan tentu saja imbalan (baca: duit) yang jauh lebih daripada yang saya dapatkan. Tapi, belum tentu, orang-orang ini setiap malam bisa tidur dengan nyenyak, makan dengan nikmat, atau bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Mungkin saya, jauuuuhhhh lebih bahagia dari mereka. Karena saya bisa tidur dengan nyenyak, bisa makan dengan nikmat apapun yang saya makan, dan bisa melakukan apapun yang saya inginkan. Apa coba yang lebih nikmat dari kebebasan?

Teman baik saya, menikah ketika dia berumur 23 tahun. Sebelum dia menikah, satu hal yang dia harapkan dari calon suaminya.. KEBEBASAN. Bukan seorang suami yang bisa memberinya banyak duit tetapi dia tidak bebas. Well, jangan artikan kebebasan yang liar ya… Kebebasan yang kadang-kadang tidak dimiliki oleh perempuan ketika dia sudah menikah dan terlalu sibuk untuk mengurus keluarga. Dan, her wish is granted.

Dan, sekarang saya bisa mengerti apa yang dia maksudkan. Tiada hal yang mengalahkan kebebasan. Satu hal yang belum tentu uangpun bisa membeli. Dalam kasus saya sederhana. Saya bisa bekerja dari rumah. Saya bisa mendalami hobby yang saya sukai. Saya bisa mempelajari hal-hal baru yang ingin saya ketahui. Ya, kebebasan untuk melakukan apapun itulah yang membuat saya menjadi lebih bahagia.

Apapun Anda hari ini, bebas – tidak bebas, saya berharap Anda tidak lupa untuk bahagia hari ini. Karena kebahagian setiap orang itu berbeda-beda.

Leave a Reply